
Srintil adalah seorang ronggeng dari Dukuh Paruk. Usianya sekitar 19 tahun pada 1964. Kehadirannya bak pelepas rindu penduduk Dukuh Paruk terhadap sosok ronggeng. Pasalnya, sudah 12 tahun ronggeng menghilang dari hiruk-pikuk duniawi Dukuh Paruk.
Ronggeng adalah ruh bagi kehidupan Dukuh Paruk. Tanpa ronggeng, kehidupan seperti berjalan begitu lambat. Srintil membuat kehidupan Dukuh Paruk kembali bergairah.
Status sebagai ronggeng lekat dengan urusan “lendir”. Saat mentas, para lelaki dengan syahwat membuncah, berupaya untuk berjoget ria. Mampu meniduri ronggeng adalah sebuah prestasi tersendiri dan ampuh mendongkrak status sosial.
Masa kecil Srintil tak bisa jauh dari kemiskinan. Ia sempat didera kesusahan karena ditinggal mati kedua orang tuanya akibat keracunan tempe bongkrek. Selanjutnya, kakek dan neneknya mengambil-alih peran dalam merawat Srintil.
Babak kehidupan berikutnya, Srintil mengenal Kartareja, tetua kampung Dukuh Paruk. Berkat tangan dinginnya, Srintil diorbitkan menjadi ronggeng dengan reputasi kinclong di Dukuh Paruk.
Keganjilan demi keganjilan perlahan dirasakan Sakarya, kakek Srintil, saat rombongan Ronggeng Dukuh Paruk mulai mengenal Bakar. Bakar adalah orang partai. Ia pandai berpidato dihadapan rakyat jelata. Gaya pidatonya berapi-api.
Bakar acap kali mengundang Srintil bersama rombongannya untuk tampil dalam kegiatan partainya seperti acara rapat akbar, baik saat siang maupun malam hari. Namun, Bakar melarang Sakarya melaksanakan ritual pembakaran dupa atau kemenyan menjelang penampilan ronggeng. Padahal sebelumnya, ritual tersebut selalu mengiringi pentas ronggeng dimanapun. Bagi Sakarya, ritual merupakan hal sakral sebagai bentuk penghormatan untuk leluhur Dukuh Paruk. Melarangnya adalah pelanggaran adat yang sangat fatal.
Suatu hari pada 1963, Bakar mengundang rombongan Ronggeng Dukuh Paruk. Ia menyadari bahwa pentas ronggeng dapat menjadi alat penarik massa. Saat berpidato, Bakar selalu menyebut rombongan Ronggeng Dukuh Paruk sebagai kelompok kesenian rakyat.
Rumah Sakarya pun dipasang papan nama yang mengindetifikasi Ronggeng Dukuh Paruk sebagai kelompok kesenian rakyat. Padahal Sakarya tidak pernah menyematkan nama apapun terhadap Ronggeng Dukuh Paruk. Ronggeng Dukuh Paruk, ya, Ronggeng Dukuh Paruk.
Pada 1964 dapat dikatakan sebagai masa keemasan Ronggeng Dukuh Paruk. Semakin sering mentas dalam kegiatan partai Pak Bakar, Srintil pun mendapat julukan baru sebagai Ronggeng Rakyat. Perlahan tapi pasti, identitas ronggeng Dukuh Paruk semakin terkikis dengan jenama Ronggeng Rakyat.
Bakar memang pandai mengambil hati. Ia pernah memberikan alat pengeras suara bagi kelompok Ronggeng Dukuh Paruk. Ia juga memberikan kain kepada Srintil atau pakaian lengkap untuk Sakum, si penabuh gendang yang buta. Bakar juga memasang papan nama partai di mulut jalan Dukuh Paruk.
Di Dukuh Paruk, Bakar menancapkan pengaruhnya melalui berbagai macam propaganda. Ia ingin memperjuangkan masyarakat tertindas untuk mendapatkan hak-haknya. Ia menawarkan keadilan kepada warga dengan jargon pembagian tanah yang sama rasa dan sama rata. Penduduk Dukuh Paruk manut saja dengan sepak terjang Bakar. Mereka belumlah melek terhadap kontestasi politik pada waktu itu.
Awal Oktober 1965, tersiar kabar para tentara dibunuh di Jakarta. Pelakunya dikabarkan mirip dengan orang-orang semacam Bakar. Angin huru-hara di ibukota akhirnya berembus ke Dukuh Paruk. Tak ayal, Dukuh Paruk mulai dilanda kerusuhan, perusakan, dan pembakaran terhadap rumah-rumah yang sebelumnya pernah berhubungan dengan Bakar. Partai yang berkaitan dengan aktivitas Bakar dituduh sebagai dalang pembunuhan para tentara di Jakarta. Suasana Dukuh Paruk pun mencekam.
Kemudian, Srintil dan Kartareja memberanikan diri untuk melaporkan situasi di Dukuh Paruk kepada aparat di kota kecamatan. Maksud hati ingin mencari kedamaian, Srintil dan Kartareja malah terjerembab pada kenyataan pahit: keduanya masuk target DPO. Nampaknya, Kartareja dan Srintil “kena getah” akibat pergaulannya dengan Bakar.
Dua tahun berselang, Srintil dan Kartareja menghirup udara bebas. Pengalaman di penjara tentu saja mendatangkan trauma bagi Srintil. Pandangan orang-orang berubah drastis terhadapnya. Mereka selalu menghindar saat berpapasan dengan Srintil, takut bernasib sial seperti Srintil. Srintil merasakan hidup dalam sangkar nestapa.
Angin segar menghampiri Srintil saat ia berkenalan dengan Bajus. Bajus dan kawan-kawan datang dari kota untuk mengerjakan proyek infrastruktur di Dukuh Paruk. Bajus tertarik kepada Srintil. Lalu, ia melepaskan panah asmara hingga menancap di hati Srintil.
Ikrar suci yang dijanjikan Bajus membuat Srintil semakin mantap menatap masa depannya. Kehadiran Bajus bak hujan yang menyirami tanah gersang Dukuh Paruk sehingga imaji masa depan yang tumbuh dalam diri Srintil mekar dan merona.
Ternyata, realita tak seindah bayangan Srintil. Upaya Bajus mendekati Srintil hanyalah modus belaka. Bajus berniat menjadikan Srintil sebagai objek gratifikasi seks bagi bosnya, Blengur, demi mengegolkan proyek pembangunan. Srintil tentu saja bergeming.
“Kamu orang Dukuh Paruk mesti ingat. Kamu bekas PKI! Bila tidak mau menurut akan aku kembalikan kamu ke rumah tahanan. Kamu kira aku tidak bisa melakukannya?” hardik Bajus kepada Srintil karena menolak perintahnya.
Ancaman dan kata ‘PKI’ dari mulut Bajus bak mengorek luka lama yang perlahan telah mengering di dalam jiwa Srintil.
Seketika, ingatan Srintil melayang pada momen paling kelam dalam hidupnya saat ia mendekam dipenjara akibat dituduh sebagai simpatisan PKI. Srintil terhenyak. Ia seperti terkena sambaran petir di siang bolong. Jiwanya terkoyak. Trauma berat masa lalu muncul lagi dan berimbas pada kondisi kejiwaan Srintil.
Isu Kesenian dan Reforma Agraria
Peristiwa Gerakan 30 September atau G30S 1965 merupakan episode sejarah paling kelam bangsa ini pascakemerdekaan. Rentetan kekerasan yang terjadi setelah tragedi tersebut menyebabkan ratusan ribu, bahkan ada yang menyebutnya jutaan jiwa dibunuh; hilang tanpa jejak; kekerasan seksual terhadap perempuan; penyiksaan secara tidak manusiawi; dan penahanan tanpa proses peradilan. Ini semua dilakukan secara masif dan terstruktur terhadap orang-orang yang dituding memiliki paham “kiri” dan menjadi bagian atau simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Banyak karya sastra Indonesia yang menjadikan peristiwa kekerasan 1965 sebagai latar cerita, termasuk novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari ini.
Menelaah sebab-musabab pecahnya peristiwa G30S begitu kompleks. Apalagi jika mengulik informasi mengenai dalang di balik peristiwa tersebut. Menariknya, Ahmad Tohari memilih sudut pandang berbeda. Ia mengemasnya jauh dari kesan kerumitan. Tidak pula menyinggung tokoh-tokoh elite yang terseret dalam pusaran kasus tersebut.
Ahmad Tohari menggambarkan ekses tragedi G30S yang terjadi di ibukota terhadap kehidupan penduduk Dukuh Paruk yang dibelenggu kemiskinan melalui tokoh-tokoh proletar macam Srintil, Rasus, Kartareja, Sakarya, dan Sakum.
Seperti biasa, Ahmad Tohari menghidupkan cerita melalui detail suasana khas ala pedesaan. Serpihan cerita seperti gesekan suara dedaunan, katak yang sedang kawin, maupun potret flora dan fauna lainnya, membuat pembaca begitu merasa dekat dengan jalan cerita.
Ahmad Tohari jeli betul meramu plot cerita. Pemilihan isu kesenian dan agraria sebagai konflik yang dihadirkan perlu mendapat sorotan. Ini merupakan kepingan penting untuk memahami realita sesungguhnya ihwal pertikaian berdarah yang terjadi antara warga sipil versus warga sipil.
Bakar yang diidentifikasi sebagai orang partai (PKI) “menunggangi” kesenian ronggeng sebagai alat agitasi. Kenapa ronggeng? Karena pentas yang dilakukan Srintil dan kawan-kawan merupakan alat yang ampuh untuk menarik massa dalam jumlah banyak. Tentu saja kesempatan tersebut merupakan peluang bagi partai untuk meraih dukungan dari kaum proletar.
Dari sejumlah literatur yang pernah saya baca, PKI menjadikan kesenian rakyat sebagai alat propaganda politik. Maka tak heran jika di kemudian hari terdapat sejumlah kesenian tradisional yang kerap diasosiasikan sebagai anasir PKI.
Sementara isu agraria merupakan salah satu narasi yang kencang diperjuangkan PKI untuk kaum tani. Bentuknya dalam land reform atau reforma agraria alias redistribusi tanah bagi para petani. Pada praktiknya, perjuangan redistribusi tanah ini kerap kali letuskan konflik horizontal dengan para pemilik lahan atau tuan tanah. Ahmad Tohari menggambarkan persoalan ini dalam kisah perusakan tanaman padi yang dilakukan para pengikut Bakar.
Tokoh cerita yang berasal dari kelompok “kelas bawah” semacam representasi masyarakat di pedesaan lainnya yang mengalami nasib serupa pascaperistiwa G30S: diburu aparat karena dituding menjadi bagian atau simpatisan PKI. Padahal banyak di antara mereka tidak tahu-menahu sepak terjang PKI, apalagi soal peristiwa G30S.
Saya kira, novel Ronggeng Dukuh Paruk penting untuk melihat bagaimana mengerikannya dampak stigma sebagai simpatisan PKI, khususnya bagi orang-orang yang berasal dari lapisan sosial masyarakat paling rendah.
Novel ini juga sangat menarik untuk memahami isu reforma agraria era 1960-an. Kekerasan horizontal yang terjadi setelah meletusnya G30S, salah satu pemicunya diduga akibat balas dendam para tuan tanah terhadap orang-orang yang menuntut reforma agraria. Narasi konflik makin liar manakala tuan tanah berasal dari kalangan agamis.
Srintil dalam Dunia Nyata
Kendati kisah Srintil merupkan cerita fiksi, namun sosok Srintil lainnya juga bisa ditemui di dunia nyata.
Akhir Agustus, 2018 lalu, di pinggiran ibukota Jakarta, saya bertemu dengan Tari –bukan nama sebenarnya, perempuan yang lahir sebelum Indonesia merdeka. Nenek berkacamata itu merupakan mantan anggota Pemuda Rakyat, oraganisasi kepemudaan yang dianggap berafiliasi ke PKI.
Tari aktif di organisasi Pemuda Rakyat karena ingin mengekspresikan hobinya dalam berkesenian, khususnya di bidang tarik suara. Ia tidak sama sekali berhubungan atau tertarik dengan kegiatan politik praktis.
Pascaperistiwa G30S, militer melakukan pembersihan terhadap orang-orang golongan “kiri” maupun anasir PKI. Tari merasa tenang karena ia tidak terlibat dengan peristiwa G30S.
Tapi mimpi buruk itu datang awal 1967. Aparat militer menangkapnya di Jakarta. Organisasi Pemuda Rakyat dicap sebagai underbow PKI.
Tari bercerita, pada saat penangkapan di rumahnya, aparat membawa seorang lelaki. Dia merupakan anggota Pemuda Rakyat juga. Tari mengenal betul lelaki tersebut. Menurutnya, lelaki itu pernah mengungkapkan perasaan cintanya, namun Tari menolaknya. Ternyata lelaki itu ditangkap lebih dahulu oleh aparat. Sampai di sini paham, kan, mengapa Tari bisa ditangkap?
Tari ditempatkan dari satu penjara ke penjara lain. Namun, lokasinya masih berada di wilayah Jakarta. Ia paling lama mendekam di penjara Bukit Duri. Total, ia menjalani masa tahanan selama 11 tahun di sana. Aparat tidak pernah melakukan proses peradilan kepada dirinya. Aparat hanya menilai bahwa aktivitas Tari di organisasi Pemuda Rakyat merupakan kesalahan besar. Sehingga ia layak dijebloskan ke penjara.
Tari ialah potret buram penyintas 65. Nasibnya dapat dikatakan “lebih beruntung” dibandingkan dengan mereka yang dibuang ke Pulau Buru, Maluku; kamp Plantungan, Jawa Tengah; hilang tanpa jejak; meregang nyawa di ujung bedil; atau lehernya ditebas parang.
Bagi napi, keluar dari penjara barangkali dianggap sebagai sebuah kebebasan. Namun, tidak dengan Tari. Baginya, hal tersebut merupakan awal dari sebuah penderitaan panjang yang dirasakan sampai detik ini. Stigma simpatisan PKI masih menyisakan trauma. Sampai sekarang Tari menghindar untuk berbaur dengan lingkungan sekitar.
Tari pelan-pelan mencoba melepaskan rasa trauma dengan bergabung dalam kelompok paduan suara. Para personilnya merupakan eks tahanan politik 65 dan keturunannya atau disebut generasi kedua. Saat pentas, paduan suara ini sering melantunkan lagu yang dulu pernah dinyanyikan atau diciptakan para penyintas 65 saat berada di dalam tahanan.
“Dengan berkumpul bersama-sama itu bisa cerita bebas. Itulah yang hilang (trauma). Bisa lega. Bisa ngomong,” kata Tari.