
Ini visual Sungai Serayu jika dilihat dari Desa Tambaknegara, Banyumas. Dari titik ini, lebar sungai hampir menyentuh 200 meter. Jika berkendara dari arah kota Purwokerto menuju Perpustakaan & Rumah Sastra Ahmad Tohari di Desa Tinggarjaya, Jatilawang, kamu bakal melewati spot ini.
Dieng, dataran tinggi di Wonosobo, merupakan hulu dari Sungai Serayu. Lalu air mengalir melintasi wilayah Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas dan bermuara di Cilacap. Di spot tertentu, kehidupan sejumlah warga bergantung pada material batu maupun pasir yang berasal dari aliran Sungai Serayu.
Sungai Serayu juga menjadi sumber inspirasi bagi Ahmad Tohari, sastrawan asal Banyumas. Cerpen Ah, Jakarta & Senyum Karyamin yang penuh getir dan ironi, misalnya. Ah, Jakarta memotret kasus petrus di era pemerintahan Suharto. Intinya, salah satu tokoh dalam cerpen itu merupakan seorang gali. Gali tersebut mati, lalu jasadnya ditemukan mengambang di Sungai Serayu.
Realitanya, Sungai Serayu memang kerap dijadikan lokasi pembuangan mayat. Apalagi ketika geger ’65. Di Banyumas, orang-orang yang dituding beririsan dengan anasir komunis diburu, lalu ditangkap. Bahkan tak jarang nyawa mereka berakhir di ujung bedil. Nah, Sungai Serayu konon menjadi tempat eksekusi favorit.
Awal 2022 lalu, saya sempat menelusuri muara Sungai Serayu di Desa Bunton, Cilacap. Tujuannya mencari informasi soal penemuan mayat remaja perempuan korban tindak pidana. Kami diantar menggunakan dua ojek sepeda motor yang ditemui secara tidak sengaja.
Jadi, saat itu viral kasus tabrak lari di Nagreg, Kabupaten Bandung. Korbannya merupakan sejoli remaja. Sesaat usai kecelakaan, korban digotong ke dalam mobil. Bukannya pergi ke rumah sakit, pengendara mobil minibus yang terlibat kecelakaan malah membawa kedua korban ke Banyumas, lalu membuangnya ke Sungai Serayu.
Jasad korban laki-laki ditemukan di Desa Rawalo, Banyumas. Sementara jasad korban perempuan ditemukan di Bunton, Cilacap.
Usai melewati perkampungan warga, sepeda motor menyusuri garis pantai beralaskan pasir. Jam 10.30, terpaan sinar mentari terasa membakar kulit wajah. Namun, beberapa saat kemudian, ban sepeda motor tak mampu lagi menerjang pasir lantaran selip. Deburan ombak pantai selatan menemani langkah kaki ini ketika semakin mendekati bibir muara Sungai Serayu.
Kemudian saya bertemu dengan penambang pasir. Setelah berbincang sebentar, salah seorang di antaranya menunjukkan lokasi penemuan mayat.
Saya mengamati, para penambang seolah tak memperdulikan sengatan sinar matahari. Salah satu di antaranya bahkan cuma mengenakan lengan pendek & celana dalam saja. Mereka dengan leluasa menggotong berkarung-karung pasir di pundaknya.
Rampung dengan urusan syuting, kemudian kami bergegas balik kanan berbarengan dengan datangnya hujan. Tapi, para penambang itu tetap melanjutkan pekerjaannya. Barangkali seperti ini gambaran Ahmad Tohari memperoleh ilham tokoh Karyamin.