Beberapa waktu lalu, jagat media sosial dibikin heboh oleh rangkaian peristiwa yang terjadi di SMAN 1 Cimarga, Lebak, Banten. Pemantiknya yaitu aksi boikot ratusan siswa SMAN 1 Cimarga yang ditujukan kepada kepala sekolah. Aksi tersebut dilatari peristiwa penamparan kepala sekolah kepada siswa buntut kasus merokok di dalam lingkungan sekolah.
Kasus makin panas manakala orang tua siswa melaporkan kepala sekolah ke kepolisian karena tak terima anaknya ditempeleng. Kemudian polemik kian meruncing saat Gubernur Banten menonaktifkan kepala sekolah.
Sikap publik terbelah antara pro dan kontra. Sebagian menilai, reaksi kepala sekolah terlalu berlebihan. Menegakkan disiplin di lingkungan sekolah seyogiayanya tak usah gunakan pendekatan fisik yang menjurus pada kekerasan.
Sementara pihak pro menilai, sudah sepatutnya siswa tersebut ditempeleng. Dasar pertimbangannya beragam. Sejumlah warganet membandingkan kondisi kiwari dengan situasi lingkungan sekolah pada masa lalu. Dulu, ketika guru menampar murid dianggap sebagai suatu hal wajar. Hal tersebut dimaklumi karena murid dinilai telah melakukan sebuah kesalahan. Bahkan ada pemeo, jika murid mengadu ke orang tua, malah berpotensi mendapat “hukuman tambahan” di rumah.
Drama di SMAN 1 Cimarga berujung dengan musyawarah mufakat. Kepala sekolah kembali menempati jabatannya. Orang tua siswa pun mencabut laporan di kepolisian. Sementara siswa dan kepala sekolah berakhir saling mengahaturkan maaf.

Ruang belajar yang cukup nyaman karena sudah dipasang AC. Ruangan kelas lainnya didominasi AC alam.
Dinamika yang terjadi di SMAN 1 Cimarga melemparkan ingatan saya pada masa “putih abu-abu”. Saya menghabiskan masa belajar di sebuah SMK negeri di Majalengka, Jawa Barat, dari tahun 2008-2011. Jumlah murid di kelas ada 41 orang. Dua orang perempuan. Sisanya laki-laki. Saya menjadi bagian dari jurusan Teknik Mesin Perkakas.
Alkisah, amarah seorang guru senior meledak di depan ruang kelas, tepat saat jeda UTS. Ia muntab ketika mendapat informasi dari perusahaan tempat kami melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) bahwa beberapa siswa sering bolos.
Jadi, konteks pada saat itu adalah kami sedang melaksanakan PKL. Kemudian semua siswa ditarik sementara ke sekolah selama satu pekan. Usai UTS rampung, kami kembali ke perusahaan untuk melanjutkan PKL.
Ketika Pak Guru sedang bersungut-sungut, ada dua orang kawan membuka pintu. Entah habis dari mana, keduanya telat memasuki kelas. Mereka lalu berjalan perlahan ke arah Pak Guru. Seketika keduanya jadi pusat perhatian. Murid pertama refleks menghindar ketika hendak digampar Pak Guru. Di saat bersamaan, murid kedua tersenyum tipis menyaksikan adegan tersebut.
“Kenapa kamu ketawa?” tanya Pak Guru kepada Ivor.
Sejurus kemudian, “Plakkkk,” lima jari tangan kanan Pak Guru mendarat telak di pipi Ivor hingga meninggalkan jejak warna merah.
Ivor bisa dibilang sedang apes. Padahal dia bukan siswa yang masuk “daftar hitam” di perusahaan tempat kami PKL. Tapi, peristiwa tersebut tidak sampai melebar seperti halnya kasus di SMAN 1 Cimarga. Kalau tidak salah, Pak Guru juga meminta maaf kepada Ivor.

Pose foto di sela-sela kegiatan belajar.
Sementara kisah lainnya begini: pada suatu sore usai pulang sekolah, beberapa kawan nongkrong di sebuah warung di seberang sekolah. Mereka sedang menunggu angkot sambil ngudud di pinggir jalan. Ketika sedang asik nglepus, tiba-tiba ada sepeda motor berhenti, lalu si pengendara motor ini bertanya, “Dari kelas mana?”. Gobloknya, salah satu kawan nyeletuk, “12 MPC.” Si pengemudi motor pun segera berlalu. Belakangan diketahui kalau pengemudi sepeda motor tersebut adalah guru BK.
Esok harinya, guru BK mendatangi kelas 12 MPC. Dia mendata siapa saja yang kedapatan merokok di warung pada hari sebelumnya. Teman-teman mengakui kesalahannya. Mereka tidak mangkir dari tanggung jawab. Sebagai bentuk hukuman, kawan-kawan ini dijemur di lapangan upacara. Saya lupa lagi apakah mereka dijemur sambil ngudud atau tidak.

Inilah murid kesayangan guru. Mereka dikenal karena rajin dan jadi panutan di dalam maupun luar kelas.
Tapi, alih-alih diwarnai ketegangan, jenjang pendidikan sekolah menengah atas sebetulnya penuh dengan hal-hal menyenangkan –untuk tak menyebutnya sebagai sebuah kenakalan remaja.
Cerita pada masa “putih abu-abu” selalu hadir saat reuni libur lebaran. Yang membuat saya heran, meskipun cerita tersebut sama dan berulang, tapi selalu diiringi gelak tawa. Mengocok perut tentunya. Cerita yang terjadi puluhan tahun lalu seperti baru saja terjadi kemarin sore.
Karakter murid di kelas amatlah beragam. Salah satunya yaitu seorang murid cerdas spesialis pelajaran eksakta, terutama pelajaran matematika. Panggil saja dia Permana. Dia murid nomor satu di kelas. Kalau gak salah, nilai matematika di rapot sering mendapatkan ponten minimal 9. Nilai pelajaran lainnya pun tergolong bagus. Sehingga namanya begitu harum di kalangan guru.

“Tradisi” corat-coret sebagai bentuk perayaan kelulusan yang kami anggap keren pada saat itu.
Syahdan, muncullah dua orang murid yang ingin mencoba mengimbangi kecerdasan Permana. Saat pelajaran fisika, kedua murid ini sering duduk di barisan paling depan. Apakah tujuan mereka supaya mudah menyerap ilmu dari Pak Guru? Bukan! Tentu saja agar mereka tidak ditanya oleh guru. Biasanya guru akan menunjuk murid di deretan bangku paling belakang untuk mengerjakan soal di papan tulis atau sekadar menjawab pertanyaan.
Permana sosok pribadi baik hati dan rajin. Ia biasanya mengenakan baju seragam agak gombrang. Bajunya dimasukan ke dalam celana. Topi berlogo sekolah selalu menutupi kepalanya. Tas warna hitam setia mengait di punggungnya.
Dalam beberapa kesempatan, saya “berguru” kepada Permana untuk mendapatkan pencerahan, terutama mengenai pelajaran eksakta. Alhamdulillah, setelah dijelaskan, saya mulai sedikit paham. Besoknya? Lupa lagi.

“Tradisi” corat-coret sebagai bentuk perayaan kelulusan yang kami anggap keren pada saat itu.
Di SMK pula saya dapat memahami bagaimana perbedaan antara hemat dan malas begitu tipis. Saat murid lain mengenakan bed logo sekolah dengan cara dijahit, ada murid yang mengaitkannya dengan sebatang peniti saja. Sebut saja dia Qibul. Sehingga kalau ada angin menerpa bajunya, bed akan bergoyang-goyang.
Kaus kaki yang dipakai Qibul pun cukup unik. Saking sudah uzur alias terlalu lama digunakan, kaus kakinya menjadi longgar. Akhirnya dia menggunakan karet di bagian betis untuk menjaga kaus kakinya tidak melorot.
Saat ujian nasional tiba, Qibul mengisi bulatan di kolom identitas dan kolom jawaban menggunakan pulpen. Bagaimana, luar biasa brilian, bukan? Pengawas ujian tentu saja menegurnya, “Aduh kenapa ngisinya pakai pulpen?”. “Oh gak boleh pake pulpen ya, Bu?” jawab Qibul singkat. Padahal, kelulusan Qibul saat itu sedang dipertaruhkan.

Ngumpul usai lebaran 2018. Tiap tahunnya kami berusaha untuk merawat tali silaturahmi, kendati jumlah kawan yang datang terus berkurang tiap tahunnya.
Ceritak tak kalah menarik lainnya yaitu soal asmara. Kalau kamu punya rasa suka ke perempuan yang masih satu sekolah, lebih baik dipendam saja. Simpan rapat-rapat. Jangan pernah bercerita kepada siapapun. Karena kalau teman sekelas tahu, kemudian perempuan yang dimaksud berjalan di koridor kelas, maka seisi kelas akan gaduh meneriakan namanya. Meskipun pada saat itu dalam situasi belajar.
Di sekolah, ada beberapa ruang kelas yang didominasi oleh kaca berukuran lebar. Sehingga kita bisa mengetahui murid yang lalu-lalang di koridor kelas.
“Bi Sofa Bi Sofa Bi.” Ini adalah salah satu contoh saat seorang kawan ngefans kepada adik kelas yang bernama Sofa. Kalau sudah begini, salah satu guru favorit kami yang mengajarkan pelajaran matematika akan menunjukkan baris gigi putihnya ketika menyaksikan muridnya kegirangan.
*Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di facebook pada 2018. Ada pengembangan cerita dalam publikasi di blog ini.
Keren sal..
Lamun kangen zaman sakola, tinggal baca tulisan iyeu weh, Gi haha