
Negara ini meletakkan tokoh aliran kiri di sudut sejarah yang gelap dan penuh misteri. Dalam kurikulum pendidikan sejarah, beberapa di antaranya muncul sekilas saja. Bahkan ada sebuah nama disembunyikan rapat-rapat dari ingatan kolektif bangsa ini.
Hingga detik ini, membahas orang-orang kiri tak jarang masih dianggap tabu. Belum lama ini, misalnya, saya mendengar celetukan, “Eh, kalo baca buku Pram gak boleh loh waktu zaman Suharto.” Padahal saat itu saya sedang memegang seri buku Tempo Orang Kiri Indonesia. Entah apa hubungannya antara buku yang saya pegang dengan Pramudya Ananta Tur, sastrawan besar itu. Barangkali refleks celetukan tersebut dipantik oleh buku yang saya pegang.
Ada empat buah buku dalam seri buku Tempo Orang Kiri Indonesia. Isinya mengulas sepak terjang Musso, Dipa Nusantara Aidit, Njoto, dan Sjam Kamaruzaman. Nama terakhir merupakan sosok misterius di sekitar peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965. Sementara sisanya adalah dedengkot Partai Komunis Indonesia (PKI).
Sebetulnya gak kaget juga, sih, dengan celetukan tersebut. Generasi yang tumbuh di era Presiden Suharto memiliki memori buruk soal kebebasan berekspresi. Termasuk dalam urusan sepele seperti membaca buku yang memuat anasir kiri.
Kembali lagi ke seri buku Tempo Orang Kiri Indonesia. Buku ini menarik secara visual. Hard cover-nya didominasi warna merah terang. Begitu eye catching. Memancarkan aura revolusi.
Tokoh bernama Musso merupakan sesepuh PKI. Dia berperan dalam pemberontakan PKI pada 1926 di era pemerintah kolonial Hindia Belanda. Musso juga merupakan otak di balik Madiun affair pada 1948. Musso mati dalam pelariannya di Ponorogo, Jawa Timur, tak lama setelah meletusnya peristiwa pemberontakan Madiun. Ia terlibat baku tembak dengan tantara republik.
Sementara Aidit terseret kasus pembunuhan tujuh jenderal militer Angkatan Darat dalam prahara G30S. Tak lama usai pecahnya G30S, tentara menangkap Ketua PKI itu dalam pelariannya di wilayah Solo, Jawa Tengah. Aidit lalu ditembak tentara di sebuah markas militer Angkatan Darat di Boyolali, Jawa Tengah, tanpa sempat melewati proses peradilan. Tak hanya Aidit yang mati, riwayat PKI juga hancur lebur setelahnya.
Lain lagi dengan cerita Njoto. Pengurus teras PKI ini dekat dengan Presiden Sukarno. Njoto pernah menjadi Menteri Kenegaraan di era senjakala Presiden Sukarno. Nasibnya sungguh malang. Hingga kini, tak ada yang tahu dimana keberadaannya. Ia hilang seperti ditelan bumi tak lama setelah tragedi G30S.
Figur terakhir adalah Sjam Kamaruzaman. Sosoknya begitu penuh misteri di seputar peristiwa G30S. Sjam merupakan orang kepercayaan Aidit. Tapi di saat bersamaan, ia juga dekat dengan kalangan militer Angkatan Darat. Ada pula yang menyebutnya sebagai agen ganda.
Barangkali kamu pernah mendengar informasi sekilas tentang keempat orang kiri ini. Jika cuma sebatas narasi sempit seperti di atas, wajar jika keempatnya dicap sebagai pemberontak, “si brengsek” atau penghianat bangsa.
Bonnie Triyana, bekas pemimpin redaksi historia.id menulis kolom dalam buku Muso: Si Merah di Simpang Republik seperti ini, “Sama seperti tokoh lain yang terselip hitam di antara putihnya, Musso punya jasa untuk bangsa ini.”
Sementara dalam pengantar buku Aidit: Dua Wajah Dipa Nusantara, Arif Zulkifli – kini Direktur Utama Tempo Media Group— menulis, “… cerita tentang Aidit mestinya diletakkan dalam sebuah bingkai yang lebih utuh. Inilah kisah tentang tragedi anak manusia. Tentang seorang yang punya cita-cita –betapapun sepakat/tak sepakatnya kita pada cita-cita itu dan cara mewujudkannya.”
Seri buku Tempo Orang Kiri Indonesia wajib dibaca untuk memahami tragedi G30S secara utuh. Buku ini menampilkan sisi lain di balik kelamnya episode sejarah perjalanan sebuah bangsa. Ada kredo seperti berikut: sejarah dituliskan oleh penguasa. Dalam konteks isu ’65, saya sepakat. Maka, buku ini menjadi semacam versi lain narasi sejarah yang telah dibangun penguasa lintas dekade.
Saya kira, tepuk tangan paling meriah patut diberikan kepada jurnalis yang menggarap reportase ini. Mereka bisa menembus narasumber-narasumber “daging” seperti anak dan cucu Sjam Kamaruzaman, keluarga Njoto yang “tiarap” selama Presiden Suharto berkuasa, atau Hamim, satu-satunya anggota Politbiro PKI yang masih hidup pada 2009.
Nah, saya coba sajikan sejumlah informasi menarik dari keempat tokoh kiri ini.
Musso: Si Merah di Simpang Republik
Tokoh satu ini dilahirkan di Kediri pada 1897 dengan nama lengkap Munawar Musso. Ia sempat “mondok” bersama Sukarno dan S.M. Kartosuwiryo di rumah H.O.S. Cokroaminoto, Surabaya. Kita tahu, di kemudian hari, Musso maupun Kartosuwiryo berselisih paham dengan Presiden Sukarno soal ideologi negara.
Ketika menginjak usia 18 tahun, Musso terlibat pemberontakan Afdeling B di Cimareme, Garut, pada 1919. Hal ini membuat dirinya dijebloskan ke dalam penjara kolonial. Perlakuan buruk di balik jeruji membuat Musso benci teramat sangat kepada pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Setelah pemberontakan PKI pada 1926 dihantam balik pemerintah kolonial, Musso berhasil kabur ke luar negeri. Lalu ia kembali ke Hindia Belanda pada 1935 guna mengorganisir kembali unsur-unsur kiri yang sempat tercerai-berai. Setelahnya, Musso gigih melakukan gerakan perlawanan bawah tanah menentang pemerintah kolonial Hindia Belanda. Saat berada di bawah imperialisme Jepang, Musso juga turut berperan aktif melawan fasisme Negeri Samurai tersebut.
Aidit: Dua Wajah Dipa Nusantara
Achmad Aidit lahir di Belitung pada 30 Juli 1923. Bapaknya merupakan tokoh agama dan manteri kehutanan –sebuah jabatan bergengsi pada saat itu. Sementara ibunya merupakan keturunan seorang ningrat Belitung. Kakek Aidit dari garis ibu merupakan seorang tuan tanah.
Setelah hijrah ke Jakarta dan aktif dalam dunia pergerakan, Achmad Aidit mengganti namanya menjadi Dipa Nusantara Aidit. Belakangan publik mengenalnya dengan nama D.N. Aidit.
Aidit kecil kerap belajar ngaji di sebuah surau tak jauh dari rumahnya. Salah satu tetangganya memberi kesaksian seperti tertera di halaman 14 berikut ini:
Sekitar 20 meter dari rumah tua itu terdapat rumah tua lainnya yang lebih terawat dan kukuh. Inilah rumah peninggalan Siti Azahra, istri Abdurrachman, qari di kampung itu. Kepada Abdurrachmanlah dulu Ahmad belajar mengaji Quran. Kini rumah ini dimiliki Efendi, kerabat Siti Azahra. Anak-anak Abdullah Aidit juga belajar mengaji kepada Liman, saudara sepupu Azahra. Rumah Liman tak jauh dari kediaman Siti. Di rumah Liman, Achmad bersama teman seumurannya juga berlatih kesenian hadrah. Seratus meter dari rumah Abdullah dulu berdiri surau panggung. Di sinilah Achmad kecil kerap didapuk mendendangkan azan saat magrib dan isya.
Tanah Belitung dikenal kaya akan kandungan timah. Tak jauh dari rumah Aidit, terdapat pabrik pengolahan mineral yang kerap digunakan untuk industri elektronik, konstruksi, hingga otomotif tersebut. Aidit remaja pernah bersinggungan dengan kehidupan buruh timah. Nuraninya tersentak ketika melihat betapa kontradiktifnya kehidupan antara buruh dengan petinggi pabrik. Masa remaja Aidit dilukiskan dalam halaman 11-12 seperti berikut:
… Boleh jadi semangat anti-Belanda dan perjuangan antikelas di kemudian hari bermula dari tambang itu. Saban hari Aidit melihat buruh 12 berlumur lumpur, bermandi keringat, dan hidup susah. Sedangkan meneer Belanda dan tuan-tuan dari Inggris hura-hura. Perusahaan ini menyediakan societet, gedung khusus tempat petinggi perusahaan dan none-none Belanda menonton film terbaru sembari menenggak minuman keras. Buruh tambang itu cuma bisa menelan ludah dan sesekali mengintip bioskop.
Tertarik mendalami hidup para buruh, Achmad mendekati mereka. Tapi tak mudah karena para buruh cenderung tertutup. Sampai suatu hari Achmad melihat seorang buruh sedang menanam pisang di pekarangan rumah. Achmad menawarkan bantuan. Tertegun sebentar, si buruh itu mengangguk. Aidit lalu mencangkul.
Sejak saat itu Aidit bersahabat dengan buruh itu. Kian hari hubungan mereka kian dekat. Kadang mereka ngobrol sembari menyeruput kopi dan mengudap singkong rebus. Dari ngobrol-ngobrol santai itulah Aidit kemudian tahu kesulitan para buruh, juga soal pestapora petinggi tambang.
Pergaulan dengan kaum buruh itu, menurut Murad, yang menentukan jalan pikiran dan sikap politik Achmad setelah di Jakarta.
Dalam sebuah pertemuan di gedung Tempo sekitar 2015 lalu, Amarzan Lubis –bekas Redaktur Koran Harian Rakyat– menceritakan sebuah momen menggelitik tentang sosok Aidit. Pada sebuah pagi, telepon redaksi Harian Rakyat berdering. Suara di ujung telepon bertanya, “Kenapa puisinya tidak dimuat di koran?” Amarzan dengan enteng menjawab bahwa puisi tersebut jelek. Seketika, lawan bicara Amarzan membanting telepon. Yak betul, pemilik suara di ujung telepon sana adalah Aidit.
“Sajak Aidit itu jelek benar, sajak-sajak maksa,” kata Amarzan dalam buku Njoto: Peniup Saksofon di Tengah Prahara (hal. 43). Kendati demikian, bekas tapol Pulau Buru itu bilang bahwa keputusannya tidak memuat puisi tersebut semata-mata untuk menyelamatkan marwah Aidit.
Njoto: Peniup Saksofon di Tengah Prahara
Njoto lahir di Jember pada 17 Januari 1927. Ia anak dari pasangan Sosro Hartono dan Masalmah. Bapaknya merupakan pedagang batik tulis asal Solo keturunan bangsawan. Sosro juga dikenal karena kedekatannya dengan tokoh pergerakan di era pemerintah kolonial Hindia Belanda. Sosro sering kali memberi petuah kepada anak-anaknya agar mementingkan pendidikan dan membaca buku. Kedua hal inilah yang kelak membentuk jatidiri Njoto.
Dalam struktur kepengurusan partai, Njoto menjabat Waktil Ketua II CC PKI. Ia duduk di kursi elite PKI bersama M.H. Lukman dan Aidit. Ketiganya dijuluki sebagai the three musketeers.
Akhir hayat Njoto memang diselimuti kabut. Sejumlah versi mencuat ke permukaan ihwal penculikan usai menghadiri sidang kabinet di Istana Bogor, 6 Oktober 1965. Keluarganya pun tidak tahu bagaimana akhir hidup Njoto. Namun, ada kisah menarik di halaman 29-30 seperti berikut:
Suatu ketika, beberapa tahun setelah peristiwa 30 September, beberapa temannya mendatangi seorang paranormal untuk mengetahui keberadaan Njoto. Sang dukun kerasukan dan “menjelma” menjadi Njoto. Ia menulis nama “Njoto” di papan. “Tulisannya agak miring, persis tulisan tangan Njoto,” kata teman Njoto, yang menolak disebut namanya tapi ikut mendatangi dukun. Menjawab pertanyaan para “kliennya” soal keberadaan Njoto, dukun menjawab: “Ada di Jawa Barat.”
Njoto piawai memainkan sejumlah alat musik seperti saksofon, piano, hingga gitar. Ia juga dikenal sebagai penulis esai, puisi, dan seorang kutu buku. Koleksi bukunya bejibun. Bahkan untuk mengambil buku di bagian atas rak, Njoto harus menggunakan tangga. Di tangga itu pula Njoto kerap bertengger membuka lembar demi lembar buku, termasuk membaca buku-buku “kiri”.
Di akhir masa kekuasaan Presiden Sukarno, Njoto begitu dekat dengan Sang Putra Fajar. Ia mengemban tugas sebagai penulis andalan pidato-pidatonya Bung Karno. Kita tahu bahwa jika sudah berada di hadapan mikrofon dan berdiri di atas mimbar, Sukarno tak ubahnya singa podium. Isi pidatonya berapi-api dan membakar semangat massa.
Suatu saat, Sukarno merasa gusar karena tak menemukan batang hidung Njoto. Padahal, sebuah acara kenegaraan akan berlangsung kurang dari sepekan. Naskah pidato tak kunjung disiapkan. Kemudian, Wakil Perdana Menteri Subandrio memberitahu Bung Besar jika Njoto sedang berada di Amsterdam, Belanda.
Kisah selanjutnya tertera di halaman 20 seperti ini:
Setelah berkeliling Afrika, karena Konferensi Asia Afrika ke-2 batal di Aljazair akibat kudeta di negeri itu, Njoto ngelencer ke Belanda, lalu ke Rusia, untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Partai Komunis. Njoto segera pulang begitu menerima kawat bahwa Presiden mencarinya. Padahal di Moskow ia sedang melawat bersama Ketua PKI Dipa Nusantara Aidit.
Sjam Kamaruzaman: Lelaki dengan Lima Alias
Sjam Kamaruzaman lahir di Tuban pada 30 April 1924. Sjam merupakan tangan kanan Aidit sekaligus pemimpin Biro Chusus, sebuah badan rahasia PKI. Ketika diinterogasi militer, ia mengaku sebagai arsitek G30S. Sjam lah yang memerintahkan pasukan G30S untuk membawa para jenderal Angkatan Darat dalam kondisi hidup atau mati.
Iskandar Subekti, panitera Politbiro PKI, dalam catatannya atas peristiwa 30 September 1965 menjelaskan, tugas Biro Chusus yaitu mengurusi, memelihara, dan merekrut anggota partai di tubuh Angkatan Darat secara ilegal.
Sjam mengaku bahwa Biro Chusus sama sekali tak punya hubungan dengan Politbiro atau Comite Central PKI. Maka, manuver yang dilakukan Sjam pada 30 September 1965 malam tidak diketahui Njoto dan M.H. Lukman.
“Sjam bos saya, Ketua Biro Chusus. Wajahnya menakutkan, orangnya hitam, matanya besar. Dia itu seperti militer di Biro Chusus. Ia mengutamakan sentralisme daripada demokrasi. Walaupun dia bukan militer, caranya di Biro Chusus kayak militer. Disiplinnya kuat.” Begitulah Hamim –bukan nama sebenarnya—mengenang sosok Sjam.
Relasi Sjam dengan kalangan militer terjalin sejak masa revolusi, tepatnya ketika dia menjadi anggota Kelompok Pathuk –kumpulan diskusi anak muda yang dipimpin Djohan Sjahroezah dan Dayino, aktivis Partai Sosialis Indonesia, di kampung Pathuk, Yogyakarta.
Latar belakang Sjam sempat diulas di halaman 19 seperti ini:
Anggota tim Mahkamah Militer Luar Biasa, Subono Mantovani, dalam AM Hanafi Menggugat, mengaku pernah melihat foto Sjam ketika masih di Yogyakarta. Sjam, kata Subono, adalah intel di Resimen 22 Brigade 10 Divisi Diponegoro berpangkat letnan satu. Subono saat itu juga berpangkat letnan satu dan bersama Sjam dan Soeharto ikut dalam Kelompok Pathuk. Sekitar 1949, Sjam berkenalan dengan Aidit, yang kemudian mengajaknya masuk Pemuda Tani-organisasi yang berafiliasi pada Barisan Tani Indonesia, organisasi sayap PKI.
Usai meletusnya G30S, Sjam kabur ke Jawa Barat. Selang 17 bulan, ia ditangkap di daerah Cimahi. Setelah berkelana dari satu penjara ke penjara lainnya, Sjam Kamaruzaman dieksekusi mati pada 30 September 1986.