
Hutan bukanlah tanah kosong. Di dalamnya ada tali-temali kehidupan yang terajut secara harmonis. Jika satu simpul rusak, maka titik lainnya turut kena imbas. Manusia yang menjadikan hutan sebagai sumber kehidupan tahu betul bagaimana menjaga keseimbangan tersebut. Mereka tahu diri dalam urusan mengambil apa yang tersedia di alam.
Biasanya, konflik meletus manakala muncul para pendatang niradab dan serakah dengan mengeruk emas atau mengebor minyak, misalnya. Bisa juga melalui tangan pemburu bersenjatakan senapan maupun jerat. Dampak yang ditimbulkan cuma satu: kekacauan!
Kemarahan, kritik tajam, potret kearifan lokal dari tepian belantara Amazon, hingga relasi antara manusia dengan alam merupakan pesan yang mencuat dalam novel Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta karya Luis Sepulveda, sastrawan cum jurnalis ternama asal Chile. Penulis yang pernah diasingkan oleh rezim militer Pinochet itu juga dikenal sebagai aktivis lingkungan.
Novel yang diterjemahkan oleh Ronny Agustinus ini merupakan terbitan Marjin Kiri edisi cetakan ketiga, Februari 2024. Novel ini tergolong tipis: 133 halaman saja. Tapi, cerita di dalamnya begitu kaya dan memikat. Sepulveda mengemas cerita secara runut dengan alur maju, meski ada satu hingga dua cerita yang membawa pembaca kepada lembaran masa lalu.
El Idilio, sebuah desa antah berantah di pedalaman hutan dekat perbatasan Peru menjadi latar tempat cerita novel ini. Perahu menjadi alat transportasi yang kerap muncul dalam perjalanan tokoh-tokoh macam Antonio Jose Bolivar Proano, si dokter gigi Rubindo Loachamin, dan Pak Walikota yang mendapat julukan la Babosa alias si Siput Lendir.
Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta merupakan novel realisme yang menghadirkan karakter sentral dalam rupa Antonio Jose Bolivar Proano –Pak Tua yang menghabiskan masa kecilnya di dekat gunung Api Imbabura, Ekuador. Bersama kekasihnya, ia meninggalkan tanah kelahirannya menuju El Idilio yang ditempuh selama tiga pekan dengan jalan kaki, lalu dilanjutkan menggunakan kendaraan roda empat hingga kano. Mereka angkat kaki untuk mencari kedamaian dari gonggongan para tetangga yang kerap kali mengembuskan desas-desus ihwal biduk rumah tangga Antonio dan istri.
Di perantauan, Antonio bermukim di sebuah gubuk reyot yang berdiri di atas tanah pemerintah –sebuah wilayah yang dipertikaikan dengan Peru. Ia boleh dibilang beruntung lantaran sebagian besar pemukim anyar mati akibat terserang penyakit malaria. Penyakit ini jugalah yang merenggut nyawa sang istri: Dolores Encarnacion del Santisimo Sacramento Estupinan Otavalo pada tahun kedua di tanah rantau.
Antonio, yang menghabiskan masa kecil di dataran tinggi begitu kewalahan menjalani hidup di tepi hutan dan sungai. Dalam babak kehidupan berikutnya, Antonio mengenal, lalu berbaur dengan orang-orang dari suku Shuar, penduduk lokal yang hidup secara nomaden di belantara Amazon. Sejak itu pula Antonio merasakan “kebebasan”.
“Hidup dalam hutan menempa tiap jengkal tubuhnya. Ototnya bak otot kucing yang mengeras seiring berlalunya waktu. Ia kenal hutan ini sebaik orang Shuar. Ia bisa melacak jejak secermat orang Shuar. Ia berenang setangkas orang Shuar. Singkatnya, ia seperti mereka , tapi belum jadi bagian mereka,” begitulah Sepulveda menggambarkan tokoh Antonio yang menggantungkan hidup pada hutan dan sungai.
Sepulveda piawai betul menyempilkan pesan secara tersirat ihwal bagaimana relasi manusia dengan alam bisa berjalan beriringan dalam bentuk kearifan lokal. Salah satunya saat Antonio yang hendak mencari burung di dalam hutan. Alih-alih menangkap dengan cara menembak atau menggunakan jerat, Antonio meramu daging papaya yang didapat di hutan dengan sari akar-akaran yahuasca. Umpan yang rasanya manis dan kuat itu mampu menarik perhatian berbagai jenis burung.
“Kemudian, di tempat ia tinggalkan buah yang meragi itu, ia temukan segerombol besar parkit, kakatua, dan pelbagai jenis burung lain tertidur dalam posisi-posisi yang paling muskil. Beberapa mencoba berjalan sempoyongan, yang lain berupaya terbang dengan sayap yang mengepak tak kompak. Ia kandangkan sepasang kakatua biru-emas dan sepasang lagi parkit shapul, yang dipuji sebagai pengoceh hebat, lalu meninggalkan sisanya sambil mengucapkan selamat bangun. Ia tahu pingsan akibat mabuk itu bisa berlangsung sekitar dua hari.”
Menabur angin, menuai badai
Memang betul, tokoh Kakek Tua ini membaca novel-novel cinta picisan yang didapatnya dari rumah bordil untuk menemani jiwanya yang kesepian. Tapi, fragmen ini bukanlah tulang punggung cerita Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta.
Jika dicermati lagi, akar konflik yang hadir dalam novel ini bisa diibaratkan seperti bacot orang bijak: siapa yang menabur angin, akan menuai badai. Dalam pembuka bab 4, misalnya, dijelaskan begitu gamblang seperti berikut:
“Kadang, hanya demi memperoleh sekian meter tanah datar, mereka tebangi pohon secara acak dan membuat ular boa penjirat kehilangan hunian, yang lantas membalas dendam dengan membunuh salah seekor keledai mereka.”
Atau potret kebengisan pendatang yang digambarkan Antonio dengan ironis sekaligus sinis seperti ini:
“Ada juga bule-bule yang datang dari kilang minyak. Mereka tiba dalam kelompok-kelompok gaduh sambil membawa senapan yang cukup untuk mempersenjatai satu batalion, memasuki hutan siap menghabisi apa pun yang bergerak. Mereka puas-puaskan diri memburu macan kumbang, tak peduli apakah masih bayi atau betina yang sedang hamil, lantas sebelum bubar, saling berfoto di sebelah lusinan lembar kulit yang dipasak di tiang pancang … Macan-macan kumbang yang selamat balas dendam dengan mencabik-cabik ternak yang setengah lapar. Antonio Jose Bolivar berusaha membuat hewan-hewan itu bertahan sementara para pemukim menghancurkan hutan dan membangun mahakarya manusia beradab: padang kerontang.”
Potongan kisah macan kumbang di atas mengingatkan saya kepada foto harimau Jawa yang ditandu penduduk Hindia Belanda. Predator yang berada di puncak rantai makanan tersebut seperti tak berdaya dihadapan para pemburu liar. Perburuan tak terkendali tersebut konon salah satu pemicu punahnya harimau Jawa.
Kembali lagi ke novel, sepak terjang macan kumbang inilah yang membuat plot cerita novel makin “basah”. Tensi konflik dalam cerita semakin naik. Macan kumbang yang murka tak hanya memburu binatang ternak para pemukim. Ia juga memangsa manusia-manusia durjana yang sudah merusak “rumah” sekaligus anggota keluarga si macan kumbang.
“…kini induknya berkeliling mencari mangsa, murka oleh kesedihan, dan si orang inilah yang ia buru. Pasti gampang buatnya melacak jejak bule ini. Si naas ini menggendong bau susu di punggungnya dan si induk Cuma perlu membuntutinya. Kini ia sudah membunuh si pelaku. Ia sudah membau dan mencicipi darah manusia, dan dalam otak binatangnya yang kecil itu kita semua ini pembunuh anaknya, bau kita sama semua baginya,” begitulah induk macan kumbang menuntaskan dendam kepada bule yang telah membunuh anaknya.
Penduduk lokal seperti orang-orang Shuar kena getah. Mereka sempat dituding si Siput Lendir sebagai pelaku pembunuhan setelah kasus penemuan mayat bule tersebut. Sementara para pemukim menjalani hidup dengan kegelisahan. Karena macan kumbang yang disesaki amarah bisa menerkam kapan saja. Begitulah potret kekacauan yang terjadi di El Idilio.
Pak Tua yang telah “makan asam garam” kehidupan di belantara Amazon menjadi sosok yang diandalkan si Siput Lendir untuk membereskan kekacauan ini. Meskipun ia menyadari sepenuhnya bahwa biang kekacauan yang terjadi karena ulah para bule maupun pendatang tak tahu diri, Antonio Jose Bolivar Proano dengan terpaksa menerima permintaan si Siput Lendir hingga ia mampu menuntaskannya.
1 thought on “Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta: Siapa yang Menabur Angin, Akan Menuai Badai”