Matahari memanggang langit Desa Benteng, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, tepat jam 11 siang, 15 November 2025 lalu. Di sebidang kebun, tampak Yusep Saputra mengelap bulir keringat yang mengucur di pipi menggunakan lengan atas tangannya. Lelaki 50 tahun itu kemudian lanjut mencangkul tanah secara hati-hati dengan bergerak menyamping dari arah barat ke timur. Ia lalu duduk bersimpuh di tanah. Yusep tidak lagi menggali tanah menggunakan cangkul, melainkan dengan kedua tangannya. Sejurus kemudian, Yusep mencabut ubi ungu dari dalam tanah.
“Sekarang harus muat 1 ton. Ubinya mau diangkut ke Bandung besok. Harusnya hari ini beres semua dipanen,” tutur Yusep disela-sela memanen ubi.
Tiap kali panen, kepala Yusep biasanya dibuat pening lantaran ubi “jatuh” ke tangan tengkulak dengan harga sangat murah. Atau paling banter ubi dilego ke Pasar Induk TU Kab. Bogor dengan harga sedikit lebih tinggi. Tapi setelah dikalkulasi tetap saja merugi, karena perlu mengeluarkan biaya untuk ongkos transportasi pengangkutan ubi dari kebun ke pasar.
Tapi, panen pertengahan November lalu bikin hati Yusep bungah. Perusahaan lokal yang menjadi mitra petani membeli ubi dengan harga tergolong tinggi, bisa menembus Rp 7.000 per kilogram. Yusep juga tak perlu repot memikirkan biaya transportasi, karena pihak perusahaan akan menjemput ubi ke kebun.
Tak berselang lama, azan zuhur berkumandang. Yusep beserta tiga petani lainnya mengambil jeda sejenak, lalu berkumpul di saung yang terletak di pinggir kebun. Kacang tanah rebus, nangka dan pisang Muli yang baru dipetik dari kebun menjadi kudapan para petani.

Yusep Saputra (menggunakan caping) menunjukkan ubi yang baru saja dipanen, Sabtu, 15 November 2025.
Sinergi Astra dan IPB University
Yusep merupakan anggota kelompok tani (poktan) Sinar Tani di Desa Benteng yang menjadi bagian dari ekosistem Desa Sejahtera Astra (DSA) Bogor. DSA merupakan program tanggung jawab sosial PT Astra International yang diluncurkan tahun 2018.
Program DSA berfokus pada pemberdayaan kewirausahaan berbasis potensi dan produk unggulan desa yang terbagi dalam sejumlah klaster, seperti kopi, pertanian dan perkebunan, perikanan dan kelautan, wisata, kriya, hingga budaya. Desa Benteng memiliki komoditas unggulan dalam rupa ubi jalar.
Selain Desa Benteng, DSA Bogor juga meliputi Desa Bojong Jengkol, Desa Dukuh, Desa Pamijahan, dan Desa Tapos. Ubi madu, ubi beniazuma, dan ubi oranye menjadi komoditas unggulan dari keempat desa tersebut.

Hamparan kebun ubi yang dikelola Kelompok Usaha Bersama (KUB) Poktan Sinar Tani, di Desa Benteng, Kec. Ciampea, Kab. Bogor.
Dalam implementasi program DSA di lapangan, Astra bersinergi dengan IPB University. Kampus Pertanian tersebut memiliki Agribusiness and Technology Park (ATP) yang terletak di Desa Cikarawang, Kab. Bogor.
Mengutip laman stp.ipb.ac.id, ATP merupakan kawasan inovasi dan pengembangan agribisnis terpadu produksi dan pemasaran dalam satu paket kegiatan melalui pendampingan dan pemberdayaan petani. Salah satu tujuan ATP ialah meningkatkan pendapatan petani sayuran dan buah-buahan melalui sistem kemitraan.
Kemudian, IPB University menggandeng PT Binature Farm sebagai “jembatan” antara petani yang tergabung dalam DSA Bogor dengan buyer dalam negeri maupun mancanegara. Ilham Indanu Sitepu, CEO PT Binature Farm, merupakan alumni IPB University.
Penghasilan petani meningkat 80%
Poktan Sinar Tani memiliki 25 anggota. Setengah anggotanya merupakan bagian dari unit Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang menggarap lahan seluas 1,1 hektare. Para petani menanam sejumlah komoditas di lahan tersebut dan 3.000 meter persegi di antaranya ditanami ubi jalar.
Dukungan Astra kepada Desa Benteng dilakukan sejak 2023. Para petani yang terhimpun dalam program DSA mendapat pendampingan dari hulu hingga hilir, mulai dari pelatihan teknik budidaya, perawatan tanaman, hingga pascapanen. Tujuannya untuk menjaga kualitas dan tingkatkan kuantitas hasil panen.
Selain itu, Astra memberi bantuan berupa pupuk yang diakui petani mampu menekan biaya operasional. Ada pula bantuan peralatan, seperti oven dan mixer untuk mengolah produk turunan ubi seperti keripik dan kue gabin.

Petani sedang memanen ubi di lahan yang dikelola Kelompok Usaha Bersama (KUB) Poktan Sinar Tani, di Desa Benteng, Kec. Ciampea, Kab. Bogor.
Berbagai pelatihan yang diselenggarakan Astra dan IPB University telah membantu meningkatkan pengetahuan para petani mengenai budidaya ubi yang sesuai dengan standard operating procedure. Misalnya, Yusep mencontohkan soal penanganan bibit tanaman. Ia baru mengetahui bahwa bibit mesti direndam terlebih dahulu menggunakan zat perangsang tumbuh. Kemudian dalam proses perawatan, sulur tanaman ubi mesti dibolak-balik. Teknik ini bertujuan untuk mengoptimalkan distribusi nutrisi pada umbi utama.
“Akhirnya muncullah produk unggulan ubi ungu varietas antin,” terang lelaki yang sudah menjajal profesi petani sejak 2013 silam itu.
Teknik pemanenan juga jadi perhatian Yusep. Saat panen, petani mesti ekstra hati-hati ketika mencangkul tanah. Sebab jika ceroboh, mata pacul bisa menghantam ubi. Hal tersebut dapat menurunkan kualitas ubi.
“Yang harusnya masuk grade A, tapi gara-gara kena gacok (terkena mata pacul) jadi kualitas B. Kalo dulu ubinya sering kena gacok. Sekarang lebih hati-hati,” kenang Yusep.
Tanaman ubi lazimnya dipanen antara 3-4 bulan dari masa tanam. KUB Poktan Sinar Tani bisa hasilkan 4 ton ubi dari lahan seluas 3.000 meter persegi. Setelah disortir, biasanya 30 persen di antaranya masuk dalam grade A, yakni ubi berbentuk panjang dan mulus dengan berat 150-400 gram. Kemudian 60 persennya masuk dalam grade B, yaitu ubi berbentuk bulat atau terdapat bekas serangan hama lanas atau bekas gacok. Sementara 10% sisanya merupakan grade C atau TO, yakni ubi berukuran kecil.

Berkat sistem kemitraan, petani memiliki jaminan kepastian pasar dan harga yang stabil. Saat ini PT Binature Farm membeli ubi grade A dari petani dengan harga Rp 7.000 per kilogram. Sedangkan ubi grade B dibeli dengan harga Rp 5.000 per kilogram. Sementara ubi grade C dihargai Rp 1.000 per kilogram. Petani mampu meraup omzet hingga Rp 20.800.000 dari lahan seluas 3.000 meter persegi.
“Sangat setuju dengan sistem kemitraan. Kontrak harga dengan mitra ATP sudah jelas di atas tengkulak. Penghasilan petani meningkat hingga 80 persen,” kata Yusep disertai senyum yang mengembang di wajahnya.

Petani menunjukkan ubi hasil panen di lahan yang dikelola Kelompok Usaha Bersama (KUB) Poktan Sinar Tani, di Desa Benteng, Kec. Ciampea, Kab. Bogor.
Memotong lingkaran setan tengkulak
Yusep cerita, sebelum menjadi bagian dari program Desa Sejahtera Astra, para petani di Desa Benteng menjual ubi ke tengkulak. Bahkan ubi hasil panen pernah dihargai tengkulak cuma Rp 1.000 per kilogram. Boro-boro untung, untuk balik modal saja masih jauh panggang dari api. Kondisi tersebut sempat membuat para petani meninggalkan komoditas ubi, lalu beralih menanam singkong. Padahal ubi yang ditanam di tanah Desa Benteng dikenal memiliki kualitas.
Ketika ditanya kenapa petani menjual hasil panen ke tengkulak, Yusep membeberkan dua alasan. Pertama, petani tidak memiliki akses ke pasar untuk menjual hasil panen dengan harga kompetitif. Kedua, petani memiliki keterbatasan pembiayaan untuk modal tanam. Biaya untuk satu periode tanam hingga panen di lahan seluas 3.000 meter persegi, misalnya, membutuhkan modal sekitar Rp 5.100.000.
Kondisi tersebut dijadikan celah oleh tengkulak guna “menjerat” petani. Tengkulak hadir memberi kepastian sebagai pembeli. Lalu, ada pula kasus dimana tengkulak memberi “bantuan” modal tanam yang sebetulnya bisa disebut sebagai utang. Biasanya, pada saat bersamaan ada permintaan kepada petani supaya menjual hasil panen hanya ke tengkulak saja.
Maka, petani tidak memiliki posisi tawar untuk menentukan harga. Tiap kali panen, harga jual ubi jatuh. Alhasil para petani gigit jari. Inilah realita yang dialami petani Desa Benteng: terjebak dalam lingkaran setan tengkulak. “Kenapa petani identik dengan kemiskinan? Ya, itu penyebabnya. Tak salah kalo profesi petani masih dianggap sebagai kaum marjinal, tertinggal, dan miskin,” ujar Yusep tegas.

Yusep Saputra sedang menyortir ubi yang baru saja dipanen, Sabtu, 15 November 2025.
Yusep melihat, lingkaran setan yang membelenggu teman-teman seprofesinya dipengaruhi pula oleh pola pikir kolot para petani. Petani dianggap seperti katak dalam tempurung: enggan menerima masukan dari pihak eksternal. Urusan menyortir ubi, contohnya. Langkah tersebut penting dilakukan untuk menyaring kualitas ubi karena bisa menentukan nilai jual. Tapi petani lebih memilih jalan praktis dengan menjualnya secara gelondongan ke tengkulak.
Pada akhirnya, upaya untuk memotong lingkaran setan kemiskinan tersebut ada di tangan petani itu sendiri. “Saya mau menerima masukan. Ingin mengubah nasib. Gak mau bertani yang gitu-gitu aja. Gak mau jadi petani gurem. Saya ingin sejahtera,” ujar Yusep ketika mengenang masa-masa sulitnya.
Syahdan, tahun 2021 Yusep mendapat undangan untuk mengikuti progam Saba Kampus yang diinisiasi IPB University. Kala itu, IPB University mengundang sejumlah petani yang berasal dari desa di sekitar kampus Dramaga, Kab. Bogor. Tujuannya untuk menampung keluh kesah petani, lalu mencari solusinya. Kegiatan ini sekaligus untuk memetakan potensi desa. Saat itu, Yusep bersama Supardi, ketua Gapoktan, mewakili Desa Benteng untuk mengikuti acara Saba Kampus.

Hamparan kebun ubi yang dikelola Kelompok Usaha Bersama (KUB) Poktan Sinar Tani, di Desa Benteng, Kec. Ciampea, Kab. Bogor.
Singkat cerita, Desa Benteng dinilai memiliki potensi dari komoditas ubi jalar. Setahun berselang, Yusep dan sejumlah petani lainnya mulai menanam ubi ungu dan ubi oranye. Tahun berikutnya, Astra dan IPB University hadir dan memberikan pendampingan secara intensif.
“Kalo pengelolaan dan manajemennya baik, apalagi dengan sistem kemitraan, jadi petani itu menjanjikan. Petani ada motivasi untuk menanam ubi. Kita juga diberi bantuan dari hulu (pelatihan), dibantu sarana-prasarana pertanian,” papar Yusep.
Satukan gerak, terus berdampak
Sinergi antara Astra dengan IPB University tak berhenti hadirkan dampak bagi perekonomian di pedesaan. Teranyar, pada 22 Juli 2025 lalu, berlangsung penandatanganan komitmen kerja sama penjualan ubi jalar ke Malaysia dan Singapura sebanyak 10 ton, mencakup berbagai varietas ubi, seperti ubi ungu, ubi madu, ubi beniazuma, dan ubi oranye. Ada pula olahan keripik, selai, dan pasta ubi.
“Ggak nyangka ada di tahap bisa ekspor. Bangga ubi bisa dikirim dari kampung ke luar negeri,” ujar Yusep.

Pelepasan ekspor ubi dari Desa Sejahtera Astra Bogor ke Malaysia dan Singapura, 22 Juli 2025 (Sumber: ipb.ac.id)
Menukil informasi dari akun Instagram satu_indonesia, hingga pertengahan 2025, DSA Bogor telah mengekspor lebih dari 65 ton ubi ke Malaysia dan Singapura, dengan rata-rata pengiriman 10–13 ton per bulan. Sebanyak 90% hasil panen petani terserap pasar, dengan 50% di antaranya untuk ekspor. Inisiatif ini juga menciptakan 160 lapangan kerja baru dan meningkatkan pendapatan petani hingga 100%.
Kabar gembira lainnya adalah peluang di pasar domestik maupun internasional sangat terbuka lebar untuk komoditas ubi jalar. Dasep Nurjaman, Tim Lapangan PT Binature Farm menjelaskan, sejauh ini produksi ubi dari petani binaan DSA Bogor mencapai 20 ton ubi per bulan. “Padahal kami bisa menyerap hingga 60 ton,” ujar Dasep ketika ditemui di Desa Benteng.
Alumni IPB University itu menyebut, ubi grade A biasanya disalurkan untuk pasar ekspor dan sejumlah ritel dalam negeri. Sementara ubi grade B dan C dijual ke pasar tradisional dan pelaku usaha home industry.
Desa “naik kelas”

Petani sedang memanen ubi di lahan yang dikelola Kelompok Usaha Bersama (KUB) Poktan Sinar Tani, di Desa Benteng, Kec. Ciampea, Kab. Bogor.
Desa, melalui beragam kekhasan dan keunggulannya menyimpan potensi besar untuk menjadi lokomotif pembangunan ekonomi bangsa ini. Jumlah desa atau kelurahan di Indonesia tahun 2025 mencapai 83.762. Dari angka sebesar itu, 1.397 di antaranya merupakan binaan Astra melalui program DSA. DSA Bogor menyuguhkan fakta bahwa desa bisa “naik kelas” jika potensi yang tersedia digarap secara optimal melalui manajemen yang tertata dengan baik.
Singkatnya, melalui program DSA, desa bisa berdikari secara ekonomi, pendapatan petani meningkat, dan akses terhadap pasar terbuka lebar, bahkan mampu mencatatkan ekspor. Upaya memperkuat fondasi perekonomian di tingkat desa ini dapat dilihat juga sebagai upaya mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) atau tujuan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Hal tersebut selaras dengan perwujudan cita-cita Astra: sejahtera bersama bangsa.