
Saya kira, buku bagi Mohamaad Hatta ibarat kekasih. Ia dirawat dengan cinta dan diperlakukan secara istimewa. Sudah banyak tulisan mengenai kecintaan Bung Hatta terhadap buku-bukunya. Saya mencoba menambah daftar tulisan tersebut berdasarkan cerita yang saya baca dalam buku Untuk Negeriku, khususnya di bagian Berjuang dan Dibuang.
Seperti kita ketahui, Bung Hatta merupakan salah satu pejuang kemerdekaan Indonesia yang pernah dibuang pemerintah kolonial Hindia Belanda. Saat dibuang ke rimba raya Boven Digul, Bung Hatta turut memboyong buku-bukunya. Tak tanggung-tanggung, ada 16 peti besi buku berukuran ¼ m³. Jadi totalnya 4 m³ buku. Dibutuhkan waktu tiga hari untuk mengepaknya, cukkk. Buku-buku yang dibawa sebagian besar merupakan koleksi Bung Hatta saat menempuh pendidikan di Belanda.
Ada satu momen menarik antara Bung Hatta dan buku. Pada penghujung tahun 1921, Jerman dihantam inflasi. Perbandingan mata uang gulden Belanda dengan mark Jerman 1 berbanding 100. Sebelum Perang Dunia 1, perbandingannya 10 dengan 6. Satu mark Jerman nilainya 60 sen Belanda.
Ketika sedang berada di Jerman, Bung Hatta membeli buku dengan mata uang gulden. Buku dengan harga ratusan mark jadi lebih murah ketika dibayar dengan gulden. Jika dihitung dengan gulden, harga itu dibagi dengan seratus. Maka Bung Hatta memborong buku-buku seperti buku Gustav Schmoller, Grundrisz der Algemeinen Volkswirtschaftlehre, dua jilid, tebalnya kira-kira 1.400 halaman. Bung Hatta menang banyak!
Tiba di Tanah Merah
28 Januari 1935, Bung Hatta tiba di Tanah Merah, Boven Digul. Lalu timbulah persoalan terkait buku-buku yang ia bawa. Bagaimana cara membawa 16 peti buku? Musababnya, akses jalan sangat terbatas. Jarak dari bestuursterrein ke kampung pembuangan kira-kira 1,5 km. Sementara lebar jalan sekitar 1,5 meter. Satu-satunya cara untuk mengangkut buku, ya, menggunakan tenaga manusia.
“Ini orang sering bikin gerah pemerintah kolonial, masih aja merepotkan diri sendiri dan orang lain hanya gara-gara buku.” Saya kira itulah gerutu dari Wedana Kampung Tanah Merah pada saat itu.
Akhirnya Bung Hatta disarankan untuk meminta tolong orang Kayakaya. Mereka adalah orang pedalaman Boven Digul yang tinggal di dalam hutan. Sebagian dari mereka bekerja untuk orang-orang buangan. Ongkos yang diberikan untuk tiap peti yaitu satu uang kelip senilai 5 sen. Bentuk uangnya bundar dan berlubang di bagian tengahnya.
Suatu hari di bulan November 1935 atau selang 10 bulan kemudian, kabar baik menghampiri Bung Hatta. Ada sebuah telegram dari Ambon yang berisi putusan pemerintah Hindia Belanda bahwa Bung Hatta akan dipindahkan ke Banda Neira di Kepulauan Maluku.
Kapten Wiarda memberitahukan Bung Hatta bahwa kira-kira 4 hari lagi akan datang kapal dan keesokan harinya berangkat dari Boven Digul. Bung Hatta boleh menumpang kapal tersebut. “Itu lebih untuk Tuan,” kata Kapten Wiarda
Namun, Bung Hatta ingin mengundur jadwal keberangkatan ke Banda Neira. Ia beralasan ingin meminta kembali buku-buku yang dipinjamkan ke sesama Digulis untuk kemudian mengepaknya ke dalam peti besi.
Selama di tempat pembuangan, Bung Hatta dengan baik hati meminjamkan buku-buku yang sekiranya mudah dibaca kepada kawan-kawan sesama orang buangan. Tentunya dengan jangka waktu tertentu. Ia juga memberikan pelajaran tentang ekonomi dan sekali-kali tentang filsafat tiap dua kali seminggu.
Kembali lagi ke persoalan buku. Bung Hatta rela mengubah jadwal keberangkatan ke Banda Neira demi mengurus buku-bukunya. Ia kembali meminta bantuan kepada orang Kayakaya. Kata Hatta, “Mereka sudah mengalami kemajuan dalam berpikir.” Hatta meminta 20 orang Kayakaya untuk membawa barang bawaannya ke kapal. Ongkosnya bukan lagi satu kelip, melainkan satu ketip yang bernilai 10 sen. Bung Hatta dengan senang hati membayarnya.
Bung Hatta meninggalkan Boven Digul menuju Banda Neira pada akhir Desember 1935 atau awal Januari 1936. Ada jeda lebih dari sebulan untuk meninggalkan tempat pembuangan –yang dihuni pembunuh senyap dalam wujud nyamuk Anopheles betina tersebut– gara-gara buku!
Kesaksian Meutia Farida Hatta
Ingatan tentang sosok Ayah dan buku-bukunya masih melekat kuat di dalam kepala Meutia Farida Hatta, anak sulung pasangan Mohammdad Hatta dan Rachmi Hatta. Dikutip dari buku Bung Hatta di Mata Tiga Putrinya, cetakan kedua, April 2016, Meutia bercerita bahwa Ayahnya mengoleksi buku sejak usia 16 tahun ketika mulai belajar di Prins Hendrikschool di Batavia.
Koleksi buku yang tersimpan di perpustakaan rumah Bung Hatta di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, mencapai 8.000 judul. Ini belum termasuk koleksi yang ada di rumah Megamendung, Bogor. Koleksi buku Bung Hatta meliputi berbagai subjek seperti ilmu ekonomi, hukum, tata negara, administrasi negara, filsafat agama, politik, sejarah, sosiologi, antropologi, hingga sastra.
Tumbuh-kembang Meutia tentu saja dikelilingi ribuan buku-buku koleksi sang Ayah. Hal ini membuat Meutia juga gemar membaca buku. Meutia mengaku, salah satu jenis buku bacaan favoritnya adalah Mahabrata karya R.A. Kosasih dan bacaan serial Winnetou yang mengisahkan tentang kehidupan Winnetou, seorang pemuda Indian Amerika, putra kepala suku Apache karangan Karl May.
“Hal ini berdampak positif. Ketika saya masih kuliah di Jurusan Antropologi. Salah seorang dosen saya Dr. Pandam Guritno, ahli kesusateraan Nusantara. Dari tes dan ujian yang beliau berikan kepada mahasiswa, saya dapat memperoleh nilai tertinggi untuk pertanyaan yang menyangkut falsafah wayang dan karakter wayang yang beraneka ragam,” tulis Meutia. Meutia kelak menjadi dosen di kampus Universitas Indonesia. Pada 25 Maret 2006, Meutia dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Antropologi Universitas Indonesia.
Usai meletakkan jabatan sebagai Wakil Presiden RI, Bung Hatta makin telaten memperlakukan buku-buku koleksinya. Guna mempermudah pendataan koleksi buku di perpusatakaan rumahnya, Bung Hatta dibantu Gustav Apituley, seorang ahli perpustakaan. Gustav menata buku-buku sesuai subjeknya.
“Tiada hari tanpa buku, dan juga berarti tiada hari libur tanpa baca buku,” tulis Meutia mengenang kebiasaan ayahnya tersebut.
Lalu, apa kabar kamu, tuan dan nona, yang memiliki niat untuk gaspol membaca buku, tapi berujung rebahan sambil sekrol-sekrol HP, hahh ?!!!
Di hadapan Bung Hatta, kamu tidak boleh sembarangan memperlakukan buku seperti membacanya dengan cara melipat, yakni menyatukan antara sampul depan dan sampul belakang. Meutia menulis, “Di rumah kami, semua itu menjadi pantangan sehingga buku-buku saya sampai sekarang masih kelihatan seperti baru. Ini merupakan pendidikan Ayah tentang cara memperlakukan buku yang telah memberikan kita tambahan pengetahuan. Karena diajarkan dari kecil, itu akhirnya menjadi kebiasaan yang terasa risih bila ditinggalkan: duduk manis, tangan dilipat, dan satu aturan lagi, buku tidak boleh dicoret atau diberi tanda dengan cara dilipat ujungnya.”
Etika membaca buku yang digambarkan dalam paragraf sebelumnya bisa saja dianggap sebagai hal remeh-temeh yang terlalu berlebihan –untuk tidak mengatakannya lebay. Perilaku tersebut sebetulnya mencerminkan kesederahanan, tapi memiliki makna yang sangat dalam, bagaimana mantan pejabat setingkat wapres yang betul-betul menunjukkan kepekaan, kepedulian, kecintaan, dan haus ilmu pengetahuan, bukan seorang wapres yang haus akan kekuasaan yang diperoleh dengan cara mengacak-acak konstitusi, naudzubillahimindzalik.