
Pagi itu matahari belum beranjak sepenuhnya di langit Kampung Gunung Sanggar, Desa Sukamulya, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor, saat 7 orang anak berseragam SD berkumpul di depan rumah Ramdan. Dua orang merupakan siswa perempuan. Sementara sisanya merupakan siswa laki-laki. Semua alas kaki siswa menggunakan sandal jepit. Ujung celana siswa laki-laki digulung hingga mata kaki. Dua di antaranya bahkan digulung hingga betis. Mereka menunggu sang tuan rumah yang sedang sarapan.
Tak lama kemudian, Ramdan dkk bergegas menuju sekolah di Kampung Mulyasari yang berjarak 2 kilometer. Kaki-kaki mungil mereka berjalan menyusuri pematang sawah. Di tengah perjalanan, mereka harus menyeberangi sungai selebar 2 meter. Tak ada jembatan, mereka berpijak pada bebatuan di sungai.
“Kalau hujannya deras gak berangkat sekolah. Tapi kalau hujannya kecil, tetap berangkat,” kata Ramdan.
Ocim, kakek Ramdan bilang, jika hujan deras, sungai tersebut kerap meluap. “Hal ini tentu saja bisa membahayakan keselamatan anak-anak,” tutur Ocim dengan mimik muka serius.
Usai menyeberangi sungai, mereka melewati trek perkebunan, lalu melahap dua tanjakan terjal. Di musim penghujan, perjalanan kian bertambah sulit. Jalanan menjadi becek, berlumpur, dan tentu saja licin.

Ramdan dkk menyeberangi sungai saat hendak menuju sekolah.
Sehari sebelumnya, saya bersama dua orang kawan melewati jalur ini untuk keperluan survey lokasi liputan, sekaligus mencari narasumber. Tepat di-spot tanjakan terjal kedua, kami berhenti sejenak mengatur irama napas yang kewalahan. Paha dan betis terasa pegal sekali.
Setelah menempuh setengah jam perjalanan, para tunas bangsa tersebut tiba di sekolah. Karena tak memiliki ruang belajar yang layak, para siswa belajar di emperan musala dan teras rumah warga. Emperan musala diperuntukan bagi siswa kelas 5 dan 6. Sementara teras rumah warga dijadikan ruang balajar siswa kelas 1-4.
Awal 2023 lalu, bangunan ruang kelas rusak. Lalu direnovasi. Tapi hingga kini, kelanjutan proses renovasi tak jelas juntrungannya hingga bangunan jadi terbengkalai.

Bangunan sekolah filial Kampung Mulyasari yang terbengkalai.
Tempat Ramdan dkk menimba ilmu merupakan sekolah filial atau sekolah kelas jauh. Sekolah ini menginduk ke SDN Sukamulya 02, berjarak hampir 3,5 kilometer. Total ada 46 siswa yang mengikuti kegiatan belajar di sekolah ini.
Di sekolah filial ini hanya ada dua orang guru honorer yang setia mengajar: Hasanudin Basri dan Usin Ardiansah. Hasanudin merupakan lulusan Sekolah Menengah Atas. Kini, ia sedang menempuh pendidikan tinggi. Hasan mengajar siswa kelas 5 dan 6. Sementara Usin lulusan sebuah pesantren. Ia tengah menempuh pendidikan kesetaraan paket B. Usin mengajar peserta didik kelas 1-4.
Nyala semangat di tengah keterisolasian

Saya bersama Ramdan dan saudara perempuannya.
Kampung Gunung Sanggar berjarak sekitar 31,1 kilometer arah tenggara dari pusat pemerintahan Kabupaten Bogor di Cibinong. Kampung yang cuma dihuni 16 KK ini diapit sawah dan perbukitan. Tempatnya asri. Udaranya segar.
Akses warga ke fasilitas publik sangatlah buruk. Bidang pendidikan salah satunya. Kondisi ini diperparah dengan akses jalan keluar dan masuk kampung yang memprihatinkan. Warga mesti melewati kontur jalan berupa tanah, bebatuan, dan berlumpur. Bahkan di salah satu spot harus melewati sisa material longsor.

Saya dan anak-anak Gunung Sanggar menyusuri pematang sawah menuju sekolah yang berlokasi di kampung tetangga.
Tapi, keterisolasian tak membuat Ocim patah semangat untuk menyekolahkan Ramdan. Ia tak mau sang cucu mengikuti jejak dirinya yang tidak mengenyam bangku pendidikan sama sekali.
Ocim sadar, pendidikan merupakan ikhtiar paling masuk akal untuk memperbaiki nasib seseorang. Ia ingin melihat cucunya tumbuh dengan cerdas. Ocim memiliki keinginan cucunya yang ia rawat sejak umur 40 hari tersebut dapat meneruskan pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi.
Ocim bahkan rela memeras keringat dan tenaga guna membabat rumput dan ilalang di sepanjang jalur menuju sekolahan. Sebab, anak-anak takut berpapasan dengan binatang liar seperti babi.

Siswa sedang belajar di emperan musala Kampung Mulyasari.
Saat musim penghujan, alarm kewaspadaan makin meningkat. Jika Kampung Gunung Sanggar dihajar hujan pada malam hari, esok harinya Ocim akan mengantar Ramdan dkk menuju batas sungai. Ia kuatir arus sungai deras sehingga menyulitkan anak-anak saat menyeberanginya. Hal ini berlaku pula ketika turun hujan pada jam pulang sekolah. Ocim akan stand by di dekat sungai untuk menjemput Ramdan dkk.
Harapan Ocim bagi pemerintah amatlah sederahana. “Saya ingin dibangunkan jembatan supaya anak-anak bisa nyeberang sungai dengan tenang,” pinta Ocim.
Akses pendidikan yang sulit dijangkau masyarakat bisa jadi berpengaruh terhadap niat dan minat anak menimba ilmu. Maka tak heran pada 2023, menurut data BPS, rata-rata lama sekolah ada di angka 8,77 tahun. Padahal pemerintah menggembar-gemborkan program wajib belajar 12 tahun.
Mirisnya lagi, pengamat pendidikan yang saya temui bilang, selama 10 tahun terakhir, angka rata-rata lama sekolah hanya naik 1 poin saja.

Siswa harus menempuh trek perkebunan dengan kontur jalan berlumpur dan licin.
Realita yang terjadi di Kampung Gunung Sanggar merupakan secuil wajah pendidikan kita hari ini yang menyedihkan. Anak-anak harus bersusah payah, pontang-panting, bahkan kudu bertaruh nyawa menuju sekolahan.
Mewujudkan fasilitas pendidikan yang layak, adil, dan akses yang mudah dijangkau, tentunya lebih masuk akal, alih-alih menguras anggaran hingga ratusan triliun untuk program makan bergizi gratis, bukan?
*Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Instagram, 2 Maret 2024. Ada pengembangan cerita dalam publikasi di blog ini. Untuk melihat tayangan perjuangan Ramdan menuju sekolah, bisa diakses pada tautan berikut https://www.youtube.com/watch?v=NWrm2CvCG8Q&t=503s