
Sejumlah buku sejarah adaptasi dari karya tulis ilmiah yang pernah saya baca biasanya melecut otak untuk bekerja lebih keras dalam mencerna isinya. Seringkali perlu lebih dari sekali memamah informasi yang ada di dalamnya supaya betul-betul paham. Ini boleh jadi disebabkan teknis penulisan yang bikin tulisan tampak serius dan membosankan. Pengecualian layak disematkan bagi buku Gerwani Kisah Tapol Wanita di Kamp Plantungan karya Amurwani Dwi Lestariningsih.
Seperti dijelaskan dalam sekapur sirih, buku sejarah ini merupakan adaptasi dari tesis penulis pada program Pascasarjana Universitas Indonesia berjudul “Tahanan Politik Wanita di Plantungan, Kendal, Jawa Tengah, 1969-1979”. Informasi yang dikumpulkan dalam penelitian tersebut bersumber dari hasil wawancara (sumber lisan) seperti dengan eks tahanan politik atau tapol kamp Plantungan, bekas petugas jaga kamp Plantungan, dan warga sekitar kamp Plantungan. Buku ini juga dilengkapi informasi yang bersumber dari sejumlah literatur berbasis cetak (sumber tulisan).
Buku Gerwani Kisah Tapol Wanita di Kamp Plantungan terbagi dalam 5 bab. Bab 1 menceritakan sejarah lokasi kamp Plantungan. Topik mengenai profil dan sejarah organisasi Gerakan Wanita Indonesia atau Gerwani diulas di bab 2. Sementara bab 3 hingga bab 5 menceritakan kisah para tapol saat menjadi buronan, berada di tahanan ibu kota hingga menjalani kehidupan di dalam kamp Plantungan.
Isu pokok yang diangkat dalam buku ini memang membahas kisah tapol perempuan. Sementara pembahasan mengenai organisasi perempuan progresif dan legendaris Gerwani, saya kira untuk memberikan konteks kenapa banyak perempuan yang diburu aparat militer pascaperistiwa Gerakan 30 September 1965 atau G30S.
Isu Gerwani maupun tapol yang berkaitan dengan G30S boleh dibilang pelik dan kompleks. Kepala ini acap kali dibuat pening ketika merangkai puzzle informasi guna memperoleh informasi mengenai kekerasan yang terjadi pascaperistiwa G30S secara utuh. Namun, membaca buku sejarah setebal 296 halaman terbitan Penerbit Buku Kompas edisi cetakan kedua Desember 2011 ini, ternyata asik dan menyenangkan.
Kenapa bisa asik dan menyenangkan? Pertama, tulisan dalam buku ini dikemas dengan lugas dan disajikan dengan teknik bertutur yang apik. Alhasil, informasi di dalamnya tidak membosankan dan tidak bikin alis mengkerut. Saya kira, jika buku pelajaran sejarah di bangku pendidikan ditulis dengan pendekatan seperti buku Gerwani Kisah Tapol Wanita di Kamp Plantungan ini, bisa menarik minat baca para peserta didik.
Kedua, buku ini ditopang oleh hasil penelitian mendalam yang menjadi ciri khas karya tulis ilmiah. Dalam bab pembahasan mengenai sejarah kamp Plantungan dan sepak terjang Gerwani di panggung politik Indonesia, penulis menyajikan informasi dengan detail. Amurwani seakan membawa pembaca menelusuri jejak sebuah dunia tersembunyi di masa lalu bernama kamp Plantungan. Informasi yang melimpah ruah dan disajikan secara detail tentu saja memperkaya horizon pengetahuan pembacanya.
Ketiga, ini adalah poin yang bikin saya kesengsem: kehidupan para tapol di kamp Plantungan. Penyiksaan, kekerasan verbal, kekerasan fisik, hingga kekerasan seksual terhadap tapol wanita barangkali sering Anda dengar ketika mengulik isu tapol 65. Tapi, saya enggan mengulas peristiwa-peristiwa tersebut karena hanya semakin memupuk kedongkolan terhadap organ negara tolol yang buta nilai kemanusiaan. Amurwani menyibak sisi lain kehidupan tapol: relasi sesama tapol atau tapol dengan petugas jaga kamp, misalnya. Topik ini menarik diulas lebih dalam.
Kisah tentang ketololan
Di Kamp Plantungan, kita bisa melihat ketololan bak koin yang memiliki dua sisi saling bertolak belakang. Ketololan bisa hadirkan angin segar bagi tapol. Tapi disaat lainnya, ketololan bisa membawa tapol pada sebuah malapetaka.
Cerita Mia Bustam, mantan istri pelukis legendaris Sudjojono, misalnya. Ketololan petugas kamp membuat Mia leluasa absen mengikuti senam pagi. Padahal dia cuma malas saja. Saya cuma bisa cengar-cengir membayangkan sikap petugas kamp yang termuat dalam cerita berikut:
“Sejak masih sekolah, aku tidak pernah menyukai senam, malas melakukannya. Untuk acara senam di Plantungan, aku berhasil mendapat dispensasi dari Pak Kanto, perwira yang mengambil apel pagi, pertama itu. Sebagai alasan kukemukakan bahwa jantungku tak kuat. Seandainya sudah ada dokter, aku pasti diharuskan mengikuti senam yang justru menyehatkan itu. Tapi Pak Kanto bukan dokter sehingga bisa kukelabui, padahal aku sebenarnya hanya malas saja.”
Tapi, ketololan satunya lagi hampir bikin Mia Bustam terjerat dalam bahaya. Padahal urusannya remeh-temeh saja. Ceritanya begini: komandan kamp pernah menunjuk Mia sebagai kepala taman. Otomatis Mia memiliki tugas untuk mengatur penempatan bunga. Mia memiliki ide untuk menambahkan ornamen bebatuan agar orang-orang yang melintas tidak menginjak rumput. Nah, jumlah batunya ada 9. Jumlah batu inilah yang jadi akar masalahnya. Hal ini dituturkan Mia Bustam dalam wawancaranya dengan Amurwani:
“Bu Mia, kenapa batu itu berjumlah sembilan?” tanya Mayor P.
“Lho … saya nggak tahu, pak, apa batu itu jumlahnya sembilan, yang pasti batu itu saya letakkan di situ secukupnya supaya enak dilihat dan kita dapat berjalan di taman tanpa menginjak rumput,” Jawab Mia.
Mia menduga angka 9 diidentikan dengan bulan September. Sejak peristiwa ini, “angka 9” jadi warning dan Mia selalu mengingatkan teman-teman tapol agar tidak membuat sesuatu yang berkaitan dengan angka 9.
Komedi dalam tragedi
Kehidupan di dalam kamp Plantungan bisa berbalik 360 derajat dalam sekejap. Untuk sesuatu hal yang absurd saja, tapol bisa dikenai hukuman tak masuk akal. Beragam kesulitan bisa saja membuat tapol menyerah pada keadaan. Tapi ada juga tapol berjiwa besar yang mampu menanggapi tragedi dengan lelucon.
Suatu saat, komandan kamp ngamuk kepada Dr. Sumiyarsi, salah satu tapol. Masalah ini dilatari protes atas kualitas beras jatah tapol yang dinilai busuk. Dr. Sumiyarsi diminta sejumlah tapol untuk melaporkan hal ini kepada komandan kamp. Gobloknya, hal ini dianggap sebagai suatu pemberontakan.
Komandan kamp lantas memanggil Dr. Sumiyarsi untuk meminta penjelasan. Namun sayangnya, komandan kamp tidak terima dengan argumen yang dipaparkan Dr. Sumiyarsi. Komandan kamp lantas memindahkan Dr. Sumiyarsi dari Blok D ke Blok C yang dijuluki sebagai “kandang babi”: tempat isolasi bagi tapol yang dicap sebagai pemberontak.
Sejumlah tapol penghuni Blok C1 dan C2 segera menyambut kehadiran Dr. Sumiyarsi, “Selamat datang di pig pen, maksudnya kandang babi.”
Lalu bagaimana respons Dr. Sumiyarsi?
“Dari kandang ternak ke kendang babi. Terima kasih untuk nama artistik itu!” Semua tertawa dan bertepuk.
Benang warna merah
Tidak semua tapol memegang prinsip senasib sependeritaan saat menyandang status penghuni kamp Plantungan. Sikap peduli maupun saling menghormati sesama tapol bisa menguap begitu saja. Entah untuk mengantongi keuntungan pribadi, caper, atau alasan lainnya, sejumlah tapol bisa bersalin rupa jadi “cecunguk”. Mereka jadi informan untuk petugas jaga kamp. Mereka akan mengendus segala tindak-tanduk tapol yang bertentangan dengan peraturan. Jika informasi sampai ke telinga komandan, risiko berat mesti dipikul tapol. Biasanya para tapol punya kode tertentu jika ada “cecunguk” mendekat.
“Saat melakukan pekerjaan untuk menyulam, kami biasa melakukan dengan beberapa orang teman, tetapi kami tidak diperbolehkan duduk bergerombol sambil ngobrol. Kalau lebih dari tiga orang, kami dikatakan ngerpol, yaitu ngomong tentang kegiatan politik. Lha… kami ini kan biasanya menyulam dengan ngobrol, tapi ini tidak boleh. Aneh kan? Pernah waktu kami lagi ngobrol, tiba-tiba ada “cecunguk” datang, langsung saya bilang, ‘Eh…minta benang merah.’ Jadi kami kasih kode kalau cecunguk datang itu dengan benang merah. Setelah itu kami terus diam,” begitulah kesaksian salah seorang tapol yang diwawancarai Amurwani di bilangan Jakarta Selatan.
“Lendir” di balik kamp Plantungan
Dipisahkan dari keluarga secara paksa. Tidak ada penghormatan untuk hak asasi. Ditempatkan di sebuah lokasi terpencil bekas tempat penampungan penderita kusta. Tak salah jika faktor-faktor tersebut memantik aggapan sejumlah tapol hidup dalam sepi dan diliputi keputusasaan. Tak bisa ditutup-tutupi pula bahwa sebagian dari mereka butuh perhatian dari lawan jenis: singkatnya wadah untuk menyalurkan kebutuhan biologis. Situasi makin klop manakala para petugas kamp diisi oleh kaum lelaki. Bak tutup ketemu botol, situasi ini merupakan “klik” hubungan antara sejumlah tapol dengan petugas jaga kamp.
“Wah…kalau kita nggak kuat iman, bisa hancur. Mereka badannya molek, ayu, putih. Betul itu. Misalnya kalau kita sedang kontrol keliling untuk melihat aktivitas mereka yang sedang menyulam atau menjahit, mereka langsung duduknya dibuat sangat menantang. Itu kalau tahu ada petugas yang datang untuk mengontrol. Mereka buka celana dalam (tidak memakai celana dalam), hanya rok saja. Jadi duduknya dibuat sedemikian rupa, seolah-olah mereka tidak tahu,” begitulah cerita seseorang bekas petugas jaga kamp.
Lebih detailnya, Amurwani menggambarkan hubungan tapol dengan petugas jaga kamp seperti berikut ini:
“Hubungan antara petugas yang hampir semuanya laki-laki dan tahanan politik yang semuanya wanita menimbulkan suatu hubungan yang istimewa jika tidak dapat terkendalikan. Pada kenyataannya, hubungan di antara dua manusia yang berbeda jenis kelamin itu dilakukan antara petugas jaga kamp dan tahanan politik. Adakalanya hubungan itu dilakukan atas dasar suka suka sama suka. Ada juga hubungan yang dilakukan terpaksa.”
Situasi inilah yang kelak melahirkan para “cecunguk” seperti dikisahkan Dr. Sumiyarsi sebagai berikut:
“…seorang tapol muda yang cantik menjadi pelayan rumah tangga sekaligus dijadikan teman tidur sang komandan, di samping ia pun dijadikan kinasih untuk mematai-matai tapol yang lain juga. Komandan tapol adalah seorang yang berkuasa, apa yang dapat dilakukan oleh tapol perempuan muda cantik yang belum banyak pengalaman di bawah wewenang komandannya serta perintah diktatornya.”