
Negarawan sejati. Jenius. Kutu buku. Visioner. Seorang poliglot. Teladan soal integritas tak perlu diragukan lagi. Ihwal kepentingan rakyat, seperti tarikan napas dalam hidupnya. Bahkan, tempat “peristirahatan” terakhirnya membaur bersama rakyat. Ia enggan “dibaringkan” bersama barisan nisan di Taman Makam Pahlawan. Itulah yang ada di benak saya ketika mendengar sosok Mohammad Hatta, salah satu “bapak” pendiri bangsa ini.
Barangkali banyak orang mengenal Mohammad Hatta karena perannya sebagai proklamator kemerdekaan Indonesia bersama Soekarno atau juga sebagai wakil presiden pertama Republik Indonesia. Sisi lain Bung Hatta sebagai penulis produktif menarik untuk diulas.
Bayangkan saja, selama masa hidupnya, sejak usia 16 sampai 77 tahun, Bung Hatta telah melahirkan 800 karya tulis dalam berbagai bentuk seperti buku, artikel, esai, makalah, pidato, dan ceramah (Antaranews.com, 18/11/2018).
Salah satu karya yang menarik untuk dibaca ialah otobiografi berjudul Untuk Negeriku. Otobiografi ini terbagi dalam tiga buku: Bukittinggi-Rotterdam Lewat Betawi, Berjuang dan Dibuang, dan Menuju Gerbang Kemerdekaan.
Bagian pertama Bukittinggi-Rotterdam Lewat Betawi mengisahkan masa kecil Bung Hatta di Bukittingi, Sumatera Barat. Memasuki masa remaja, ia pindah ke Batavia untuk melanjutkan pendidikan. Usai merampungkan sekolah di Batavia, Bung Hatta meneruskan pendidikan tinggi di Handels Hoogere School atau Sekolah Tinggi Ekonomi di Rotterdam, Belanda. Buku bagian pertama ini paling tebal dibanding dua buku lainnya.
Sementara Berjuang dan Dibuang memaparkan periode perjalanan Mohammad Hatta di Tanah Air –sekembalinya dari Belanda, dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Karena aktivisme di bidang politik, pemerintah kolonial Belanda mengasingkan Bung Hatta ke Boven Digoel, Papua, dan Banda Neira, Maluku.
Buku bagian ketiga Menuju Gerbang Kemerdekaan mengulas peran Bung Hatta dalam persiapan kemerdekaan Indonesia beserta dinamika yang terjadi di dalamnya.
Hal-hal Menggelitik di Sekitar Bung Hatta
Otobiografi Untuk Negeriku mengulas kisah perjalanan hidup Mohammad Hatta yang disampaikan secara runut. Masing-masing bagian buku punya catatan menarik, kendati isinya boleh dibilang agak serius. Dalam buku Bukittinggi-Rotterdam Lewat Betawi, misalnya, terselip sejumlah kisah yang mengundang tawa.
Pada 3 Agustus 1921, Bung Hatta berangkat dari Teluk Bayur dengan menaiki kapal Tambora milik Rotterdamse Llyod menuju Rotterdam. Bung Hatta mendiami kelas 2. Saat kapal singgah di Port Said, Mesir, sebagian besar penumpang turun ke darat untuk sekadar melepas suntuk lantaran telah berhari-hari menghabiskan waktu di dalam kapal. Tapi saat itu, Bung Hatta memilih berdiam diri di dalam kapal.
Kedatangan kapal di Port Said tentu saja menjadi peluang ekonomi bagi warga lokal untuk mendulang cuan. Tak terkecuali bagi peramal. Ahli nujum ini menaiki kapal dan segera “menjual keahliannya” kepada para penumpang. Ajaibnya, semua ramalan kehidupan “pasien” nya happy ending.
Bung Hatta cerita, salah satu satu penumpang –seorang mahasiswa asal Surabaya, menolak memberi “biaya jasa” setelah si peramal berbusa-busa soal sejarah hidup manusia selama 15 menit. Seperti biasa, kesimpulan hasil penerawangan si peramal berakhir dengan cerita manis.
Ahli nujum ini makin jengkel saat arek Suroboyo tersebut berkelakar, “Apabila Tuan benar-benar ahli nujum, pandai menerka yang akan terjadi, tentu Tuan sudah tahu bahwa aku sama sekali tidak bermaksud akan membayar nujuman Tuan itu.” Dengan tertawa, dia ulangi mengatakan, “Tuan dari semuanya ‘kan sudah mesti tahu aku tidak akan membayar. Apa sebab Tuan minta uang kemudian?”
Jelaslah makin dongkol si ahli nujum itu. Lalu dia menatapkan matanya ke muka mahasiswa. Kira-kira satu menit kemudian, ia berkata, “Besok Tuan akan meninggal,” sambil melengos pergi. Kontan saja mashasiswa tersebut jiper. Perkataan tukang ramal itu terngiang-ngiang di dalam kepalanya untuk beberapa hari.
Selama menempuh pendidikan di Eropa, Bung Hatta gemar membeli buku dengan beragam tema. Ia membacanya dengan lahap. Termasuk pula buku yang berkaitan dengan ilmu ekonomi. (Kisah ikatan batin Bung Hatta dengan buku-bukunya akan ditulis menyusul, yes.) Hal tersebut merupakan bagian dari persiapan Bung Hatta untuk menempuh ujian Diploma Handelseconomie.
Sesi ujian ini dibagi menjadi dua bagian. Usai menjalani ujian bagian pertama, ketua komisi ujian memberitahu bahwa Hatta lulus tanpa catatan. Artinya, Bung Hatta dipersilakan mengikuti ujian bagian kedua pada pekan depannya.
Pada ujian bagian kedua, Bung Hatta menghadapi tiga orang penguji: Prof. N.J. Polak untuk Ekonomi Perusahaan, Lektor G. Goggrijp untuk ekonomi kolonial, dan Lektor W.E. Boerman untuk Ilmu Bumi Ekonomi.
Bung Hatta menjawab dengan lancar pertanyaan para penguji. “Tetapi tatkala dibelokannya pertanyaannya tentang dagang waktu di Batavia, aku gugup menjawabnya. Kucoba menjawab menurut teori dagang waktu dalam buku-buku yang kubaca, dikatakannya tidak begitu,” tulis Bung Hatta. Ia mencoba menguraikan jawaban tersebut kepada Prof. Polak sekitar 10 menit. Jawabannya itu dinilai ngawur.
Prof. Polak lantas bertanya, “Adakah bursa di Batavia?” Lalu Bung Hatta menjawab, “Tidak ada.” Kontan Prof. Polak menyambar, “Kenapa dari semulanya tidak Tuan katakan? Kalau dari tadi Tuan sebutkan bahwa tidak ada bursa di Batavia, tidak perlu kita menghabiskan waktu berputar-putar selama lebih dari 10 menit.”
Saya kira, cuma diri ini saja yang memegang prinsip “yang penting yakin dulu saja” saat menghadapi sebuah keraguan. Ternyata, Bung Hatta pun pernah melakukannya. Tapi tetap berkelas, elegan, dan “asbun” nya merujuk pada buku, cokkkk.
Setelah sesi ujian rampung, Prof. Polak mengabarkan bahwa hasil ujian Hatta tidak memuaskan. Bung Hatta diminta kembali menghadapi ujian tiga bulan berikutnya alias remedial.
Saat liburan Natal dan perpisahan tahun dari 1921 ke 1922, Bung Hatta plesir besama Dahlan Abdullah –kawan sesama urang awak. Di Jerman, keduanya bertemu Usman Idris –sobat Dahlan Abdullah ketika sama-sama sekolah raja di Bukittinggi.
Pada suatu malam saat di Hamburg, mereka makan di sebuah restoran. Dahlan Abdullah, Dr. Eichele, dan Usman Idris memesan bir untuk minum. Sementara Bung Hatta memesan air es. Kedua rekannya mengira Bung Hatta sedang ngirit.
“Setelah selesai makan dan membayar harganya, aku ditertawakan oleh Dahlan Abdullah bahwa minumanku, air es, lebih mahal harganya daripada bir,” tulis Hatta.
Selain ke Jerman, Bung Hatta juga melakukan perjalanan ke sejumlah negara Eropa lainnya, salah satunya kota Wina, Austria. Ceritanya, Hatta dan Dahlan Abdullah hendak menemui Dr. Kroll, dosen di Universitas Wina yang sebelumnya pernah mengajar di STOVIA, Weltevreden –sekarang menjadi Museum Kebangkitan Nasional.
Dr. Kroll membawa sang istri saat menemui Bung Hatta dan Dahlan Abdullah. Keempat orang tersebut bertatap muka di hotel tempat Bung Hatta dan Dahlan menginap.
Berasal dari negara agraris di mana tanaman padi dapat tumbuh dengan subur, Bung Hatta dan Dahlan terbiasa dengan makanan pokok nasi. Mereka merindukan hidangan nasi. Daratan Eropa tentu tidak ramah untuk tumbuh kembang tanaman padi. Maka, Dahlan inisiatif memesan menu Hungarian Gulash yang selalu dimakan dengan nasi. Semuanya sepakat.
Usai mencatat menu yang dipesan tamunya, herr ober atau pelayan lantas menyebutkan setiap gulash dengan satu porsi nasi. Dahlan Abdullah segera mengoreksi, “Empat porsi gulash dan 10 porsi nasi.” Pelayan tersebut tentu saja terbelalak. Namun, Dahlan tetap bergeming, “Sepuluh porsi nasi untuk kami tidak terlalu banyak, malahan sebenarnya kurang. Kami di negeri kami sehari-hari makan nasi, sebab itu kami tahu berapa banyak makan kami. Tuan bawa sajalah sebanyak yang kukatakan itu kemari.”
Hatta sepakat dengan argumen Dahlan Abdullah, kendati ia cuma makan dua porsi nasi. Sementara Dr. Kroll melahap dua porsi. Istri Dr. Kroll Cuma habiskan satu porsi saja. Lalu Dahlan Abdullah? Ya betul, ia memakan total lima porsi nasi.