
Saya mengenal Britania Sari ketika meliput kasus gizi buruk di Desa Parung Panjang, Kab. Bogor, Jawa Barat, sekitar Februari lalu. Nama Sari, begitu ia disapa, harum di sekitar lingkungan tempat tinggalnya.
Sari menginisiasi gerakan bantuan pangan sehat bagi tetangganya yang berasal dari keluarga prasejahtera. Isi bantuan pangan berupa beras, sayuran, telur, ikan, tahu, tempe, buah-buahan seperti rambutan dan jambu biji. Nilai per paket bantuan setara 50 ribu rupiah.
Biasanya, bantuan pangan dibagikan saban Kamis tiap pekan di halaman rumahnya. Tercatat ada 16 orang penerima manfaat. Mereka ialah ibu hamil dan ibu lansia. Bantuan pangan ini juga sekaligus membantu usaha pedagang kecil lokal yang menjual beragam jenis pangan. Sari membeli pasokan pangan dari mereka.

Foto koleksi Britania Sari/Instagram
Sari juga mengelola empat kebun komunal yang dikelola bersama warga. Kebun tersebut ditanami sejumlah tanaman seperti kangkung, pakcoy, dan bayam. Hasil panen kebun komunal kerap menyuplai kebutuhan program bantuan pangan sehat.
Di belakang rumah Sari, misalnya, terdapat lahan seluas 400 meter persegi. Selain kebun, ada pula kolam ikan, kandang ayam, dan kandang burung puyuh. Tiap empat bulan sekali, ayam dipotong, lalu disertakan dalam bantuan pangan sehat.
Gerakan sosial ini dimulai pada Juni 2023 silam. Pemantiknya adalah saat Sari membagikan ketupat dan opor ayam ke tetangganya jelang hari lebaran. Ia merasa “tertampar” saat mengetahui seorang tetangganya cuma memasak sayur kangkung.
”Jadi saya betul-betul makjleb banget, ya. Sayur kangkung itu kan padahal makanan kita sehari-hari, ya. Tapi untuk orang lain itu adalah makanan istimewa. Nah, sejak saat itu akhirnya kami memutuskan, kayaknya kita perlu buat gerakan di mana kita memanfaatkan lahan-lahan kosong untuk bisa nanam. Lalu juga untuk bisa berternak,” kenang Sari.
Nuraninya makin terusik saat di lingkungannya masih ditemui anak balita yang mengalami gizi buruk. Bahkan pada Januari lalu, Ahmad Maulana, anak dengan gizi buruk meninggal dunia.
”Pas awal sekali fokus kami adalah ingin memberikan support nutrisi kepada ibu hamil. Mulai dari dia hamil hingga anaknya nanti usia 2 tahun. Agar kesehatan ibu terjaga dan juga kesehatan bayi ini terjaga untuk mencegah stunting,” tutur Sari.
Program bantuan pangan sehat juga menyasar kalangan ibu-ibu ketika mereka melakukan penimbangan balita di Posyandu Kasih Ananda. Kegiatan penimbangan balita biasanya berlangsung tiap hari Kamis pada pekan kedua tiap bulannya. Melalui anggaran sebesar Rp. 12.000, tiap anak akan mendapatkan paket lengkap berisi sayuran, protein hewani, protein nabati, dan buah. Isi paket bantuan berupa sayur bayam atau kangkung, 8 butir telur puyuh, 1 papan tempe, jamur tiram, dan pisang.
Kebun dapur keluarga prasejahtera
Sari juga memiliki proyek sosial lainnya, yaitu Kebun Dapur Keluarga Prasejahtera. Melalui proyek ini, Sari membangun samacam kebun berukuran mungil di pekarangan rumah warga. Kebun ini diharapkan bisa memberikan kesempatan bagi warga prasejahtera untuk bercocok tanam, sehingga lahan tidur disulap jadi produktif.
Pekarangan akan ditanami tanaman sayuran dan tanaman obat keluarga atau Toga. Untuk jenis tanaman sayuran ada bayam Brazil, kangkung, bayam, sawi hijau, pakcoy, terong, cabai rawit. Sementara Toga seperti kunyit, jahe, dan sambiloto.

Foto koleksi Britania Sari/Instagram
Proyek sosial yang dilakukan Sari awalnya menggunakan modal pribadi. Tapi belakangan, ada sejumlah donatur yang tergerak hatinya, lalu turut menyokong gerakan bantuan pangan sehat maupun pembuatan Kebun Dapur Keluarga Prasejahtera.
Jika melihat akun instagramnya @britaniasari, sudah ada 3 proyek kebun yang berlokasi di Parung Panjang. “Dengan berkebun di pekarangan rumah, maka artinya kita mengubah keadaan konsumsi menjadi produksi, makan dari hasil yang ditanam untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Sayuran yang ditanam sendiri jelas lebih sehat, karena kita akan mendapatkan nilai gizi yang berkualitas dari kesegaran hasil panen,” tulis Sari.

Foto koleksi Britania Sari/Instagram
Warga bantu warga. Begitulah rupa Sari. Realita di Parung Panjang merupakan potret bahwa masih ada rakyat yang masih pontang-panting menjangkau pangan sehat dan bergizi. “Ibadah sosial” yang dilakukan Sari ibarat oase di tengah gersangnya tingkah-polah para elite kekuasaan yang kerap melahirkan kebijakan tanpa berakar pada kepentingan atau kebutuhan mendasar rakyatnya.
Saya kira, menyematkan “pahlawan pangan” bagi Sari, tidaklah berlebihan.
*Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di instagram, 13 Februari 2025. Ada pengembangan cerita dalam publikasi di blog ini.