Hari ini, Jumat, 16 Mei 2025 atau tepat satu bulan lalu merupakan hari terakhir saya ngantor di lantai 6, Menara Kompas, Palmerah Selatan. Saat itu, waktu seakan berhenti sejenak, lalu melemparkan ingatan pada masa 2016 silam.
Usai lulus kuliah pada awal 2016, berkas lamaran kerja disebar ke belasan media massa lintas platform: cetak, online, televisi, dan radio. Pengalaman di organisasi lembaga pers kampus, pengalaman peserta workshop jurnalistik pers mahasiswa yang diselenggarakan Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK), peserta pelatihan jurnalistik intensif Tempo Institute, portofolio artikel yang pernah dimuat di media massa, hingga pengalaman sebagai reporter paruh waktu untuk majalah perusahaan BUMN jadi modal di CV kala itu.
Hari demi hari berlalu. Tapi tak ada “ikan” yang menyambar umpan. Kecewa? Pasti. Kesal? Sudah barang tentu.
Lalu di pertengahan tahun, seorang kawan yang sudah saya kenal baik memberi informasi soal lowongan kerja. Tapi dia tidak memberi tahu detail informasi soal jobdes-nya.
“Kalo lo tertarik, datang aja ke sini,” kata teman saya sambil memberikan alamat kantor di bilangan Ciputat, Tangerang Selatan. Prinsip saya: sikat saja selagi ada kesempatan.
Tak menunggu waktu lama, saya mendatangi alamat kantor tersebut. Tanpa proses administrasi yang berbelit, saya diterima sebagai personal assistant pemilik perusahaan yang bergerak di bidang semacam event organizer.
Sebetulnya, pekerjaan ini bertolak belakang dengan minat saya di bidang jurnalistik. Ini merupakan fase di mana saya sering bolak-balik ke apotek untuk membeli obat flu. Hari demi hari dilewati dengan kegelisahan.
Angin Segar dari Palmerah
Kalender 2016 menunjukkan lembar bulan November saat sebuah pesan SMS mendarat di ponsel. Isinya: undangan psikotes dari KompasTV. Tidak ada persiapan khusus sama sekali untuk menghadapi psikotes ini. Nothing to lose saja. Apalagi saat itu kondisi badan kurang fit karena dihajar flu.
Tak lama dari momen psikotes ini, lagi-lagi kawan baik saya menyampaikan warta yang bikin hati bungah: tender proyek majalah tahun 2017 tembus lagi. Dia meminta bantuan saya untuk menggarap majalah tersebut. Pada 2015 –di penghujung masa kuliah, saya ikut terlibat menggarap majalah yang membahas seputar perkereta apian tersebut sebanyak empat edisi. Sementara untuk terbitan 2017, saya diminta menggarap lima edisi.
Singkat cerita, pada penghujung 2016 saya memutuskan resign dari pekerjaan sebagai personal assistant.
Periode liputan majalah edisi satu rampung pada pertengahan Januari 2017. Pada saat bersamaan, proses rekrutmen di KompasTV berlanjut ke tahap wawancara. Saya berhadapan dengan dua orang eksekutif produser dari program talkshow dan in-depth reporting.
“Kamu lebih suka program talkshow atau in-depth reporting?” tanya Mba Veron. Pewawancara lainnya adalah Mas Oman.
“Saya lebih suka bergabung di program in-depth reporting, mba. Lebih suka ke lapangan,” jawab saya.
Ada hal menarik saat sesi ini berlangsung. Kedua orang yang ada di hadapan saya tersebut tidak membahas capaian akademik: ijazah dan transkrip nilai kuliah. Bahkan kedua barang itu tak disentuh sama sekali. Keduanya mengulas portofolio yang saya bawa: 4 edisi majalah kereta api, artikel yang pernah dimuat di koran Kompas, koran Media Indonesia, sindonews.com, dan satu produk majalah terbitan lembaga pers kampus.
Sesi wawancara yang berlangsung sekitar 30 menit itu berjalan lancar. Saya merasa telah memberikan jawaban terbaik.

Tak berselang lama, datang kabar gembira dari HRD KompasTV: undangan penandatanganan kontrak kerja. Saya ditempatkan di departemen Current Affairs, tepatnya di program Jejak Kasus di bawah komando Eksekutif Produser Veronica Hervy.
Saya resmi jadi jurnalis KompasTV per 1 Februari 2017 dengan status kontrak selama setahun. Percis menginjak tahun kedua, perusahaan mengangkat saya menjadi karyawan tetap. Pada saat bersamaan, saya tetap menulis untuk majalah. Tapi, urusan liputan di lapangan digarap oleh kawan.
Ditinggal Liputan
Pengalaman selama 4,5 tahun di kampus sepenuhnya beririsan dengan kegiatan jurnalistik berbasis cetak dan online. Maka, ketika nyemplung di media televisi, banyak hal-hal teknis yang bikin pening kepala. Apalagi Jejak Kasus merupakan jenis program veritae.
Satu tahun pertama dilalui dengan banyak mengelus dada. Saat proses liputan episode pertama misalnya, saya ditinggal camera person (campers) di lapangan. Sangat chemistry sekali, bukan? Ini jelas perkara komunikasi kami yang sangat buruk.

Wawancara dengan Pj. Bupati Lebak, Banten
Lalu, durasi tayangan episode perdana under 3 menit, cokkk. Tentu saja bikin ketar-ketir editor, produser, hingga eksekutif produser. Mantan pacar yang sekarang jadi istri saya tahu percis bagaimana hari-hari yang saya lalui di fase ini haha.
Pekan ketiga Mei 2018 terjadi rolling. Arif Kardiasnyah a.k.a Mang Konde –produser antik seantero Palmerah Selatan– menggantikan posisi Mas Beski yang digeser ke program Target. Sebelumnya Mang Konde merupakan koordinator campers. Sementara itu, jumlah reporter tetap seperti sebelumnya: tiga orang. Ini adalah komposisi tim ideal untuk sebuah program mingguan televisi.
Timeline produksi tiap episode kira-kira tiga pekan. Jeda antara on air menuju liputan berikutnya sekitar satu pekan. Pada masa ini saya rajin mengikuti berbagai pelatihan jurnalistik yang digelar organisasi profesi jurnalis maupun NGO. Selain untuk meningkatkan kompetensi, kegiatan semacam ini penting untuk membangun jejaring. Kelak, simpul jejaring ini banyak membantu proses liputan. Komunikasi dengan beberapa di antaranya masih terjalin hingga detik ini.
Dari sejumlah agenda yang pernah diikuti, pelatihan jurnalistik investigasi berbasis data sangat membekas dalam ingatan. Kegiatan yang diselenggarakan AJI Indonesia ini berlangsung selama tiga hari dua malam di sebuah hotel di Jakarta Pusat. Pesertanya merupakan jurnalis dari berbagai penjuru nusantara. Pematerinya para maestro jurnalis investigasi Tanah Air: Dhandy Dwi Laksono (founder Watchdoc), Metta Dharmasaputra (eks jurnalis Tempo), Philipus Parera (jurnalis Tempo), dan Agung Sedayu (jurnalis Tempo).

Periode bulan madu di Jejak Kasus berakhir saat awal masa pandemi pada 2020. Program Jejak Kasus bubar. Produser memilih resign. Para reporter disebar ke program lainnya. Saya di-rolling ke program Berkas Kompas. Masa bakti di program ini tergolong singkat: satu bulan saja. Awal Agustus, saya digeser lagi ke program Target, program yang mengulas peristiwa kriminal sekaligus reuni dengan Mas Beski.
Sering “Dikeramas”
Target merupakan salah satu program andalan di departemen Current Affairs. Program Target tergolong oke secara share. Bahkan saya beberapa kali kecipratan bonus karena tembus share. Tiap program punya target share berbeda untuk memperoleh bonus.
Salah satu yang membedakan Target dengan program Jejak Kasus adalah kemunculan reporter di layar. Reporter membuka tayangan dengan PTC atau piece to camera. Pada penghujung tayangan juga terdapat PTC closing.

PTC opening program Target
Perbedaan mencolok antara Target dengan program Jejak Kasus yaitu soal penulisan naskah. Program Target memiliki VO atau voice over alias proses perekaman suara atas narasi yang ditulis. Sementara naskah Jejak Kasus cuma berisi SOT atau sound on tape alias kutipan narasumber.
Di sini saya sering “dikeramas” untuk urusan naskah. Bahkan dalam satu momen, produser mengembalikan naskah yang saya kirim untuk diperbaiki lagi. Tiap kali naskah dicek produser, saya cukup sering dipanggil, lalu duduk di samping kursi produser untuk menyimak bagaimana naskah saya dipermak. Perkara hal elementer seperti pertanyaan yang diajukan ke narasumber, tak luput dari sorotan tajam.
Pelajaran penting yang didapat selama di program Target adalah bagaimana memastikan alur naskah ditulis secara runut sehingga jalan cerita tidak jumping sana-sini. Urusan visual juga sering kena damprat. Meski begitu, saya banyak memungut ilmu di bawah asuhan Mas Beski.
Tantangan Visual
Reportase soal isu kriminal untuk media televisi dengan durasi tayang 30 menit sangat menantang dari sisi visual. Kami mesti hati-hati dan teliti. Apalagi program Target sering kali menggarap kasus yang melibatkan anak-anak sebagai korban kejahatan. Ruang untuk eksplorasi visual terasa sempit.
Produser selalu mewanti-wanti soal Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran atau P3SPS. Ini jadi semacam rambu bagi insan media televisi selain Kode Etik Jurnalistik, tentunya, saat melakukan liputan maupun proses editing. Jika melanggar isi siaran, ya, siap-siap saja berhadapan dengan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

Bercengkrama dengan anak-anak di Merauke, Papua Selatan
Guna mengakali keterbatasan visual, kami biasanya membuat ilustrasi. Tapi lagi-lagi, pengambilan visual ilustrasi pun tak bisa sembarangan. Dibutuhkan kecakapan campers untuk hasilkan visual estetik di tengah keterbatasan yang ada.
“Turbulensi”
Tak dinyana, pada 2022 terjadi transformasi di tubuh departemen. Komposisi unsur pimpinan berubah drastis. Reporter juga kena imbas. Reporter yang sebelumnya berjumlah tiga orang dipangkas jadi dua orang saja. Reporter tak tahu menahu soal perubahan komposisi tim ini.
“Tidak efektif. Reporter banyak waktu nganggurnya,” kata salah satu atasan saya menirukan ucapan si pemimpin departemen anyar saat mengomentari pemangkasan SDM di beberapa program.
Timeline liputan benar-benar mepet. Reporter cuma memiliki satu hari untuk riset sekaligus rapat tema liputan. Lalu, empat hari untuk liputan. Satu hari rapat budgeting. Dua hari bikin naskah dan dua hari lainnya untuk proses editing. Itu hitung-hitungan di atas kertas saja. Realitanya, hari kelima atau keenam masih saja mengejar narasumber disela-sela penggarapan naskah.
Usai liputan mengudara, besoknya langsung rapat tema baru. Proses produksi satu episode berlangsung selama dua pekan. Begitulah siklus dengan sistem dua reporter berjalan.
Di tengah timeline yang rapat, urusan verbatim, copy materi liputan termasuk import materi liputan, hingga rough cut yang notabene merupakan tanggung jawab reporter terasa lebih menguras energi. Sesekali, produser memang turun tangan membantu verbatim. Maka, kehadiran mahasiswa magang sangat membantu meringankan beban kerja. Alangkah pongahnya diri ini jika tak menghaturkan beribu terima kasih untuk kawan-kawan mahasiswa ini.
Imbas yang paling bikin kesal, sih, tak bisa lagi mengikuti pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan pihak eksternal kantor. Biasanya, acara pelatihan berlangsung seharian penuh. Apalagi banyak pelatihan yang digelar lebih dari satu hari. Jika mengikuti acara pelatihan, risikonya akan berbenturan dengan jadwal liputan, penggarapan naskah, atau editing.
Di mata perusahaan, kebijakan efisiensi SDM ini barangkali dianggap sebagai terobosan yang patut diganjar dengan tepuk tangan meriah. Tapi jika diibaratkan pesawat, departemen mengalami turbulensi hebat. Hal tersebut diperburuk dengan pendaratan pesawat yang sangat keras. Unit-unit kecil di dalam tubuh departemenlah yang paling merasakan guncangannya.

Setahun berlalu, perubahan besar di tubuh departemen kembali terjadi. Pucuk pimpinan departemen berganti. Kali ini tak ada turbulensi. Tak ada pula hard landing. Penyegaran dialami program Target yang berganti nama jadi Sasaran.
Dua tahun lebih sedikit saya jadi bagian program Target-Sasaran. Liputan dengan core tema yang senada mulai mengundang rasa jenuh. Dilalah-nya, pada waktu bersamaan terjadi rolling besar-besaran. Saya digeser kembali ke program Berkas Kompas per 1 November 2023.
Berkas Kompas
“Fakkkk. Kok bisa gini, ya, naskahnya.” Begitulah respons saya ketika pertama kali membaca naskah revisian Githa Maharkesri, produser Berkas Kompas. Seingat saya, alur naskah yang saya buat tidak banyak diubah. Begitupun dengan naskah episode lainnya. Kalaupun ada perubahan, itu pun minor. Setelah direvisi, penulisan kalimat jadi lebih ringkas, simpel, dan memakai diksi di luar pakem program Sasaran. Saya tentu suka dengan gaya penulisan naskah seperti itu.
Berkas Kompas merupakan program andalan in-depth reporting KompasTV dalam mendulang award. Sebelum saya bergabung, program ini sudah tiga kali menyabet penghargaan karya jurnalistik paling prestisius di negeri ini: Anugerah Jurnalistik Adinegoro. Piala terakhir diboyong awal 2023. Selain itu, Berkas Kompas juga pernah memenangi Excel Award: penghargaan karya jurnalistik level Asia Tenggara. Ada juga penghargaan dari AJI-Unicef, NGO, hingga kementerian/lembaga.

Tim Berkas Kompas: mahasiswa magang, reporter, produser, dan eksekutif produser
Tak heran kalau melihat reputasi Berkas Kompas mentereng seperti itu. Standar proses liputan maupun pascaliputan memang tinggi dan ketat. Salah satu contohnya urusan wawancara narasumber dari unsur kementerian. Target yang diminta produser adalah menembus menteri. Jika pada akhirnya kementerian memutuskan disposisi narasumber, itu soal lain. Di program sebelumnya cukup mengejar pejabat level dirjen saja.
Sementara catatan lainnya adalah soal editing. Program Berkas Kompas tayang tiap Selasa jam 11 malam. Editing dilakukan tiga editor berbeda pada Senin sampai Selasa. Tiap Selasa pagi hingga jelang masuk QC sekitar jam 7 atau 8 malam, booth editing bak gelanggang yang kerap kali bikin urat saraf menegang.
Produser menyisir konten editing secara teliti supaya hasilkan visual, efek, dan backsound musik ciamik. Hingga aspek paling detail seperti suara “tek” yang muncul sepersekian detik pun mesti dibuang. Padahal saya yakin penonton tidak akan ngeh soal suara tersebut. Kerja brilian produser terlihat di fase ini. Bahkan produser tak segan mengganti backsound musik sebanyak satu segmen setelah melakukan penyisiran.
“Gue gak sreg aja,” kata produser saat ditanya soal alasan mengganti backsound musik sebanyak satu gelondongan. Peristiwa serupa juga pernah saya alami di program Target.

Tim liputan di lapangan: driver, reporter, campers
Visual Berkas Kompas juga lumayan variatif. Suatu hari saya liputan di Lebak, Banten. Ini merupakan liputan Dinas Luar Kota atau DLK pertama di Berkas Kompas. Malam itu, dengan sisa energi yang sudah terkuras usai liputan sejak jam 5 pagi, saya mengirimkan daftar “belanjaan” visual ke produser melalui pesan WA. Koordinasi kami memang biasa melalui pesan WA.
“Visual detail narasumber menatap tebing gak ada?” tanya produser.
Deg. Feeling mulai gak enak. Badan seketika diterjang hawa panas dingin.
“Yah, gak ada, nih,” balas saya.
“Yaudah, besok lo balik lagi ke tempat narasumber. Lo ambil visual profil narasumber menatap tebing,” pintanya. Produser juga mengirimkan referensi melalui tautan tayangan Berkas Kompas di youtube.
Saya segera menghubungi fixer dan meminta dia untuk mengatur pertemuan dengan narasumber. Untungnya narasumber sedang berada di rumah dan bersedia untuk proses syuting ulang. Keesokan harinya, saya balik lagi ke lokasi liputan.
Belakangan saya menyadari bahwa sequence visual detail ekspresi narasumber yang diminta tersebut merupakan trademark visual Berkas Kompas. Sejak peristiwa tersebut, detail ekspresi narasumber merupakan top list “belanjaan” visual liputan yang haram dilewatkan.
Berpihak pada Kaum Marjinal
Tema seperti isu sosial, lingkungan, hukum, Hak Asasi Manusia, pendidikan, kesehatan, agraria, hingga Masyarakat Adat, mewarnai reportase Berkas Kompas. Ada benang merah yang jadi identitas Berkas Kompas: keberpihakan kepada kaum marjinal. Wujudnya bisa dalam rupa nelayan yang kena gusur proyek pengembang raksasa; petani yang terancam digusur dari tanah suburnya; hingga tersisihnya ruang hidup Masyarakat Adat di sejumlah daerah atas nama kepentingan pembangunan negara.
Bagi saya, bergabung dengan program Berkas Kompas ibarat mendapat injeksi bahan bakar ke dalam tangki di dalam jiwa yang telah surut dan kering. Mesin liputan kembali panas. Energi di lapangan bergelora.

Wawancara Masyarakat Adat terdampak proyek pembangunan IKN, Kalimantan Timur
Dibandingkan dengan program Jejak Kasus maupun Target-Sasaran, fekuensi DLK lebih sering didapat di Berkas Kompas. Saya pernah ditugaskan ke Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, untuk meliput dampak pembangunan IKN terhadap kehidupan Masyarakat Adat; Karimunjawa, Jawa Tengah, meliput pencemaran laut akibat tambak udang; Simalungun dan Tapanuli Utara, Sumatera Utara, meliput konflik Masyarakat Adat dengan perusahaan swasta; hingga menginjakan kaki di lokasi paling jauh: Merauke, Papua Selatan, untuk meliput ancaman kerusakan lingkungan akibat proyek ambisius negara.
DLK bukanlah soal kesempatan pergi keluar kota secara “gratis” semata. Tapi biasanya, liputan di daerah lebih “basah” dan dinamis dibanding Jabodetabek. Di sana adrenalin lebih bergolak dibanding liputan non DLK.

“Walaupun cuma 17 bulan, tapi perjalanan jurnalistik di Berkom merupakan fase terbaik & menyenangkan selama 8 tahun berkarya di KompasTV.” Tanpa mengurangi rasa hormat untuk dua program sebelumnya, begitulah pesan saya saat pamit dari grup WA Berkas Kompas.
Sejumlah kolega bertanya apakah saya resign dari KompasTV akibat kena layoff? Saya pastikan tidak ada kaitannya sama sekali.
Jika sekali lagi menengok perjalanan jurnalistik di “kampus” Palmerah Selatan, barangkali hanya ada satu kata yang paling tepat untuk memaknainya: bersyukur.