Sore itu, awan mendung yang menggantung di langit Kampung Cibulao, Desa Tugu Utara, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, tak menyurutkan langkah saya dan Dasimto menuju perkebunan kopi. Saat menyusuri jalan setapak di area perkebunan teh, saya berhenti sejenak, lalu menyapu pemandangan berupa gundukan bukit berwarna hijau yang terhampar di hadapan mata.
“Kalo dari kejauhan, bukit sebelah sana kelihatannya pohon-pohon besar aja, kan? Di bawahnya itu banyak pohon kopi. Pohon besar jadi naungan pohon kopi, sekaligus upaya konservasi hutan,” papar Dasimto, warga Kampung Cibulao, sambil menjulurkan telunjuk tangan kanannya ke arah bukit yang ia maksud.

Bukit perkebunan kopi di Kampung Cibulao, Desa Tugu Utara, Kab. Bogor.
Usai menuruni bukit kebun teh, kami tiba di lahan budidaya tanaman kopi yang dikelola keluarga Dasim, begitu ia akrab disapa. Benar saja, sejumlah tanaman keras endemik seperti pohon Rasamala, pohon Pasang, dan pohon Puspa berdiri tegak menaungi pohon kopi di lereng bukit. Selain itu, ada juga tanaman buah-buahan seperti pohon Nangka dan pohon Alpukat. Tumbuh pula pohon Suren dan pohon Mindi. Dua jenis pohon terakhir ini konon mengeluarkan aroma tertentu yang mampu mengusir hama tanaman kopi.
Akar pohon kopi dan tanaman keras memiliki fungsi penting untuk menopang struktur tanah di wilayah dataran tinggi, seperti lereng perbukitan atau lereng pegunungan. Selain itu, akar pohon juga berperan sebagai pengikat air ketika musim hujan tiba. Pendeknya, akar pohon kopi maupun tanaman keras mampu mencegah erosi.
Realita di lahan perkebunan kopi milik keluarga Dasim berbanding 180 derajat dengan kondisi di sepanjang Jalan Raya Puncak yang saya lewati beberapa saat sebelumnya. Di sana berjejal sejumlah bangunan beton milik pemerintah, hotel atau penginapan, dan kawasan komersil lainnya. Padahal kawasan dataran tinggi Puncak merupakan daerah resapan air.
“Di sini ada beberapa aliran air yang nantinya menuju Sungai Ciliwung,” terang laki-laki 32 tahun tersebut. Kampung Cibulao bisa dikatakan sebagai hulu Sungai Ciliwung yang bermuara di Teluk Jakarta. Dataran tinggi Puncak juga merupakan hulu dari Sungai Cileungsi. Di bagian hilir, aliran Sungai Cileungsi bertemu dengan Sungai Bekasi, lalu bermuara di pantai utara Kabupaten Bekasi.

Tangkapan layar citra satelit yang menunjukkan posisi Kampung Cibulao berada di dataran tinggi Puncak, tepatnya di Desa Tugu Utara, Kab. Bogor.
Di balik kisah budidaya kopi yang dibarengi semangat konservasi, warga Kampung Cibulao pernah meninggalkan jejak kelam bagi lingkungan. Pada tahun 1990-an, warga kerap menebang pohon di hutan secara ilegal untuk dijadikan kayu bakar. Termasuk orang tua Dasim. Cuan dari penjualan kayu bakar kemudian digunakan untuk menambal kebutuhan hidup sehari-hari.
Mayoritas warga Kampung Cibulao bekerja sebagai buruh pemetik teh milik perusahaan swasta. Tiga dekade lalu, upah yang didapat Rp. 10.000-20.000 per hari kerja. Sekarang upahnya naik menjadi Rp. 41.000 per hari kerja. Penghasilan tersebut dinilai masih belum mampu penuhi hajat hidup sehari-hari. Inilah faktor yang melatari warga merambah hutan.
Tak ayal, lanskap hutan di Kampung Cibulao berubah. Akibatnya, kondisi tutupan hutan makin menyusut. Parahnya lagi, warga menyulap lahan terbuka tersebut menjadi ladang pertanian hortikultura. Akar tanaman hortikultura payah dalam menopang struktur tanah. Saat hujan, air langsung mengalir ke dataran rendah. Tak pelak, erosi kerap membayangi lereng bukit Kampung Cibulao.
Transformasi dari 50 pohon kopi
Suatu pagi pada tahun 2000, Partinah, ibunda Dasim, terkejut saat melihat retakan tanah yang menganga di pinggiran bukit, tak jauh dari lokasi lahan garapannya. Tak berselang lama, Partinah, yang kala itu berusia 37 tahun, bersama mendiang suami menanam bibit pohon kopi jenis robusta sebanyak 50 batang di area lahan kritis. Bibit pohon didapat dari kampung halamannya di Temanggung, Jawa Tengah.
Saat itu, penanaman pohon kopi dibarengi pula dengan penanaman tanaman keras. Tujuannya untuk melindungi pohon kopi dari paparan sinar matahari secara langsung. Sebab, jika pohon kopi terpapar sinar matahari secara intens, bisa berpengaruh buruk terhadap kualitas dan produktivitas buah kopi. Kemudian, warga pun jadi segan menebang pohon di area perkebunan kopi, lantaran akan berurusan langsung dengan keluarga Partinah.
“Niatnya, sih, cuman buat kopi di rumah. Kalo lapar tinggal nyeduh kopi aja,” kenang ibu tiga orang anak tersebut saat saya temui di rumahnya, awal Oktober lalu.

Dasim menunjukkan buah kopi yang sudah matang.
Dalam urusan perkopian dan konservasi hutan, Dasim sejatinya terpengaruh oleh dua orang kakaknya: Kiryono (45 tahun) dan Jumpono (42 tahun). Sekitar tahun 2002 silam, Kampung Cibulao kedatangan tamu dari lembaga swadaya masyarakat dan pegiat pelestarian alam. Mereka melakukan penyuluhan soal cara menjaga ekosistem lingkungan. Gayung pun bersambut. Kedua kakak Dasim makin gencar menanam pohon kopi dan tanaman keras. Dasim yang kala itu masih berusia 9 tahun mulai terpapar “virus” pelestarian alam.
Di kemudian hari, mereka mengajak warga sekitar untuk menanam kopi. Tapi respons yang didapat adalah cibiran dan pesimisme. Sebab menurut warga, pohon kopi baru bisa dipanen minimal tiga tahun setelah masa tanam. Beda halnya jika menanam tanaman hortikultura. Warga bisa memperoleh cuan dalam hitungan bulan saja.
Tak patah arang, Dasim dan kedua kakaknya terus bergerak. Bibit pohon kopi yang ditanam di ketinggian 1.300-1.400 mdpl tumbuh subur. Tanaman keras maupun tanaman buah-buahan yang menaungi pohon kopi menjulang ke angkasa. Nilai ekonomi dari pohon kopi mulai terasa. Hasil panen pohon buah-buahan pun bisa dijadikan penghasilan tambahan atau sekadar untuk konsumsi keluarga.
Perlahan tapi pasti, warga mulai melirik potensi tanaman kopi. Kemudian pada tahun 2007, lahir Kelompok Tani Hutan (KTH) Cibulao. Selang 17 tahun, jumlah anggota KTH yang berasal dari Kampung Cibulao mencapai 80 orang. Kelak, KTH Cibulao dipercaya untuk mengelola kawasan hutan milik Perum Perhutani dengan skema perhutanan sosial.
Mengutip situs kompas.id, pada tahun 2021 lalu, total luas lahan yang dikelola KTH Cibulao mencapai 610 hektare. 250 hektare di antaranya berhasil dihijaukan. Selain itu, di dalamnya tumbuh sekitar 500.000 pohon kopi dan pohon keras lainnya.

Pohon Nangka tumbuh menaungi tanaman kopi di perkebunan kopi milik keluarga Dasim di Kampung Cibulao, Desa Tugu Utara, Kab. Bogor.
Belakangan, para petani juga menanam pohon kopi jenis arabika. Masa panen pohon kopi jenis arabika antara bulan Maret hingga Mei. Sementara pohon kopi jenis robusta biasanya dipanen pada rentang waktu bulan Juni hingga Agustus .
Budidaya kopi yang dilakukan dengan sistem argoforestri ini mendapat perhatian kampus Institut Pertanian Bogor (IPB). IPB kini bersalin nama jadi IPB University. Sejak tahun 2014, KTH Cibulao mendapat pendampingan dari Pusat Pengkajian Perencanaan dan Pengembangan Wilayah (P4W) IPB University.
Satukan gerak, terus berdampak
Dasim dan kedua kakaknya tidak hanya fokus di bagian hulu: budidaya kopi sekaligus konservasi hutan. Mereka juga memperkuat bagian hilir. Salah satunya mengenalkan kopi Kampung Cibulao ke tingkat nasional dengan mengikuti Indonesian Speciality Coffee Contest 8th pada tahun 2016. Ajang tersebut diselenggarakan Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI). Hasilnya, kopi Kampung Cibulao menyabet penghargaan sebagai kopi robusta terbaik.
Raihan bergengsi tersebut semakin melambungkan jenama Kopi Cibulao. Sejak itu, permintaan kopi mengalir dari dalam maupun luar negeri. “Kalo daerah lain, kan, merek kopinya itu berdasarkan nama daerah. Kalo kita pake nama Cibulao. Sesuai dengan nama kampung. Jadi ada kebanggaan dengan pake nama kampung,” ujar Dasim.

Piagam penghargaan juara 1 dalam ajang Indonesian Speciality Coffee Contest 8th.
Permintaan kopi dari wilayah Jabodetabek, misalnya, mencapai 130 ton per tahunnya. Kemudian per Oktober 2025, ada lima pre order kopi dari mancanegara seperti Singapura dan Aljazair. Eksportir rata-rata meminta 10 ton green bean, biji kopi yang belum di-roasting atau sangrai. Produksi kopi Kampung Cibulao kewalahan memenuhi tingginya kebutuhan pasar tersebut.
Sebagai solusinya, Dasim menjalin kerja sama dengan petani kopi dari daerah lain. Secara tidak langsung, hal ini juga membuka pintu rezeki bagi para petani tersebut dengan menjadi mitra pemasok kopi.
Dasim menjelaskan, harga beli kopi dalam bentuk green bean dari tangan petani bervariasi. Grade pertama adalah fine robusta, dihargai Rp. 95.000 per kg. Selanjutnya grade premium, setara Rp. 80.000 per kg. Lalu grade 1, 2, dan 3 dibeli dengan harga di bawah Rp. 80.000 per kg. Sementara harga jual kopi setelah di-roasting sekitar Rp. 200.000-360.000 per kg.

Kemasan produk kopi robusta yang diproduksi oleh KTH Cibulao.
Guna memantapkan tataniaga komoditi kopi, KTH Cibulao membentuk koperasi Inti Konservasi Alam (IKA) pada tahun 2018. Dasim didapuk sebagai manajer koperasi tersebut. “Koperasi akan menjamin harga beli kopi para petani, menjamin keberlanjutan budidaya kopi, menjaga kualitas kopi karena Kopi Cibulao punya standar QC untuk dijual ke buyer, dan menjamin keuangan para petani,” tutur Dasim.
Senyum petani mengembang berkat budidaya kopi. Dasim menyebut, penghasilan petani kopi di Kampung Cibulao bisa menyentuh angka UMR Jakarta atau setara Rp. 5,3 juta per bulan. Angka tersebut lebih tinggi dibanding UMK Bogor sebesar Rp. 4,8 juta per bulan atau empat kali lipat lebih tinggi dibanding penghasilan sebagai buruh pemetik teh.
Dasim juga turut memberdayakan generasi muda Kampung Cibulao dalam aspek hilirisasi komoditi kopi. Caranya yaitu mendidik mereka menjadi barista. Menurut pengakuannya, sejauh ini sudah terselenggara pelatihan barista sebanyak 13 angkatan. Biasanya ada tujuh hingga dua belas peserta tiap angkatannya. Mereka berasal dari Kampung Cibulao maupun luar daerah. Beberapa di antaranya merupakan anak muda putus sekolah.
Dasim merupakan barista yang telah memegang sertifikat level 1 tingkat ASEAN. Selain itu, ia juga memiliki keahlian dalam bidang roastery atau penyangraian biji kopi dan telah memegang sertifikat yang dikeluarkan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Barista sedang meracik kopi di kedai Kopi Cibulao, Cisarua, Kab. Bogor.
Gigi putih Dasim terlihat jelas ketika menceritakan keberhasilan 3 orang anak didiknya menembus bursa kerja di Yaman sebagai barista pada 2022. Ada pula barista lainnya yang diserap kedai kopi lokal. “Budidaya kopi telah mengangkat harkat dan martabat warga Cibulao,” kata Dasim bangga.
Maslahat lain yang patut digarisbawahi dari budidaya kopi berbasis konservasi hutan ialah wujud nyata harmoni antara manusia dengan alam. Tutupan hutan yang terjaga dengan baik menjadi “rumah” bagi sejumlah satwa liar dilindungi seperti kuskus, trenggiling, elang Jawa, owa Jawa, hingga rusa Jawa. Dasim maupun Partinah mengaku, kerap menjumpai beberapa satwa liar di area perkebunan kopi.
“Belum lama ini, emak hampir ketabrak rusa Jawa waktu di kebun,” cerita Partinah disertai tawa.

Partinah, 62 tahun (kanan), sedang menyortir green bean, biji kopi yang belum disangrai.
Langkah kecil yang dimulai dari penanaman bibit pohon kopi sebanyak 50 batang, kini bertransformasi menjadi perkebunan kopi berbasis argoforestri dengan luas lahan mencapai ratusan hektare. Dulu, warga merambah hutan. Tapi sekarang, mereka menjadi garda terdepan menjaga alam. Hutan pun lestari, masyarakat sejahtera.
Membangun Indonesia dari desa

Suasana Kampung Cibulao, Desa Tugu Utara, Kab. Bogor, pada sore hari ketika diselimuti kabut.
Kehidupan di desa acap kali dipandang sebelah mata. Setidaknya desa masih dianggap tertinggal dan miskin; warganya dianggap kurang berpendidikan atau “kurang modern”; desa sebagai tempat yang monoton dan membosankan; desa sebagai tempat yang harus “ditinggalkan” untuk sukses; desa dianggap tidak produktif atau tidak inovatif; dan desa dipandang sebagai “masa lalu”, bukan masa depan. Itulah jawaban yang disajikan akal imitasi (AI) ketika saya menanyakan stigma yang melekat pada desa.
Jawaban ChatGPT di atas memperoleh legitimasi jika dikaitkan dengan data Badan Pusat Statistik. Angka kemiskinan di desa per September 2024, misalnya, berjumlah 13,01 juta orang, lebih tinggi dari angka kemiskinan di kota sebanyak 11,05 juta orang. Selain itu, jumlah penduduk di perkotaan pada 2020 sebanyak 56,4 persen. Padahal satu dekade sebelumnya, angkanya cuma 49,8 persen.
Artinya, orang berbondong-bondong meninggalkan desa untuk mencari penghidupan di kota. Pada saat bersamaan, problem sosial dan lingkungan juga mengintai perkotaan. Mulai dari kepadatan penduduk; potensi meningkatnya penggunaan air tanah yang bisa berimbas pada penurunan muka tanah; dan potensi bertambahnya jumlah kendaraan yang bisa berdampak pada masalah polusi udara.

Dasim berpose di tengah-tengah perkebunan kopi Kampung Cibulao, Desa Tugu Utara, Kab. Bogor.
Realita yang disuguhkan Kampung Cibulao, Desa Tugu Utara, menjadi antitesis dari stereotif yang membelenggu desa. Kampung berpenghuni sekitar 170 KK itu ialah potret bagaimana kekayaan alam dapat dimanfaatkan untuk menggerakan mesin perekonomian desa berbasis ekonomi kerakyatan.
Kampung Cibulao merupakan bagian dari ekosistem Desa Sejahtera Astra Tugu Utara. Melansir situs astra.co.id, Desa Sejahtera Astra merupakan program tanggung jawab sosial Astra yang diluncurkan pada tahun 2018. Program ini berfokus pada pemberdayaan kewirausahaan berbasis potensi dan produk unggulan desa yang terbagi dalam sejumlah klaster, seperti kopi, pertanian dan perkebunan, perikanan dan kelautan, wisata, kriya, hingga budaya. Dalam pelaksanaan di lapangan, Desa Sejahtera Astra menggandeng lintas pemangku kepentingan, seperti perguruan tinggi, pemerintah, start-up, komunitas, dan Kelompok Usaha Desa (KUD).

Panen raya kopi di lahan perkebunan yang dikelola KTH Cikoneng, Desa Tugu Utara, Kab. Bogor. Panen raya kopi dihadiri pula eksportir asal Aljazair (Sumber: Astra via swa.co.id).
Awalnya, Astra memberi pendampingan kepada petani kopi yang tergabung dalam KTH Kampung Cikoneng, Desa Tugu Utara, pada tahun 2022. Para petani kopi di sana telah melakukan budidaya tanaman kopi sejak tahun 2018. Fokus Astra yaitu menerapkan pola pertanian berkelanjutan.
Para petani mendapat pendampingan mengenai budidaya tanaman kopi dari hulu hingga hilir. Terhitung mulai dari sistem pertanian berbasis organik; cara merawat tanaman yang tepat; memberi bantuan pupuk; menyediakan sarana produksi seperti greenhouse dan mesin pulper; hingga pengolahan pascapanen. Astra pun mendorong komoditi Kopi Cikoneng ke pasar mancanegara.
Astra kemudian bekerja sama dengan AEKI dan instansi pemerintah, guna memfasilitasi ekspor komoditi kopi asal Cikoneng. Menurut Maman, salah satu petani kopi asal Cikoneng, sebanyak 500 kg kopi dalam bentuk green bean berhasil diekspor ke Aljazair pada 2024. Dua tahun sebelumnya, produk kopi Cikoneng telah menjajaki pasar Taiwan. Produk Kopi Cikoneng juga mejeng di etalase UMKM Astra dalam acara Trade Expo Indonesia 2025.
“Kegiatan ini mencerminkan semangat kami untuk mendorong masyarakat tumbuh dan bertransformasi bersama. Dengan adanya Learning Center Agroforestry Coffee, kami berharap kawasan Puncak tak hanya dikenal sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai kawasan edukatif yang mendorong pertanian berkelanjutan dan konservasi lingkungan” ujar Chief of Corporate Affairs Astra, Boy Kelana Soebroto, seperti dikutip dari swa.co.id.

Kedai Kopi Cibulao, Cisarua, Kab. Bogor, merupakan wujud hilirisasi komoditi kopi asal Kampung Cibulao. Kedai kopi ini hanya menjual olahan Kopi Cibulao.
Bagi Dasim, dukungan Astra amat penting guna tingkatkan kapasitas dan pengetahuan para petani. Selain itu, Learning Center Argoforestry Cofee juga diharapkan dapat memaksimalkan tetes manfaat yang bersumber dari budidaya tanaman kopi.
“Dukungan dari Astra adalah kunci utama untuk meningkatkan produktivitas dari hulu hingga hilir. Mulai dari kualitas bibit, pemeliharaan, pemetikan buah kopi, pengolahan pascapanen seperti teknik penjemuran dan teknik roastery untuk memastikan kualitas rasa kopi,” ujar Dasim.
Desa, melalui beragam kekhasan dan keunggulannya menyimpan potensi besar untuk menjadi fondasi pembangunan ekonomi bangsa ini. Jumlah desa atau kelurahan di Indonesia pada tahun 2025 mencapai 83.762. Dari angka sebesar itu, 1.397 di antaranya merupakan binaan Astra melalui program Desa Sejahtera Astra. Desa Sejahtera Astra Tugu Utara menyibak fakta bahwa potensi desa yang dikelola secara optimal, terarah, dan berkesinambungan, mampu membangun masyarakat lebih produktif, berdikari secara ekonomi, serta menjaga kelestarian alam. Hal tersebut selaras dengan perwujudan cita-cita Astra: sejahtera bersama bangsa.