
Matahari memanggang langit Jakarta, Sabtu (27/9) lalu. Pada siang menjelang sore itu, temperatur udara di Kelurahan Malaka Sari, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, menyentuh angka 32 derajat celsius. Namun, suasana rindang dan teduh langsung terasa ketika memasuki area Malaka Sari Edu Farm di Jalan Teratai Putih Raya. Tempat ini merupakan markas Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) D’Shafa.
Di sini, pohon anggur tumbuh merambat bak atap yang melindungi kepala dari paparan sinar matahari. Di sisi kiri terdapat pohon sawo, pohon terong ungu, dan pohon jeruk Bali yang sudah berbuah. Sementara sisi kanan ditumbuhi tanaman obat keluarga atau Toga. Maju beberapa langkah, berdiri kebun hidroponik seluas 200 meter persegi.
“Bu Haryati sedang sholat. Silakan duduk dulu, ya,” jawab Dea ketika saya menanyakan keberadaan Haryati. Saat itu, Dea sedang menyortir daun pisang. Lalu, ia bergegas masuk ke dalam sebuah ruangan.
Dua hari sebelumnya, saya mengontak Haryati. Ia menyambut secara terbuka rencana kunjungan saya ke Malaka Sari Edu Farm.
Tak berselang lama, sosok yang dicari muncul di hadapan saya. Haryati, perempuan 44 tahun ini merupakan Ketua P4S D’Shafa. P4S sebelumnya bernama Kelompok Wanita Tani (KWT) yang kemudian berevolusi menjadi sebuah UMKM terintegrasi dari hulu ke hilir. Mereka mengedepankan spirit pemberdayaan masyarakat sekitar, mulai dari penanaman, pengolahan pascapanen, pemasaran, hingga edukasi.
Setelah bercakap-cakap sebentar, Haryati mengajak tour ke tiap sudut Malaka Sari Edu Farm yang memiliki luas sekitar 900 meter persegi.

Haryati berpose di kebun hidroponik Malaka Sari Edu Farm
Pertama, kami memasuki gerai UMKM berukuran mungil. Di dalamnya tersusun rapi berbagai produk olahan seperti keripik seledri, keripik bayam, keripik singkong, keripik daun pegagan, dan keripik jagung. Olahan keripik ini dijual dengan harga Rp. 15.000/pcs. Ada pula rak berisi produk minuman seduh seperti bir pletok, mpon-mpon, teh bunga teleng, kencur wangi, dan wedang uwuh. Produk ini dibanderol dengan harga Rp. 10.000/pcs. Produk keripik maupun minuman seduh dibungkus dengan kemasan eye catching.
“Ini semua hasil olahan anggota kami,” ujar Haryati singkat.
Kemudian kami bergeser ke kebun hidroponik. Pandangan mata begitu segar saat melihat deretan tanaman serba hijau. Tanaman seledri dan bayam Brazil tumbuh subur di atas instalasi pot yang terbuat dari paralon.
“Mestinya ada tanaman kangkung di sini. Tapi baru saja dipanen,” kata Haryati sambil menunjuk satu blok pipa paralon yang sudah kosong melompong.

Produk olahan berupak minuman botanikal
Haryati lalu mengajak saya memasuki bagian dalam ruangan Malaka Sari Edu Farm. Ruangan ini boleh dibilang semacam area produksi –lebih tepatnya dapur. Di dalamnya ada 4 orang perempuan yang tengah sibuk menyiapkan catering. Salah satu di antaranya ialah Dea. Tangan Dea begitu cekatan mengolah bumbu masak berwarna oranye.
“Kami sedang mengerjakan pesanan catering dari dinas sebanyak 40 boks,” kata Haryati.
Begitulah rupa dan rutinitas di Malaka Sari Edu Farm. Satu kata yang tepat untuk merangkum apa yang saya saksikan adalah produktivitas, baik sumber daya manusia maupun lahannya.
“Evolusi” dari sebuah gang hijau
Malaka Sari Edu Farm tidak lahir dari ruang kosong. Jejaknya bisa ditelusuri pada 2018 silam. Kala itu, Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian DKI Jakarta mempunyai program lomba gang hijau melalui pendekatan urban farming atau kegiatan budidaya pertanian yang digarap masyarakat perkotaan.
Gayung pun bersambut. Haryati bersama warga RT 1, RW 5, Kelurahan Malaka Sari, turut menyulap gang menjadi kawasan hijau. Mereka menanam tanaman kangkung, pakcoy, dan mint. Usaha Haryati dan kawan-kawan ternyata membuahkan hasil. Mereka menyabet juara 2 Gang Hijau Nasional.
Setahun berselang, makin banyak warga turut terlibat kegiatan urban farming. Kegiatan budidaya tanaman sayur dan Toga pun semakin masif dilakukan di lingkungan RW 5. Lahan kosong diberdayakan untuk ladang pertanian. Salah satunya adalah tempat pembuangan sampah seluas 200 meter persegi yang letaknya percis di samping SMAN 44 Jakarta. November tahun berikutnya, pengembangan budidaya pertanian dilakukan di halaman Masjid Baiturrahman.

Sayuran yang dihasilkan makin beragam. Selain kangkung, pakcoy, dan daun mint, ada pula sawi hijau, sawi putih, seledri, selada, sayuran organik, dan masih banyak yang lainnya. Mereka juga menjual bibit tanaman.
Upaya Haryati mengajak warga untuk berbudidaya tanaman sayur dan Toga sempat mendapat penolakan. Tapi, Haryati menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar.
“Jadi kami memberikan sosialisasi ke RT tersebut bahwasanya maksud dan tujuannya seperti ini. Itu pun juga tidak mudah. Ada yang mau menerima, ada yang tidak. ‘Memang kamu siapa?’ Saya bukan siapa-siapa. Saya masyarakat biasa. Tapi saya beranikan diri untuk itu. Kalau baik silakan pakai. Kalau tidak, ya, tidak apa-apa. Saya hanya punya maksud dan tujuan seperti ini,” kenang Haryati terkait resistensi warga tersebut.
Gang demi gang, perlahan tapi pasti berubah semakin “hijau”. Guna menjaga keberlanjutan budidaya pertanian, Haryati melakukan pemolaan jenis tanaman. Misal, RT 1 fokus pada tanaman kelor, RT 2 pada tanaman kunyit, RT 3 tanaman jahe, dan seterusnya. RW 5 Kelurahan Malaka Sari terdiri dari 16 RT. Tiap RT memiliki satu orang Kader Asuhan Mandiri Tanaman Toga. Haryati menjadwalkan pertemuan dengan para kader sedikitnya satu bulan sekali, tepatnya tiap hari Kamis pada pekan kedua.
“Saya mengajak saling barter dari masing-masing kader. Mungkin yang lain punya tanaman A, bisa dibantu untuk bibitnya. Jadi kayak keroyokan. Oh, RT 1 pengen bikin taman. Tapi memang dia belum mempunyai permodalan. Jadi kita di grup itu siapa yang sudah punya bibit ini? Nanti dibantu dulu. Nah, nanti RT 2 gantian. Jadi saling melengkapi. Kemudian setelah semua sudah mulai menanam, pastinya akan butuh perawatan. Nah, perawatan itulah tugasnya kader untuk menyampaikan lagi kepada warganya,” terang Haryati.
Dalam aspek pemasaran hasil pascapanen, UMKM D’Shafa berkolaborasi dengan pelaku hidroponik di Jakarta. Mereka akhirnya bisa menembus sejumlah offtaker seperti Hydrofam, Tanihub, Linotani, hingga instansi pemerintah Provinsi Jakarta.
Usaha yang digeluti UMKM D’Shafa tak selamanya mulus. Ada saja kerikil penghambat jalannya usaha yang digawangi mayoritas para ibu rumah tangga tersebut. Salah satunya yaitu ketika ada offtaker yang tak bisa lagi menyerap sayuran yang diproduksi UMKM D’Shafa. Haryati bilang, pihak offtaker memiliki kebun sendiri. Sehingga, ketika jadwal panen bersamaan, produk sayuran UMKM D’Shafa dikembalikan.
Kendati demikian, semangat Haryati dan kawan-kawan tidak layu. Peristiwa tersebut malah melecut insting kreativitas untuk hasilkan produk-produk yang lebih inovatif. “Jadi bagaimana mengganti kerugian yang kita tanam. Terus itu kan ada tenaga kerja dan lain-lain. Kemudian saya mencoba untuk lebih inovatif lagi. Saya menciptakan pasar sendiri. Saya mencoba menciptakan pasar untuk menjual dan bersaing dengan pasar tradisional waktu itu,” kenang perempuan asal Sragen, Jawa Tengah, itu.
Produk yang dijual tidak lagi berupa sayuran atau bibit tanaman saja. UMKM D’Shafa merambah ceruk bisnis dalam penyediaan paket instalasi hidroponik sekaligus jasa pemasangannya. Tak dinyana, ternyata peminatnya banyak.
Omzet 175 juta per bulan
Memang betul adanya, jika kreativitas tak ada batasannya. Inovasi terus lahir dari rahim UMKM D’Shafa. Pada tahun 2021, UMKM D’Shafa mulai memproduksi makanan olahan. Wujudnya hadir dalam bentuk diverisifakasi produk olahan hasil pertanian seperti keripik seledri, keripik bayam, keripik singkong, keripik daun pegagan, keripik jagung, hingga minuman botanikal. UMKM D’Shafa juga mulai meningkatkan kapasitas produksi pertanian dengan menambah mitra atau binaan.
Seiring dengan bertambahnya jejaring, lini bisnis UMKM D’Shafa juga semakin berkembang. UMKM D’Shafa menjalin kerja sama dengan instansi pemerintah Provinsi Jakarta hingga perusahaan swasta dalam penyediaan makanan catering dan snack box.

Haryati menunjukkan produk olahan keripik jagung, keripik bayam, keripik pegagan, dan keripik seledri
Kini, UMKM D’Shafa mampu meraih omzet kurang lebih 175 juta per bulan. Pendapatan tersebut berasal dari hasil produksi pertanian, penjualan produk pascapanen, penjualan bibit atau benih tanaman, penjualan nutrisi tanaman, kelas edukasi, dan catering.
UMKM D’Shafa juga menyebet sejumlah prestasi di tingkat provinsi maupun nasional. Pada tahun 2023, misalnya, UMKM D’Shafa menjadi salah satu perwakilan DKI Jakarta dalam ajang Pekan Nasional Petani Nelayan Indonesia di Padang, Sumatera Barat.
Berkat sejumlah prestasi yang telah ditorehkan, P4S D’Shafa kerap dijadikan rujukan studi banding pemerintah daerah, lokasi penelitian mahasiswa, dan tujuan magang mahasiswa yang berkaitan dengan sepak terjang UMKM atau urban farming.
Peran penting YDBA
Haryati menyadari bahwa niat mulia memberdayakan masyarakat tidak bisa berjalan sendirian. Jaringan yang luas, tentu akan membantu UMKM D’Shafa semakin berkembang dari waktu ke waktu. Sikap terbuka terhadap mitra eksternal merupakan salah satu aspek penting yang dipegang Haryati. Maka, UMKM D’Shafa pun menjalin mitra dengan Yayasan Dharma Bhakti Astra atau YDBA pada 2019.
Haryati cerita, pendampingan yang dilakukan YDBA memiliki peran penting, mulai dari memfasilitasi pembuatan proposal, invoice, pemanfaatan media sosial, packaging produk, hingga pemasaran. “Peran YDBA ini kalau menurut saya itu benar-benar luar biasa. Pendampingannya sangat telaten. Dan dia mau mengerti kami sebagai orang awam yang banyak tidak tahunya,” ujar Haryati.

UMKM D’Shafa mendapat pendampingan tim YDBA terkait packaging keripik sayur
Bahkan, pada saat di luar jam kerja pun, lanjut Haryati, YDBA selalu mendengar dan menerima hal-hal yang menjadi keluhannya. Pengalaman paling berkesan bagi Haryati yaitu ketika mendapat pendampingan pembuatan proposal. Kelak, proposal UMKM D’Shafa mampu menarik perhatian salah satu BUMN hingga memperoleh kucuran dana CSR untuk membantu pembangunan Malaka Sari Edu Farm pada tahun 2021. Malaka Sari Edu Farm berdiri di atas lahan Pemerintah Provinsi Jakarta, tepatnya bekas tempat pembuangan sampah. Lurah Malaka Sari, Camat Duren Sawit, hingga Walikota Jakarta Timur memiliki andil juga atas berdirinya Malaka Sari Edu Farm.
“Memang benar-benar dari nol saya itu. Saya didampingi YDBA itu sampai ke titik ini, memang benar-benar dari nol,” tegas Haryati.
“Beri kail bukan ikan”
Mengutip website YDBA, Yayasan Dharma Bhakti Astra merupakan salah satu pelaksana Corporate Social Responsibility (CSR) PT Astra International Tbk yang didirikan oleh founder Astra, William Soeryadjaya pada 2 Mei 1980. Yayasan Astra merupakan perwujudan cita-cita Astra “Sejahtera Bersama Bangsa” serta sebagai bentuk komitmen Astra untuk berperan secara aktif dalam membangun bangsa, sejalan dengan butir pertama filosofi Astra, Catur Dharma, yaitu ”Menjadi Milik yang bermanfaat bagi Bangsa dan Negara”. Dalam Astra Strategic Triple Roadmap, Yayasan Astra merupakan bagian dari salah satu Public Contribution Astra, yaitu Astra Kreatif, yang berfokus pada program kewirausahaan.
Dalam konsep ekosistem pengembangan UMKM, Yayasan Astra – YDBA menekankan sebuah filosofi “beri kail bukan ikan”. Secara sederhana, “ikan” dapat ditafsirkan sebagai bantuan langsung atau tunai. “Ikan” tersebut memang bisa langsung dinikmati. Tapi, kenikmatannya hanya sesaat. Berbeda halnya jika memberikan “kail”. Ini akan mendorong seseorang atau kelompok untuk lebih mandiri, terampil, dan kreatif mencari sumber rezeki. Dalam konteks dunia usaha, “kail” dapat berfungsi sebagai alat untuk menopang keberlanjutan bisnis.
“Kail” yang diberikan YDBA berupa program pelatihan, pendampingan, memfasilitasi pemasaran, hingga memfasilitasi pembiayaan untuk mendorong UMKM menuju kemandirian. Ini selaras dengan nilai yang dipegang Bapak William Soerjadjaja, “Kami ingin agar Astra berkembang dan bermanfaat seperti pohon rindang yang berguna sebagai tempat berteduh dari hujan dan panas.”
Semangant Astra beraksi untuk UMKM Indonesia turut berkontribusi secara konkret dalam membuka lapangan pekerjaan. “Paling tidak adanya pengurangan pengangguran. Karena kenapa? Karena adanya gabungan atau keterlibatan masyarakat dengan bergabung kepada D’Shafa ini, dia akan mendapatkan income,” beber Haryati.
Warga di 16 RT, RW 5, Kelurahan Malaka Sari yang turut kecipratan rezeki dari kegiatan UMKM D’Shafa, mulai dari rentang usia 19 tahun hingga 60-an tahun. Pendapatan mereka bervariasi, tergantung kontribusi yang diberikan. Pendapatan paling rendah berada di kisaran Rp. 500.000 per bulan. Bagi warga yang memiliki kontribusi lebih besar, bisa mengantongi pendapatan sebesar UMR Jakarta atau setara Rp. 5.300.000 per bulan.

Dea sedang mengolah bumbu masak di ruang produksi Malaka Sari Edu Farm
Dea, perempuan berumur 50 tahun turut merasakan berkah saat berkegiatan di UMKM D’Shafa. Dea merupakan warga RT 1 sekaligus Kader Asuhan Mandiri Tanaman Toga. Awalnya, Dea Cuma ibu rumah tangga. Ia mengaku tidak tahu sama sekali soal tanaman. Namun, semenjak mengenal P4S D’Shafa, ia belajar dengan tekun soal penanaman dan perawatan tanaman. Kini, di lingkungan rumahnya, Dea menanam pohon jambu air, tanaman obat seperti kencur, kunyit, jahe, hingga lidah buaya.
“Ya, pendapatan saya hampir mendekati satu juta per bulan, ada, lah,” tutur Dea.
Dalam menjalankan roda bisnis, Haryati tak melulu berpikir soal keuntungan kelompok atau kepentingan pribadi. Ketika ada pesanan dari konsumen atau kesempatan untuk menambah ilmu dan celah memperluas jaringan, ia kerap melibatkan angggota lainnya. Tujuannya supaya anggota binaan memiliki kesempatan untuk “mengepakan sayapnya” lebih tinggi lagi dan tumbuh bersama. Haryati bahagia ketika warga yang ia bina berhasil menapaki jejak sebagai pengusaha mandiri.
“Pada saat adanya pelatihan seperti edukasi dari YDBA atau instansi lain, anggota kami yang kami kirim. Nah, mereka pastinya akan pintar, tidak hanya saya saja yang pintar. Tapi anggota saya juga pintar. Nah, di situ dia ternyata ikut belajar. Akhirnya dia menjadi pengusaha juga. Dan sekarang juga punya karyawan lagi. Jadi di situ yang saya senang itu. Ya, nggak apa-apa. Kita bersaing secara sehat. Rezeki itu sudah ada yang ngatur,” tutur Haryati disertai raut kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya.
Mendukung SDGs
Menukil berita dari BBC Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, persentase penduduk miskin pada Maret 2025 menurun 0,10 persen terhadap September 2024, menjadi 8,47 persen. Artinya, jumlah penduduk miskin berkurang 210.000 orang pada periode sama, mencapai 23,85 juta orang. Meski secara keseluruhan jumlah penduduk miskin menurun, BPS menyebut penduduk miskin di kota justru bertambah sekitar 220.000 orang.
Maka, budidaya pertanian yang digarap di lingkungan perkotaan atau urban farming jadi sebuah fenomena menarik. Jika melihat sepak terjang UMKM D’Shafa dalam 7 tahun terakhir, serapan tenaga kerja dapat dilihat sebagai kontribusi riil bagi perekonomian.

Sebuah penelitian yang dilakukan Lutfiah Alfariza, Ramadhani E. Putra, dan Mia Rosmiati dari Program Studi Biomanajemen, Sekolah Ilmu Teknologi Hayati, Institut Teknologi Bandung pada 2022 lalu, menyibak informasi bahwa urban farming memiliki kontribusi dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) atau tujuan pembangunan berkelanjutan. Program ini dicanangkan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2015 lalu dan diharapkan akan tercapai pada tahun 2030 mendatang.
Data penelitian yang digunakan adalah data sekunder yang bersumber dari studi pustaka seperti jurnal, laporan penelitian dari website resmi, dan dokumen lain yang berkaitan dengan kontribusi urban farming dalam mendukung pencapaian SDGs pada pilar ekonomi dan sosial.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa urban farming mampu meningkatkan pendapatan, memberikan kemudahan akses pangan yang sehat, memberdayakan perempuan, dan memberikan lapangan kerja bagi masyarakat perkotaan. Dengan kata lain, kegiatan urban farming memberikan kontribusi positif dalam mendukung pencapaian SDGs, terutama tujuan pada pilar ekonomi dan sosial di Indonesia.
Perempuan “naik kelas”
Poin pemberdayaan perempuan dari hasil penelitian di atas patut digarisbawahi. Ada alasan tersendiri kenapa Haryati memberdayakan kaum perempuan. Haryati ingin perempuan di lingkungan tempat ia tinggal “naik kelas”: produktif, mandiri, memiliki penghasilan, dan tidak terus-menerus bergantung pada suami.
“Kita perempuan itu harus bisa mandiri. Paling tidak itu bisa membantu pasangan kita, karena pasangan kita belum tentu akan sehat selamanya atau bisa berpenghasilan sepenuhnya. ‘Dengan apa, bu?’ Kamu sebenarnya bisa melihat dari hasil apa yang ada di depan mata kamu. Itu bisa menjadi uang. ‘Caranya bu?’ Saya dulu juga tidak terpikir bagaimana ini akan menjadi bisnis,” ujar Haryati saat mengenang diskusi bersama para teman-temannya. Haryati mengaku, ia tidak memiliki latar belakang pertanian. Ketekunan, keinginan kuat untuk belajar, dan learning by doing, merupakan modal utama Haryati.

Alasan lainnya di balik isu pemberdayaan perempuan berkaitan dengan pengalaman personal Haryati. Ia cerita, tak semua perempuan bisa melangkah bebas dan mendapat dukungan suami ketika menentukan sebuah pilihan, termasuk dirinya. Suami Haryati tak menyetujui pilihan hidup sang istri yang ingin aktif berkarya bagi lingkungan sekitar. Haryati diminta fokus di dalam rumah untuk mengurus rumah tangga.
Pada akhirnya, takdir juga lah yang membawa perempuan tiga oranag anak itu menjadi seorang single parent atau orang tua tunggal setelah berpisah dengan suami. Kondisi ini sempat membuat Haryati terpuruk.
“Saya harus bangkit. Dan saya tidak mau terpuruk ke depan. Tapi saya harus memberikan manfaat untuk lingkungan. Apa yang sudah saya alami, itu akan saya kubur dalam-dalam. Sekarang saya harus ganti yang baru dengan melakukan kegiatan yang benar-benar bagus. Itu yang membuat saya lepas. Luka hilang. Saya akhirnya bisa gandeng banyak orang. Ternyata perempuan bisa,” tutur Haryati dengan berapi-api.
Sekali lagi, bagi Haryati dan UMKM D’Shafa, kreativitas dan inovasi seperti energi yang terus membara. Seolah tak puas atas capaian yang telah diraih, UMKM D’Shafa sedang mengembangkan model usaha dengan membangun agroeduwisata berbasis smart farming. Sasaran sementara adalah para pelajar di wilayah Jakarta Timur.
Konsep agroeduwisata berupa paket edukasi mengenai budidaya urban farming, pengolahan pascapanen, hingga geliat UMKM di dalamnya. Peserta agroeduwisata juga akan diajak studi lapangan dengan mengunjungi permukiman warga RW 5 Kelurahan Malaka Sari.
“Misal pengen belajar tentang lidah buaya. Lidah buaya ada di RT 16. Lidah buaya itu mau diolah jadi apa? Kayak gitu nanti. Nanti ada kader saya yang akan membantu menjelaskan di gang tersebut. Itu harapan saya ke depan. Paling tidak ada yang saya tinggalkan yang bermanfaat untuk lingkungan,” pungkas Haryati.
*Sejumlah data tulisan ini bersumber dari:
2. https://www.bbc.com/indonesia/articles/c4g8gx487l7o
3. https://jurnal.unigal.ac.id/mimbaragribisnis/article/download/8134/pdf