
Hujan mengguyur Kabupaten Bandung bagian selatan, Minggu, pada pertengahan Desember 2016 silam. Laju kendaraan roda dua menuju tempat wisata Situ Cisanti jadi tersendat. Musababnya adalah ketiadaan drainase di sebuah tanjakan. Gelontoran air bercampur lumpur berwarna cokelat dari sebuah lereng pun mengalir deras ke jalan. Tak ayal, cipratan air mengenai lutut hingga sikut. Pengendara motor mesti ekstra hati-hati karena tidak tahu mana jalanan berlubang. Jika hilang keseimbangan atau mogok, urusan makin ruwet.
Beruntung, hujan segera reda. Kedongkolan berubah jadi decak kagum. Panorama di daerah Cibeureum amat memanjakan mata. Deretan bukit hijau terlihat sejauh mata memandang. Pohon cabai, jagung, bawang merah, dan kol meramaikan ladang di kiri dan kanan jalan. Sungai mengalirkan air dengan deras. Pohon pinus berbaris rapi selepas pasar Cibeureum. Suasana alam jadi semakin teduh.
Di sini tak ada pencakar langit. Bising klakson pengendara motor atau mobil bak ditelan bumi. Serapah para pengendara seperti saat berebut celah jalanan Ibu Kota tidak ditemui di sini. Apalagi menyaksikan manuver-manuver mengerikan ala bus metromini. Tidak ada sama sekali! Di sini merupakan kawasan terlarang bagi spesies pengendara seperti mereka!
Setelah melakukan perjalanan selama 3,5 jam dari Cibiru, Kota Bandung, akhirnya kami tiba juga di Situ Cisanti. Rimbun pepohonan segera menyambut kedatangan kami. Cukup mengeluarkan uang sebesar 25.000 rupiah untuk membayar tiket masuk dan parkir.

Saya dan, ehm, pacar. Sekarang sudah jadi istri, sih.
Setelah berjalan sekitar 100 meteran dari tempat parkir, hamparan air berwarna hijau terhampar di depan mata. Selamat datang di Situ Cisanti. Inilah titik 0 kilometer Citarum alias hulu dari sungai terpanjang dan terbesar di Jawa Barat: Sungai Citarum. Sungai ini mengalir sepanjang 297 kilometer melintasi 9 kabupaten dan 3 kota. Sungai ini bermuara di pantai utara Pulau Jawa, tepatnya di Muara Gembong, Kabupaten Bekasi.
Secara administratif, Situ Cisanti terletak di Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung. Akses menuju Situ Cisanti bisa ditempuh melalui jalur Majalaya-Ciparay-Pacet atau dari Pangalengan. Jarak dari Kota Bandung sekitar 49 kilometer.
Melansir Detik.com (13/09/2011), Situ Cisanti mempunyai luas sekitar 5 hektare. Lokasinya berada di kawasan Perhutani, tepatnya kaki Gunung Wayang dengan ketinggian 1.500-3.000 mdpl.

Salah satu sumber mata air Situ Cisanti.
Sebuah tulisan di Tempo.co (19/12/2014) menjelaskan, Situ Cisanti merupakan danau buatan yang menampung air dari 7 mata air: Pangsiraman, Cikolebere, Cikawadukan, Cikahuripan, Cisadana, Cihaniwung, dan Cisanti.
Berkah di hulu
Mengelilingi Situ Cisanti membutuhkan waktu antara 45 menit sampai satu jam. Pohon-pohon berjejer mengelilingi Situ Cisanti. Udara berembus nyaman di kulit. Menghirup napas amat menyegarkan.
Situ Cisanti tak hanya sekadar tempat wisata. Ia mendatangkan sederet berkah bagi warga sekitar. Warga bisa meraup rupiah dengan menjual makanan dan penganan. Ada pula yang mengais rezeki melalui tangkapan penghuni perairan situ berupa ikan mujair, ikan lele, ikan impun paris, udang kecil, kijing, hingga haremis. Hasil tangkapan tersebut terkadang dijual atau dimasak di rumah. Warga biasa menangkapnya dengan memancing atau menggunakan alat tangkap. Khusus untuk kijing atau haremis, cukup menggunakan tangan kosong.

Sirib dipasang di tepian Situ Cisanti.
Saat sedang duduk di tepian Situ Cisanti, seorang warga terlihat mengangkat sirib yang ditancapkan ke tanah, tak jauh dari tempat saya duduk. Sirib tersebut sebelumnya diberi umpan agar ikan mendekat. Saat diangkat, beberapa ekor impun paris terperangkap di dalamnya.
“Biasa kenging sabaraha kang laukna?”
“Biasana kenging 4 rantang.”
“Dijual atau dikumahakeun kang laukna?”
“Digoreng pake tipung kanggo icaleun. Digoreng siga ciken (maksudnya fried chicken). Atau langsung dijual ka warga. Biasana aya wae warga nu meser. Raos da kang impun paris, mah. Tinggal digoreng pake tipung. Seer nu milarian impun paris.”
“Sarantangna diical sabaraha?”
“20.000.”
“Oh kitunya. Mung kenging lauk hungkul kang?”
“Nya. Kadang kenging haremis sareng kijing. Kadang kenging hurang oge. Tapi kijing mah teu diala unggal dinten, ngantosan ageung heula.”
Kemudian, saya juga menyampatkan diri mengobrol dengan seseorang yang sedang memancing ikan. Ia menceritakan bagaimana keserakahan warga hampir saja membinasakan kelestarian sumber mata air ini. Beberapa tahun lalu, sebagian warga nekat ingin merambah hutan untuk dijadikan lahan garapan. Tapi sebagian warga lainnya menolak keinginan tersebut. Akhirnya, mereka urung berladang di sekitar mata air.

Haremis dan kijing hasil tangkapan warga yang dijual di area Situ Cisanti.
Ironi di hilir
Tidak bisa dipungkiri bahwa Sungai Citarum begitu vital bagi hajat hidup jutaan warga Jawa Barat. Bahkan warga Jakarta turut kecipratan manfaatnya. DAS Citarum digunakan untuk irigasi sawah, bahan baku utama perusahaan air minum milik pemerintah, sumber pembangkit listrik tenaga air Saguling, Cirata, dan Jatiluhur. Itu hanya beberapa contoh saja. Masih banyak kemaslahatan lainnya yang bersumber dari DAS Citarum.
Tapi di saat bersamaan, ada pula orang-orang tidak tahu diri –untuk tidak menyebutnya goblok. Tingkah-polah mereka bertentangan dengan kelestarian lingkungan DAS Citarum.
Mengutip data Walhi Jabar dalam sebuah tulisan di Beritagar.id (14/3/2016), ada 166 pabrik yang membuang limbah ke Sungai Citarum. Kemudian, menurut catatan Program Coordination and Management Unit (PCMU) Balai Besar Wilayah Sungai Citarum, penebangan pohon di hulu Citarum telah mengakibatkan lahan kritis dengan tingkat erosi 31,4 % dari luas sungai. Sedimentasi sebanyak 7.900 ton/hektar.
Ada pula tayangan dokumenter Channel 4 bertajuk Unreported World, The World’s Dirtiest River yang bisa bikin geleng-geleng kepala dan terheran-heran. Penilaian sebagai sungai terkotor di dunia, rasanya sulit untuk dibantah.
Pada momen lainnya, saya dibuat tercengang saat melihat karya fotografer koran lokal Bandung. Dia memotret bocah-bocah sedang mandi di Sungai Citarum dengan bergelimang buih.
Fakta di atas mungkin membuat kita mengelus dada. Tapi saya yakin di luar sana masih ada pahlawan-pahlawan yang mempunyai kepedulian dalam merawat dan menjaga kelestarian Sungai Citarum.

Aerial shot Situ Cisanti. Sumber: citarum.org
Sebenarnya, pemerintah wabilkhusus Pemprov Jawa Barat tidak tinggal diam. Beragam program dieksekusi guna mengatasi persoalan akut ini. Anggaran jumbo dikucurkan guna merehabilitasi wilayah hulu Citarum.
Kesadaran betapa pentingya menjaga kelestarian DAS Citarum perlu dipecut lagi. Segenap pihak yang mempunyai irisan kepentingan bagi kelestarian DAS Sungai Citarum sepertinya diahadapkan pada dua pilihan: membiarkan amarah Sungai Citarum tetap langgeng atau membuatnya berkah di hulu dan sejahtera di hilir.
*Tulisan ini pertama kali terbit di facebook pertengahan Desember 2016. Ada revisi minor dalam penerbitan ulang di blog ini.