
Awal pekan kedua Februari lalu, saya dan keluarga pelesir ke Purwokerto. Tujuan utama kami adalah berkunjung ke Perpustakaan dan Rumah Sastra Ahmad Tohari di Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Banyumas. Saya mengontak nomor contact person yang tertera di akun Instagram Perpustakaan Ahmad Tohari.
“Buka, mas,” jawab si pemilik nomor ihwal operasional perpustakaan pada Ahad, 8 Februari lalu. Melalui contact person itu pula, saya mengenalkan diri dari Bekasi.
Setelah menempuh perjalanan selama 60 menit, kami tiba di Perpustakaan dan Rumah Sastra Ahmad Tohari jam 09.30. Di sana saya bertemu salah satu pengelola perpustakaan. Laki-laki berkacamata itu usianya enam tahun lebih muda dari saya.
“Pak AT lagi istirahat. Biasanya kalau mau ketemu harus janjian dulu, mas. Atau kalau mau, ketemunya nanti setelah solat zuhur. Pak AT biasanya solat berjamaah di sana,” ujarnya sambil menunjuk surau mungil yang terletak di belakang bangunan perpustakaan.
Saran tersebut mustahil dilakukan. Kami mesti balik kanan ke Purwokerto, sebab jam 12 harus angkat kaki dari hotel. “Mungkin harus balik lagi ke sini lain waktu untuk ketemu Ahmad Tohari,” batin saya.
Saya melanjutkan obrolan dengan pengelola perpustakaan. Kami tentu saja membahas karya Ahmad Tohari. Dari dia pula, saya tahu sejumlah informasi soal sisi personal Ahmad Tohari maupun detail karyanya.
Jam 09.50, saya hendak pamit. Sesaat kemudian, pengelola perpustakaan lainnya menghampiri saya sambil tergopoh-gopoh.
“Masnya yang dari Bekasi, ya?” tanya lelaki yang mengenakan sarung, kacamata, dan kopiah hitam.
“Iya betul, mas,” sergah saya.
“Bapak (Ahmad Tohari) sudah siap di depan,” kata lelaki itu singkat.
“Hah. Saya belum janjian dengan Pak Ahmad Tohari, mas,” sahut saya dengan agak bingung. Saya ingin memastikan bahwa dia tidak salah orang.
“Bukannya mas yang tadi WA dari Bekasi itu, ya?” selidiknya.
Saya sempat menerawang sebentar, “Ah, iya betul.” Seketika, teringat pesan WA kepada si contact person itu.
“Terima kasih sudah meluangkan waktu buat menemui kami, pak. Mohon maaf mengganggu. Soalnya kata pengelola perpustakaan, bapak lagi istirahat,” kata saya sambil menjabat erat tangan Ahmad Tohari di beranda rumahnya. Rumah Ahmad Tohari percis berdiri di samping sebelah timur perpustakaan.
Lelaki berpeci hitam di hadapan saya itu menyunggingkan senyum.
“Saya pembaca buku bapak, salah satunya Ronggeng Dukuh Paruk,” kata saya lagi. Maksud kedatangan saya ke Tinggarjaya memang sengaja ingin bertemu dan minta tanda tangan Ahmad Tohari di buku.
“Buku itu memang dahsyat,” tukas Ahmad Tohari singkat. Ia kemudian mempersilakan saya duduk.
Momen pertemuan dengan Ahmad Tohari seketika melemparkan memori pada sebuah masa, tepatnya ketika 2013 silam. Saya berkenalan dengan karya sastrawan yang lahir dari keluarga besar NU itu gara-gara kawan di kampus. Waktu itu, Ahmad Fauzi, kawan saya yang kutu buku, bercerita tentang novel Ronggeng Dukuh Paruk.
“Kok, ronggeng? Kok, ada novel ngebahas ronggeng?”
Begitulah impresi pertama saya saat mendengar novel Ronggeng Dukuh Paruk. Tapi, keanehan itu malah berbuntut rasa penasaran. Perasaan tersebut menuntun saya ke Perpustakaan Batoe Api di Jatinangor, Sumedang, untuk meminjam Ronggeng Dukuh Paruk. Rampung membaca, tak ada kesan apapun.
Empat tahun berselang atau sekitar awal 2017, saya membeli novel Ronggeng Dukuh Paruk, lalu membaca ulang. Kali ini, gaya penulisan Ahmad Tohari tinggalkan jejak berkesan. Novel realisme sosial itu hadirkan tokoh dari kalangan rakyat jelata. Dukuh Paruk, sebuah potret kampung kecil dan miskin di Jawa Tengah menjadi latar cerita.
Ahmad Tohari mendeskripsikan kehidupan Dukuh Paruk secara detail dan memikat. Tidak hanya dinamika para tokohnya saja, tapi juga meliputi objek flora, fauna, hingga alam Dukuh Paruk. Teknik story telling dalam Ronggeng Dukuh Paruk membuat diri ini melebur dalam jalannya cerita; bikin betah membuka lembar demi lembar halaman. Entah kenapa, bagi saya, Ronggeng Dukuh Paruk hadirkan atmosfer pedesaan penuh gairah.
Ronggeng Dukuh Paruk menampilkan Srintil sebagai tokoh utama. Ronggeng kondang asal Dukuh Paruk itu terseret huru-hara peristiwa 1965 akibat persinggungannya dengan Bakar, pentolan PKI yang pandai berpidato di hadapan massa. Saya kira, inilah benang merah cerita Ronggeng Dukuh Paruk.
Lima tahun kemudian, saya kembali ke Perpustakaan Batoe Api. Pulang dari sana, saya meminjam karya Ahmad Tohari lainnya seperti novel Kubah dan Bekisar Merah. Karakter tokoh dan latar tempat kedua novel itu tak jauh beda dengan Ronggeng Dukuh Paruk.
Di kemudian hari, saya membeli buku kumcer Senyum Karyamin, kumcer Mata Yang Enak Dipandang, novel Di Kaki Bukit Cibalak, dan novel Bekisar Merah. Dari situ saya tahu bahwa Ahmad Tohari memang kerap mengangkat kisah rakyat jelata, kemiskinan, atau “kekalahan” kaum paria dalam karyanya. Sementara untuk novel Kubah, Orang-orang Proyek, dan Lingkar Tanah Lingkar Air, saya belum sempat membelinya.
Kendati karya Ahmad Tohari lekat dengan ironi dan kegetiran, ada benang merah yang patut digarisbawahi: pergulatan tentang kemanusiaan. Barangkali kamu pernah dengar kredo, “Takdir sastra adalah berpihak kepada kemanusiaan.” Begitulah rupa karya sastra Ahmad Tohari.

Ahmad Tohari kini berumur 77 tahun. Wajahnya nampak segar dan memancarkan keteduhan. Ia tak pelit senyum. Ketika ngobrol, tempo bicaranya pelan. Pelan sekali. Ia menyimak dengan saksama ketika saya bertanya atau menanggapi penjelasannya.
“Saya telah hatam Ronggeng Dukuh Paruk sebanyak empat kali,” terang saya kepada Ahmad Tohari. Novel ini hadirkan perspektif menarik soal peristiwa 1965 dan kaitannya dengan isu kesenian serta reforma agraria. Selain itu, maksud kedatangan saya ke Tinggarjaya juga ingin merasakan suasana ala Dukuh Paruk.
“Saya pernah menjadi jurnalis,” terang saya sekali lagi. Saya pernah mewawancarai eks tapol ’65: dua di antaranya bekas anggota Pemuda Rakyat, sementara sisanya eks aktivis Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) dari UGM.
Salah satu bekas tapol yang pernah saya temui merupakan sosok perempuan. Keikutsertaan dia di organisasi Pemuda Rakyat hanya sebatas menyalurkan hobi di bidang tarik suara. Dua tahun setelah geger ’65, malapetaka pun menghampiri. Pada suatu malam, tentara mendatangi rumahnya.
Kemudian, si malang ini dijebloskan ke penjara selama 14 tahun tanpa melalui proses peradilan. Masalahnya cuma satu: dia gabung dengan organisasi underbow PKI. Padahal, dia tak tahu menahu soal sepak terjang PKI. Lagipula, sebelum 12 Maret 1966, PKI merupakan partai sah. Anggotanya diakui negara.
“Ini kan contoh Srintil di dunia nyata,” kata saya. Ahmad Tohari terkekeh.
Di tengah-tengah obrolan, saya disodorkan teh manis panas oleh tuan rumah. Kudapan keripik pisang juga menemani perbincangan kami.
“Jadi begini,” Ahmad Tohari menanggapi seloroh saya sebelumnya, “saya mengalami langsung (geger ’65). Eksekusinya itu jadi tontonan warga. Jadi waktu itu malam-malam ada tahanan yang diambil dari kantor polisi, lalu dibawa ke balai desa. Kemudian diarak di bawah remang sinar petromaks.”
“Itu tangannya diborgol, pak?” sela saya.
“Begini,” sambar Ahmad Tohari sambil memeragakan posisi tangan si malang. Singkat cerita, si malang ini digiring hingga ke tepi lubang yang sudah disiapkan warga. Kemudian nyawanya berakhir di ujung bedil aparat melalui proses yang kelewat brutal dan tidak manusiawi. Warga setempat baru diperbolehkan mengubur si malang pada keesokan harinya.
“Memangnya daerah sini basis PKI, ya, pak?” kata saya penuh penasaran.
“Potensial,” sergah Ahmad Tohari.
“Apakah karena di sini banyak pesawahan?” sela saya. Ahmad Tohari mengangguk.
Setahu saya, salah satu kantong simpatisan PKI berasal dari kaum tani. Hal ini berkaitan dengan program reforma agraria atau bagi-bagi tanah yang dimotori Barisan Tani Indonesia (BTI), organisasi yang terafiliasi dengan PKI.
Lalu Ahmad Tohari meneruskan cerita, “Jadi di sini ada juga guru yang aktif di organisasi profesi. Waktu itu kan ada dua organisasi (profesi guru). Nah, dia ikut yang kiri. Dia juga ditangkap.”

Isi kepala saya langsung terbayang hiruk-pikuk Desa Tinggarjaya saat terjadi huru-hara ’65. Kemudian, tiba-tiba muncul sosok Srintil dan Bakar. Sekelebat muncul pula sosok tokoh Karman, bekas anggota PKI yang dibuang ke Pulau Buru selama 12 tahun seperti diceritakan dalam novel Kubah.
Ah iya, novel Kubah itu! Beberapa waktu lalu, saya memburu buku tersebut di toko daring. Tapi hasilnya nihil.
Dalam sebuah kegiatan daring yang saya ikuti, Ahmad Tohari bercerita bahwa ia pernah menjadi tempat curhat seorang eks tapol ’65. Setelah keluar dari penjara, si malang ini berkeluh kesah karena dikucilkan para tetangganya. Pengalaman tersebut membuat nurani Ahmad Tohari bergolak. Lalu, lahirlah novel Kubah.
Terbit pada 1980, Kubah mengisahkan proses rekonsiliasi eks tapol ’65 di tengah-tengah masyarakat. Tapi, realita yang terjadi justru sebaliknya. Berurusan dengan anasir-anasir komunis sama saja dengan mengundang susah dan bahaya ke dalam rumah. Apalagi saat itu cengkraman kekuasaan rezim Suharto begitu kuat.
“Apakah ada kekhawatiran ketika menulis Kubah?” tanya saya.
“Saya waktu itu berpikir dua kali. Tapi saya tetap harus menuliskannya,” sahut Ahmad Tohari.
“Ada semacam intervensi dari pemerintah nggak, pak?” timpal saya.
“Dulu Menteri Pendidikannya orang sosialis. Malahan saya dapat penghargaan dari dia. Saya dapat uang 1 juta. Dulu beli motor bebek harganya cuma 350.000,” kenang Ahmad Tohari.
Kubah, juga Ronggeng Dukuh Paruk yang legendaris itu bagi saya merupakan literatur berharga untuk memahami geger ’65 lewat kacamata sastra. Melalui Ronggeng Dukuh Paruk, misalnya, pembaca bisa melihat bagaimana mengerikannya dampak stigma sebagai simpatisan PKI, khususnya bagi orang-orang yang berasal dari lapisan sosial masyarakat paling rendah dalam rupa Srintil.
Novel yang telah dicetak sebanyak 14.000 eksemplar itu juga mengangkat wacana reforma agraria era ’60an. Salah satu pemicu kekerasan horizontal setelah pecahnya peristiwa G30S diduga akibat balas dendam para tuan tanah terhadap kelompok yang memperjuangkan program bagi-bagi tanah.
“Bahkan tuan tanah itu dipersonifikasikan sebagai pemuka agama,” beber Ahmad Tohari.
Novel Kubah juga punya catatan khusus tersendiri. Kubah bisa dibilang sebagai generasi awal karya sastra Indonesia dalam bentuk novel dengan latar cerita huru-hara ’65. Poin paling penting yaitu, Kubah maupun Ronggeng Dukuh Paruk tampil sebagai antitesis narasi penguasa soal peristiwa 1965 yang penuh distorsi.
Ahmad Tohari bilang bahwa muatan geger ‘65 dalam karya yang ia tulis merupakan bentuk ekspresi atas pergulatan batinnya. “Kalau versi pemerintah, kan, sudah dipoles,” tegas Ahmad Tohari. Kali ini saya yang menyunggingkan senyum.
Tak terasa, matahari semakin merangkak ke atas kepala. Sejujurnya, masih banyak rentetan pertanyaan yang ingin disampaikan. Tapi saya mesti segera bergegas ke Purwokerto. Sebab, jarak tempuh dari Desa Tinggarjaya memakan waktu 1 jam perjalanan menggunakan sepeda motor. Tepat jam 10.50 saya pamit undur diri.
“Kalau nanti ke sini lagi, saya ajak ke tempat lahirnya Ronggeng Dukuh Paruk,” kata Ahmad Tohari menutup obrolan.