
Rasanya tidak ada yang pantas dibangga-banggakan amat di tahun 2025 ini selain urusan membaca dan membeli buku. Terhitung ada 14 buku anyar yang mendarat di rak buku. Sementara 24 biji buku tuntas dibaca dalam satu tahun kalender.
Dari total buku yang telah dibaca, 7 buku di antaranya dibeli pada penghujung 2024. Kemudian ada 4 buku pinjaman dari kawan maupun perpustakaan. Lalu, ada pula satu buku hasil “mengemis” dari kakak perempuan saya. Sementara dua buku lainnya hasil membaca ulang.
Jika diklasifikasikan berdasarkan genre, 7 di antaranya adalah novel fiksi, termasuk 2 vovel versi terjemahan. Ada pula 9 buku yang mengulas soal sejarah; 3 buku tentang profil tokoh dalam negeri maupun dunia; 3 buku berkaitan dengan bidang jurnalistik; dan 2 buku tentang catatan sebuah perjalanan si penulis. Catatan 24 buku ini menjadikan tahun 2025 sebagai periode paling produktif seumur hidup saya dalam urusan membaca.
Semua ini tidak bisa dilepaskan dari momentum pada pertengahan April tahun ini. Saat itu saya memutuskan “putar haluan” dari profesi jurnalis. Pilihan ini membawa berkah tak terkira: slot waktu luang yang melimpah ruah.
Dulu, di kantor sebelumnya, mulai dari bangun tidur, di perjalanan menuju kantor atau pulang ke rumah, hingga menjelang tidur, tidak bisa jauh dari ponsel. Tujuannya, ya, memantau update dari narasumber atau informasi dari tim di kantor yang selalu dinamis. Akhir pekan pun biasanya masih bergelut dengan urusan pekerjaan. Menemukan waktu luang dengan pikiran jernih dan tenang begitu terbatas. Jika tidak memaksakan diri melawan rasa capek, barangkali buku cuma jadi pajangan di rak.
Nah, kondisi di tempat kerja saat ini berbalik: urusan pekerjaan tidak dibawa pulang ke rumah. Kini, perjalanan dari rumah menuju kantor maupun sebaliknya menjadi waktu terbaik untuk membaca buku –selain akhir pekan tentunya.
Saya pergi ke tempat kerja menggunakan kereta rel listrik (KRL) dan bus Trans Jakarta. Kini, kereta menjadi spot favorit untuk membuka lembaran buku. Buku yang saya baca sepanjang 2025, lebih dari setengahnya dilahap pada periode Mei-Desember.
Tiga Buku Favorit

Sedikitnya ada tiga buku paling berkesan pada 2025. Pertama, novel Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta. Novel terjemahan karya Luis Sepulveda ini diterbitkan Marjin Kiri. Ulasan novel karya penulis progresif asal Amerika Latin tersebut bisa dibaca di sini.

Selanjutnya buku #RESETINDONESIA karya Dandhy Dwi Laksono, Farid Gaban, Yusuf Priambodo, dan Benaya Harobu. Memamah informasi buku setebal 448 halaman ini tergolong cepat. Kalau tidak salah gak sampai dua pekan. Ini merupakan buku paling tebal yang dibaca tahun 2025.
Sajian hasil reportase dari tiap sudut wilayah Indonesia ini menguak beragam informasi menarik dan penting. Secara khusus, tulisan Dhandy Dwi Laksono dan Farid Gaban terasa lebih mengalir. Hal ini tidaklah aneh, sebab keduanya merupakan jurnalis handal dengan jam terbang mumpuni. Barangkali inilah yang bikin isi buku terasa nyaman saat dibaca.
Buku #RESETINDONESIA menuntun pembaca untuk memahami bobroknya tata kelola negara di bidang ekonomi, politik, pendidikan, hingga pengelolaan lingkungan. Penyelenggara negara sejak era Presiden Soeharto sampai Joko Widodo gemar mengeruk cuan dengan cara instan. Caranya yaitu menggenjot sektor industri ekstraktif seperti tambang batu bara, tambang nikel, dan perkebunan kelapa sawit. Hutan yang sejatinya menyimpan keanekaragaman hayati, kerap kali “ditumbalkan” demi menopang bisnis ekstraktif tersebut.
Model bisnis seperti ini bertolak belakang dengan prinsip kelestarian alam. Lingkungan cepat rusak. Keseimbangan ekosistem terganggu. Bencana ekologis terus mengintai. Banjir bandang di Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Kalimantan Selatan beberapa waktu lalu merupakan bukti buruknya tata kelola lahan dan hutan. Pada akhirnya, negara mesti keluarkan dana jumbo untuk memulihkan daerah terdampak bencana ekologis.

Buku menarik berikutnya adalah novel Hikayat Kadiroen karya Semaoen. Hikayat Kadiroen ialah potret sebuah zaman. Semaoen menulis Hikayat Kadiroen dari balik penjara ketika dia terjerat kasus persdelict pada tahun 1919. Semaoen merupakan tokoh Sarekat Islam yang di kemudian hari menjadi ketua Partai Komunis Indonesia (PKI) yang pertama.
Kendati ditulis lebih dari satu abad lalu, ide-ide yang dituangkan Semaoen masih relevan dengan kondisi kiwari. Hikayat Kadiroen punya kekuatan dalam hal gagasan. Ia begitu kental dengan nilai-nilai kemanusiaan; keberpihakan kepada rakyat tertindas; dan perlawanan terhadap kaum pemodal. Tokoh Kadiroen adalah sebuah anomali. Dia digambarkan sebagai pejabat bumiputera yang bertolak belakang dengan praktik feodalisme.
Pembaca yang budiman, demikianlah refleksi saya tahun 2025. Membaca adalah proses merawat ingatan, sekaligus mejaga pikiran tetap waras di tengah belantara sampah informasi. Harapan di tahun 2026 sederhana saja: ingin lebih banyak membaca & mengulas buku dibanding tahun 2025.
Berikut daftar lengkap buku yang saya baca selama 2025:
1. ALDERA: Potret Gerakan Politik Kaum Muda 1993-1999. Tim penulis: Teddy Wibisana, Nanang Pujalaksana, Rahadi T. Wiratama.
2. Seri Buku Tempo: Sukarno, Paradoks Revolusi Indonesia. Penulis: tim jurnalis Tempo.
3. Seri Buku Tempo: Gelap-Terang Hidup Kartini. Penulis: tim jurnalis Tempo.
4. Seri Buku Tempo: Sjahrir: Peran Besar Bung Kecil. Penulis: tim jurnalis Tempo
5. Jurnalisme di Luar Algoritma. Penulis: Arif Zulkifli.
6. Di Balik Investigasi Tempo 01. Penulis : tim jurnalis Tempo.
7. Investigasi Energi Tempo. Penulis: tim jurnalis Tempo
8. Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan. Penulis: Soe Hok Gie.
9. Gadis Pantai. Penulis: Pramoedya Ananta Toer.
10. Jalan Raya Pos, Jalan Daendels. Penulis: Pramoedya Ananta Toer.
11. Sekali Peristiwa di Banten Selatan. Penulis: Pramoedya Ananta Toer.
12. Gerwani: Derita Tapol Wanita di Kamp Plantungan. Penulis: Amurwani Dwi Lestariningsih.
13. Pledoi Kol. A. Latief: Soeharto Terlibat G30S. Penulis: Abdul Latief.
14. Sejarah Hidup Nabi Muhammad SAW. Penulis: Ustadz Abdul Somad.
15. Peristiwa 27 Juli 1996: Titik Balik Perlawanan Rakyat. Penulis: Peter Kasenda.
16. Hikayat Kadiroen. Penulis: Semaoen.
17. CHE: Catatan Perjalanan Che Guevara Mengelilingi Amerika Selatan. Penulis: Che Guevara.
18. Haji Murad. Penulis: Leo Tolstoy.
19. Sayap-sayap Patah. Penulis: Khalil Gibran
20. Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta. Penulis: Luis Sepulveda
21. Perempuan Berkebaya di Tebing Kanal. Penulis: Martin Aleida.
22. Sitor Situmorang: Mitos dari Lembah Kekal: Chris Poerba, Hotman J. Lumban Gaol.
23. #RESETINDONESIA. Penulis: Dandhy Dwi Laksono, Farid Gaban, Yusuf Priambodo, dan Benaya Harobu.
24. Manusia Ide Mochtar Riady (Otobiografi). Penulis: Mochtar Riady.