Ulasan Buku Untuk Negeriku: Kisah Menggelitik di Sekitar Bung Hatta (Bagian 1)

Negarawan sejati. Jenius. Kutu buku. Penulis produktif. Visioner. Seorang poliglot. Teladan soal integritas tak perlu diragukan lagi. Ihwal kepentingan rakyat, seperti tarikan napas dalam hidupnya. Bahkan, tempat “peristirahatan” terakhirnya membaur bersama rakyat; ia ingin dekat dengan rakyatnya. Itulah gambaran saya atas sosok Mohammad Hatta setelah membaca buku autobiografi berjudul Untuk Negeriku terbitan Penerbit Buku Kompas tahun 2015.

Barangkali banyak orang mengenal Mohammad Hatta karena perannya sebagai proklamator kemerdekaan Indonesia–bersama Sukarno–sekaligus wakil presiden pertama Republik Indonesia. Sisi lain Bung Hatta sebagai sosok penulis produktif, menarik untuk diulas.

Bayangkan saja, selama masa hidupnya, sejak usia 16 sampai 77 tahun, Bung Hatta telah melahirkan 800 karya tulis dalam berbagai bentuk seperti buku, artikel, esai, makalah, pidato, dan ceramah (Antaranews.com, 18/11/2018).

Buku Untuk Negeriku, Autobiografi dalam Tiga Bagian

Salah satu karya yang menarik untuk dibaca ialah autobiografi berjudul Untuk Negeriku. Autobiografi ini terbagi dalam tiga buku: Bukittinggi-Rotterdam Lewat Betawi, Berjuang dan Dibuang, dan Menuju Gerbang Kemerdekaan.

Bagian pertama Bukittinggi-Rotterdam Lewat Betawi mengisahkan masa kecil Bung Hatta di Bukittinggi, Sumatera Barat. Memasuki masa remaja, ia pindah ke Batavia untuk melanjutkan pendidikan. Usai merampungkan sekolah di Batavia, Bung Hatta meneruskan pendidikan tinggi di Handels Hoogere School atau Sekolah Tinggi Ekonomi di Rotterdam, Belanda. Buku bagian pertama merupakan yang paling tebal dibanding dua buku lainnya.

Sementara bagian Berjuang dan Dibuang memaparkan periode perjalanan Mohammad Hatta di Tanah Air–sekembalinya dari Belanda, dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Karena aktivitasnya di bidang politik, pemerintah kolonial Hindia Belanda mengasingkan Bung Hatta ke Boven Digul, Papua, dan Banda Neira, Maluku.

Buku bagian ketiga Menuju Gerbang Kemerdekaan mengulas peran Bung Hatta dalam persiapan kemerdekaan Indonesia beserta dinamika yang terjadi di dalamnya.

Hal-hal Menggelitik di Sekitar Bung Hatta

Tulisan ini memang bukan semacam resensi buku pada umumnya. Saya lebih menitikberatkan pada kisah-kisah menggelitik yang dialami Bung Hatta pada buku bagian pertama. Autobiografi Untuk Negeriku mengulas kisah perjalanan hidup Mohammad Hatta yang disampaikan secara runtut. Masing-masing bagian buku punya catatan menarik, kendati isinya boleh dibilang agak serius. Dalam bukuBukittinggi-Rotterdam Lewat Betawi, misalnya, terselip sejumlah kisah yang mengundang tawa.

Pada 3 Agustus 1921, Bung Hatta berangkat dari Teluk Bayur dengan menaiki kapal Tambora milik Rotterdamse Llyod menuju Rotterdam. Bung Hatta mendiami kelas dua. Saat kapal singgah di Port Said, Mesir, sebagian besar penumpang turun ke darat untuk sekadar melepas suntuk lantaran telah berhari-hari menghabiskan waktu di dalam kapal. Tapi saat itu, Bung Hatta memilih berdiam diri di dalam kapal.

Kedatangan kapal di Port Said tentu saja menjadi peluang ekonomi bagi warga lokal untuk mendulang cuan. Tak terkecuali bagi peramal. Ahli nujum ini menaiki kapal dan segera “menjual keahliannya” kepada para penumpang. Ajaibnya, semua ramalan kehidupan “pasiennya” happy ending.

Bung Hatta bercerita, salah satu penumpang–seorang mahasiswa asal Surabaya, menolak memberi “biaya jasa” setelah si peramal berbusa–busa soal sejarah hidup manusia selama 15 menit. Seperti biasa, kesimpulan hasil penerawangan si peramal berakhir dengan cerita manis.

Ahli nujum ini makin jengkel saat arek Suroboyo itu berkelakar, “Apabila Tuan benar-benar ahli nujum, pandai menerka yang akan terjadi, tentu Tuan sudah tahu bahwa aku sama sekali tidak bermaksud akan membayar nujuman Tuan itu.” Dengan tertawa, dia ulangi, “Tuan dari semuanya ‘kan sudah mesti tahu aku tidak akan membayar. Apa sebab Tuan minta uang kemudian?”

Jelaslah makin dongkol si ahli nujum itu. Lalu dia menatapkan matanya ke muka mahasiswa. Kira-kira satu menit kemudian, ia berkata, “Besok Tuan akan meninggal,” sambil melengos pergi. Kontan saja mahasiswa tersebut jiper. Perkataan tukang ramal itu terngiang-ngiang di dalam kepalanya untuk beberapa hari.

Jawaban Ngawur Bung Hatta Saat Ujian

Selama menempuh pendidikan di Eropa, Bung Hatta gemar membeli buku dengan beragam tema. Ia dengan lahap membacanya. Termasuk pula buku yang berkaitan dengan ilmu ekonomi. Hal tersebut merupakan bagian dari persiapan Bung Hatta untuk menempuh ujian Diploma Handelseconomie.

Sesi ujian ini dibagi menjadi dua bagian. Usai menjalani ujian bagian pertama, ketua komisi ujian memberitahu bahwa Hatta lulus tanpa catatan. Artinya, Bung Hatta dipersilakan mengikuti ujian bagian kedua pada pekan depannya.

Pada ujian bagian kedua, Hatta menghadapi tiga orang penguji: Prof. N.J. Polak untuk Ekonomi Perusahaan, Lektor G. Goggrijp untuk ekonomi kolonial, dan Lektor W.E. Boerman untuk Ilmu Bumi Ekonomi.

Bung Hatta menjawab dengan lancar pertanyaan para penguji. “Tetapi tatkala dibelokannya pertanyaan tentang dagang waktu di Batavia, aku gugup menjawabnya. Kucoba menjawab menurut teori dagang waktu dalam buku-buku yang kubaca, dikatakannya tidak begitu,” tulis Bung Hatta. Ia mencoba menguraikan jawaban tersebut kepada Prof. Polak sekitar sepuluh menit. Jawabannya itu dinilai ngawur.

Prof. Polak lantas bertanya, “Adakah bursa di Batavia?” Lalu Bung Hatta menjawab, “Tidak ada.” Kontan Prof. Polak menyambar, “Kenapa dari semulanya tidak Tuan katakan? Kalau dari tadi Tuan sebutkan bahwa tidak ada bursa di Batavia, tidak perlu kita menghabiskan waktu berputar-putar selama lebih dari sepuluh menit.”

Saya kira, cuma diri ini saja yang memegang prinsip “yang penting yakin dulu saja” saat menghadapi sebuah keraguan. Ternyata, Bung Hatta pun pernah melakukannya. Tapi tetap berkelas, elegan, dan “asbunnya” merujuk pada buku, cokkkk.

Setelah sesi ujian rampung, Prof. Polak mengabarkan bahwa hasil ujian Hatta tidak memuaskan. Bung Hatta diminta kembali menghadapi ujian tiga bulan kemudian alias remedial.

Air Es Lebih Mahal dari Bir

Saat liburan Natal dan perpisahan tahun dari 1921 ke 1922, Bung Hatta pelesir bersama Dahlan Abdullah–kawan sesama urang awak. Di Jerman, keduanya bertemu Usman Idris–sobat Dahlan Abdullah ketika sama-sama sekolah raja di Bukittinggi.

Pada suatu malam saat di Hamburg, mereka makan di sebuah restoran. Dahlan Abdullah, Dr. Eichele, dan Usman Idris memesan bir untuk minum. Sementara Bung Hatta memesan air es. Kedua rekannya mengira Bung Hatta sedang ngirit.

“Setelah selesai makan dan membayar harganya, aku ditertawakan oleh Dahlan Abdullah bahwa minumanku, air es, lebih mahal harganya daripada bir,” tulis Hatta.

Lima Porsi Nasi di Eropa

Selain ke Jerman, Bung Hatta juga melakukan perjalanan ke sejumlah negara Eropa lainnya, salah satunya kota Wina, Austria. Ceritanya, Hatta dan Dahlan Abdullah hendak menemui Dr. Kroll, dosen di Universitas Wina yang sebelumnya pernah mengajar di STOVIA, Weltevreden–sekarang menjadi Museum Kebangkitan Nasional.

Dr. Kroll membawa sang istri untuk menemui sohibul bait dari belahan bumi timur tersebut. Mereka sepakat bertemu di restoran tempat Bung Hatta dan Dahlan Abdullah menginap.

Berasal dari negara agraris di mana tanaman padi dapat tumbuh dengan subur, Bung Hatta dan Dahlan terbiasa dengan makanan pokok nasi. Mereka merindukan hidangan nasi. Daratan Eropa tentu tidak ramah untuk tumbuh kembang tanaman padi. Maka, Dahlan inisiatif memesan menu Hungarian Gulash yang selalu dimakan dengan nasi. Semuanya sepakat.

Usai mencatat menu yang dipesan tamunya, herr ober atau pelayan lantas menyebutkan setiap gulash dengan satu porsi nasi. Dahlan Abdullah segera mengoreksi, “Empat porsi gulash dan sepuluh porsi nasi.” Pelayan tersebut tentu saja terbelalak. Namun, Dahlan tetap bergeming, “Sepuluh porsi nasi untuk kami tidak terlalu banyak, malahan sebenarnya kurang. Kami di negeri kami sehari-hari makan nasi, sebab itu kami tahu berapa banyak makan kami. Tuan bawa sajalah sebanyak yang kukatakan itu kemari.”

Hatta sepakat dengan argumen Dahlan Abdullah, kendati ia cuma makan dua porsi nasi. Sementara Dr. Kroll melahap dua porsi. Istri Dr. Kroll cuma habiskan satu porsi saja. Lalu Dahlan Abdullah? Ya betul, ia memakan total lima porsi nasi.

Kisah perjalanan hidup Bung Hatta baru saja dimulai. Masih banyak sisi lain Bung Hatta yang menarik untuk diulas. Nantikan ulasan buku Ulasan Buku Untuk Negeriku: Perjuangan Bung Hatta dan Perlakuan Terhadap Buku (Bagian 2).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *