Saat liburan ke Purwokerto, saya mengunjungi Perpustakaan dan Rumah Sastra Ahmad Tohari di Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang. Di tengah perjalanan, tepatnya di wilayah Rawalo, Sungai Serayu terlihat diapit bukit dan sawah. Di atas sungai membentang rel kereta api ikonik: Jembatan Kereta Api Sungai Serayu Rawalo. Saya menepi sejenak untuk menikmati pemandangan ini.
Dieng, dataran tinggi di Wonosobo, Jawa Tengah, merupakan hulu dari Sungai Serayu. Lalu air mengalir melintasi wilayah Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas dan bermuara di Cilacap. Di spot tertentu, sejumlah warga mencari sumber penghidupan dengan mengumpulkan material batu maupun pasir dari aliran Sungai Serayu.
Sungai Serayu dalam Karya Sastra Ahmad Tohari
Sungai Serayu menjadi sumber inspirasi bagi Ahmad Tohari, sastrawan asal Banyumas. Cerpen Ah, Jakarta dan Senyum Karyamin dalam kumpulan cerpen Senyum Karyamin, misalnya. Ah, Jakarta memotret kasus penembakan misterius atau petrus di era pemerintahan Suharto. Intinya, tokoh utama dalam cerpen itu merupakan seorang gali atau preman atau pelaku kriminal yang acap bikin resah masyarakat. Singkat cerita, gali tersebut mati secara misterius, lalu jasadnya ditemukan mengambang di Sungai Serayu.

Kumpulan cerpen Senyum Karyamin karya Ahmad Tohari.
Sementara dalam cerpen Senyum Karyamin, Ahmad Tohari menceritakan kisah para pencari batu. Latar tempat dalam pembuka cerpen berada di tepian sungai. Karyamin dan koleganya menggantungkan hidup dari batu-batu yang didapat dari sungai tersebut.
Cerpen Senyum Karyamin sarat dengan pesan ironi rakyat jelata. Di dalamnya juga kental akan nuansa kritik sosial. Konon katanya, tokoh Karyamin terinspirasi dari para pencari batu di tepian Sungai Serayu.
Pengalaman Menyusuri Muara Sungai Serayu
Awal 2022 lalu, saya sempat menyusuri muara Sungai Serayu di Desa Bunton, Kecamatan Adipala, Cilacap. Tujuannya mencari informasi soal penemuan mayat remaja perempuan korban tindak pidana.

Menyusuri muara Sungai Serayu di Desa Bunton, Cilacap.
Jadi, saat itu viral kasus tabrak lari di Nagreg, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Korbannya merupakan pasangan remaja. Sesaat usai kecelakaan, korban digotong ke dalam mobil. Bukannya pergi ke rumah sakit, pengendara mobil minibus yang terlibat kecelakaan malah membawa kedua korban ke Banyumas, kemudian membuangnya ke Sungai Serayu.
Jasad korban laki-laki ditemukan di aliran Sungai Serayu Desa Rawalo, Banyumas. Sementara jasad korban perempuan ditemukan di muara Sungai Serayu Desa Bunton.
Saya tiba di TKP sekitar pukul 10.30. Terpaan sinar matahari terasa membakar kulit. TKP merupakan area tambang pasir tradisional. Saya mengamati, para penambang seolah tak memedulikan sengatan sinar matahari. Salah satu di antaranya bahkan cuma mengenakan kaus lengan pendek dan celana dalam saja. Mereka dengan leluasa menggotong karung-karung pasir di pundak.
Kemudian saya mencari informasi titik penemuan mayat. Seorang penambang pasir membantu menunjukkan lokasi penemuan mayat tersebut

Penambang pasir tradisional di muara Sungai Serayu, Desa Bunton, Cilacap, sedang beraktivitas di tengah terik matahari.
Sekitar pukul 11 saya bergegas balik kanan berbarengan dengan datangnya hujan. Tapi, para penambang itu tetap melanjutkan pekerjaannya. Barangkali situasi inilah yang mengilhami Ahmad Tohari menemukan karakter Karyamin.
