Ulasan Buku Untuk Negeriku: Perjuangan Bung Hatta dan Perlakuan Terhadap Buku (Bagian 2)

Buku autobiografi Untuk Negeriku karya Mohammad Hatta bagian kedua berjudul Berjuang dan Dibuang. Kalau boleh disimpulkan, bagian ini menceritakan perjuangan Bung Hatta melawan kolonialisme dan imperialisme di Tanah Air setelah ia merampungkan pendidikan di Belanda.

Tak lama usai tiba di Tanah Air, Bung Hatta bergegas menuju Bandung untuk menemui pemuda revolusioner yang namanya sudah ia dengar ketika masih di Belanda: Sukarno.

Di Tanah Air, Bung Hatta langsung masuk sebuah perkumpulan bernama Pendidikan Nasional Indonesia (PNI). Di kemudian hari, Bung Hatta sempat memimpin organisasi ini.

Pendidikan bagi Bung Hatta adalah upaya konkret dalam membangun kesadaran rakyat demi sebuah cita-cita mulia: Indonesia merdeka. Kemerdekaan Indonesia tidak akan terwujud jika hanya mengandalkan agitasi saja. Diperlukan juga sebuah pekerjaan yang teratur; dari agitasi ke organisasi.

“Mendidik rakyat, supaya timbul semangat merdeka itu, itulah pekerjaan kita yang utama,” tulis Hatta.

Calon anggota PNI harus melewati ujian yang begitu ketat. Pokok-pokok ujian bagi calon anggota di antaranya meliputi sejarah umum Indonesia dalam garis besarnya terutama sejarah pergerakan timbulnya Boedi Oetomo dengan mengetahui perbedaan antara politik kooperasi dan nonkooperasi; imperialisme dalam pertumbuhannya; kapitalisme dalam perkembangannya; kolonialisme; kedaulatan rakyat.

Sementara orang yang memberikan kursus bagi calon anggota mesti melahap bacaan Daulat Ra’Jat, Indonesia Vrij karya Mohammad Hatta, Tujuan dan Politik Pergerakan Nasional di Indonesia karya Bung Hatta, dan Indonesia Menggugat karya Sukarno.

Selain membentuk kader-kader kritis, Bung Hatta juga berjuang melalui tulisan. Ia kerap menulis di surat kabar Daulat Ra’Jat yang terbit di Batavia. Bung Hatta tak gentar menyampaikan gagasan yang berisi kritik tajam kepada pemerintah kolonial Hindia Belanda. Salah satu tulisan yang pernah dimuat pada 30 Juni 1933 berjudul Kedaulatan Rakyat bukan Anarchie.

Kelak, aktivisme Bung Hatta mengusik pejabat pemerintah kolonial Hindia Belanda. Akibatnya, Bung Hatta dibuang ke Boven Digul, sebuah daratan nun di belahan timur sana. Ia dijauhkan dari dunia pergerakan.

Bung Hatta dan Buku-bukunya

Di balik kisah perjuangan Bung Hatta, saya menyoroti kaitan menarik antara sosok Bung Hatta dan buku. Saya kira, buku bagi Mohammad Hatta ibarat kekasih; ia dirawat dengan cinta dan diperlakukan secara istimewa. Sudah banyak tulisan yang mengulas bagaimana Bung Hatta memperlakukan buku-bukunya.

Saya mencoba menambah daftar tulisan mengenai kisah Bung Hatta dan buku berdasarkan cerita yang dibaca dalam autobiografi Untuk Negeriku bagian kedua ini. Kalau mau tahu ulasan buku bagian pertama, kamu bisa baca Ulasan Buku Untuk Negeriku: Kisah Menggelitik di Sekitar Bung Hatta (Bagian 1)

Dokumentasi Foto Bung Hatta Saat Menempuh Pendidikan di Belanda

Ada satu momen menarik antara Hatta dan buku. Pada penghujung tahun 1921, Jerman dihantam inflasi. Perbandingan mata uang gulden Belanda dengan mark Jerman 1 berbanding 100. Sebelum Perang Dunia 1, perbandingannya 10 dengan 6. Satu mark Jerman nilainya 60 sen Belanda.

Ketika sedang berada di Jerman, Hatta membeli buku dengan mata uang gulden. Buku dengan harga ratusan mark jadi lebih murah ketika dibayar dengan gulden. Jika dihitung dengan gulden, harga itu dibagi dengan seratus. Maka Hatta memborong buku-buku seperti buku Gustav Schmoller, Grundrisz der Algemeinen Volkswirtschaftlehre, dua jilid, tebalnya kira-kira 1.400 halaman. Hatta menang banyak!

Pulang ke Indonesia Membawa Koleksi Buku

Bung Hatta meninggalkan negeri Kincir Angin pada 20 Juli 1932. Koleksi buku sebanyak 16 peti turut diboyong. Tiga hari usai tiba di Batavia, Bung Hatta bergegas ke Pelabuhan Tanjung Priok untuk mengambil buku.

Ketika peti diperiksa, buku-buku tersebut dikeluarkan satu per satu, lalu dimasukkan kembali ke dalam peti. Inspektur polisi yang memeriksa buku kemudian menahan majalah Indonesia Merdeka. “Indonesia Merdeka tidak boleh masuk di Hindia Belanda. Biarlah semuanya ini kubawa dahulu, dibicarakan di parket. Apabila atasanku membolehkan, aku sendiri mengantarkannya ke situ,” kata si inspektur polisi.

Buku sebanyak 16 peti kemudian diangkut menggunakan truk ke rumah Mak Etek Ayub. Ketika menyusun buku, Bung Hatta dibantu beberapa orang. Tahu, nggak, berapa lama mereka menyusun buku? Tiga hari, cukkkk!

“Untuk mempercepat penyusunannya buku-buku itu dikeluarkan semuanya dari peti dan ditaruh di atas lantai. Setelah kuperhatikan deretannya di lantai itu, aku berdiri di muka almari buku itu, di atas sebuah kursi dan aku minta tolong kepada saudara Indra Kusuma dan pembantu-pembantu lainnya mengantarkan sebagian-sebagian kepadaku. Dengan cara begitu, tersusunlah buku-buku itu menurut masalah yang dikupasnya seperti sejarah ekonomi, ekonomi teoritika, ekonomi uang, kredit, bank dan konjungtur, politik perniagaan dan politik perhubungan, ilmu negara dan ilmu tata negara dan ilmu hukum internasional, sejarah umum, filosofi, buku-buku tentang politik kolonial dan penjajahan, tentang pergerakan nasional di Turki, Arab dan Mesir, India, China, dan lain-lainnya,” tulis Hatta

Bung Hatta Tiba di Boven Digul Bersama 16 Peti Buku.

Pada 28 Januari 1935, Bung Hatta tiba di Tanah Merah, Boven Digul, dengan memboyong koleksi bukunya sebanyak 16 peti besi berukuran ¼ m³. Jadi totalnya 4 m³ buku.

Lalu timbullah persoalan terkait buku-buku yang ia bawa. Bagaimana caranya membawa 16 peti buku? Musababnya, akses jalan di Tanah Merah sangat terbatas. Jarak dari bestuursterrein ke kampung pembuangan kira-kira 1,5 km. Sementara lebar jalan sekitar 1,5 meter. Satu-satunya cara untuk mengangkut buku yaitu menggunakan tenaga manusia.

“Ini orang sering bikin gerah pemerintah kolonial, masih aja merepotkan diri sendiri dan orang lain hanya gara-gara buku.” Saya kira itulah gerutu dari Wedana Kampung Tanah Merah pada saat itu.

Dokumentasi Foto Bung Hatta Saat Berada di Boven Digul

Dokumentasi Foto Bung Hatta Saat Berada di Boven Digul

Akhirnya Bung Hatta disarankan untuk meminta tolong orang Kayakaya. Mereka adalah orang pedalaman Boven Digul yang tinggal di dalam hutan. Sebagian dari mereka bekerja untuk orang-orang buangan. Ongkos yang diberikan untuk tiap peti yaitu satu uang kelip senilai 5 sen. Bentuk uangnya bundar dan berlubang di bagian tengahnya.

Suatu hari di bulan November 1935 atau selang 10 bulan kemudian, kabar baik menghampiri Bung Hatta. Ada sebuah telegram dari Ambon yang berisi putusan pemerintah kolonial Hindia Belanda bahwa Bung Hatta akan dipindahkan ke Banda Neira di Kepulauan Maluku.

Kapten Wiarda memberitahukan Bung Hatta bahwa kira-kira empat hari lagi akan datang kapal dan keesokan harinya akan berangkat dari Boven Digul. Hatta boleh menumpang kapal tersebut. “Itu lebih baik untuk Tuan,”  kata Kapten Wiarda

Namun, Hatta ingin mengundur jadwal keberangkatan ke Banda Neira. Alasannya? Tentu saja buku-buku itu! Bung Hatta ingin terlebih dulu meminta kembali buku-buku yang dipinjamkan ke sesama Digulis–orang-orang yang dibuang ke Boven Digul–untuk kemudian mengepaknya ke dalam peti besi.

Selama di tempat pembuangan, Hatta memang acap meminjamkan buku-buku yang sekiranya mudah dibaca kepada kawan-kawannya. Tentunya dengan jangka waktu tertentu. Ia juga memberikan pelajaran tentang ekonomi dan sekali-kali tentang filsafat tiap dua kali seminggu.

Kembali lagi ke persoalan buku. Hatta rela mengubah jadwal keberangkatan ke Banda Neira demi mengurus buku-bukunya. Ia kembali meminta bantuan kepada orang Kayakaya. Kata Hatta, “Mereka sudah mengalami kemajuan dalam berpikir.” Hatta meminta 20 orang Kayakaya untuk membawa barang bawaannya ke kapal. Ongkosnya bukan lagi satu kelip, melainkan satu ketip yang bernilai 10 sen. Hatta dengan senang hati membayarnya.

Hatta meninggalkan Boven Digul menuju Banda Neira pada akhir Desember 1935 atau awal Januari 1936. Ada jeda lebih dari sebulan untuk meninggalkan tempat pembuangan yang dihuni pembunuh senyap dalam wujud nyamuk Anopheles betina tersebut gara-gara buku!

Etika Bung Hatta Saat Membaca Buku

Ingatan tentang sosok ayah dan buku-bukunya masih melekat kuat di dalam kepala Meutia Farida Hatta, anak sulung pasangan Mohammad Hatta dan Rahmi Hatta. Dikutip dari buku Bung Hatta di Mata Tiga Putrinya, cetakan kedua, April 2016, Meutia bercerita bahwa ayahnya mengoleksi buku sejak usia 16 tahun ketika mulai belajar di Prins Hendrikschool di Batavia.

Koleksi buku yang tersimpan di perpustakaan rumah Bung Hatta di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat mencapai 8.000 judul. Ini belum termasuk koleksi yang ada di rumah Megamendung, Bogor.

Usai meletakkan jabatan sebagai Wakil Presiden RI pada Desember 1956, Bung Hatta makin telaten memperlakukan buku-buku koleksinya. Guna mempermudah pendataan koleksi buku di perpustakaan rumahnya, Bung Hatta dibantu Gustav Apituley, seorang ahli perpustakaan. Gustav menata buku-buku sesuai subjeknya.

“Tiada hari tanpa buku, dan juga berarti tiada hari libur tanpa baca buku,” tulis Meutia mengenang kebiasaan ayahnya tersebut. Lalu, apa kabar kamu, tuan dan nona, yang memiliki niat untuk gaspol membaca buku, tapi berujung rebahan sambil scroll HP, hah?!

Di hadapan Bung Hatta, kamu tidak boleh sembarangan memperlakukan buku seperti membacanya dengan cara melipat, yakni menyatukan antara sampul depan dan sampul belakang. Meutia menulis, “Di rumah kami, semua itu menjadi pantangan sehingga buku-buku saya sampai sekarang masih kelihatan seperti baru. Ini merupakan pendidikan Ayah tentang cara memperlakukan buku yang telah memberikan kita tambahan pengetahuan. Karena diajarkan dari kecil, itu akhirnya menjadi kebiasaan yang terasa risih bila ditinggalkan: duduk manis, tangan dilipat, dan satu aturan lagi, buku tidak boleh dicoret atau diberi tanda dengan cara dilipat ujungnya.”

Teladan dari Bung Hatta

Bung Hatta memang teladan dalam berbagai aspek kehidupan. Etika membaca buku yang digambarkan di atas bisa saja dianggap sebagai hal remeh-temeh yang terlalu berlebihan–untuk tidak mengatakannya lebay.

Perilaku tersebut sebetulnya mencerminkan kesederhanaan, tapi memiliki makna yang sangat dalam tentang kepekaan, kepedulian, kecintaan, dan bagaimana menghargai ilmu pengetahuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *