Jam di layar ponsel menunjukkan pukul 08.30 saat saya berada di lokasi budi daya maggot Kelompok Tani (Poktan) Swara Hijau Farm di Kampung Sumur, Klender, Jakarta Timur, Ahad (27/9/2026). Hasanudin (17) terlihat sedang menimbang maggot yang ditempatkan dalam sebuah bak plastik berukuran 30 x 40 cm. “Kurang dua kilo lagi,” teriak Hasan kepada Supriatun (36) yang berjarak sekitar tiga meter di hadapannya.
Tangan Supriatun segera mengayak maggot untuk memisahkannya dari kasgot, serupa pasir halus yang dihasilkan dari proses penguraian pakan maggot. Perempuan asal Indramayu, Jawa Barat, itu lalu menambahkan maggot ke bak plastik sesuai permintaan Hasan.
Pagi itu, Poktan Swara Hijau Farm sedang memanen maggot. Beberapa hari sebelumnya, dua orang supplier sudah memesan 50 kg maggot. Supriatun ditemani Halimah dan Casyati saat bertugas mengayak maggot. Sementara itu, temannya yang lain, Komariah (65), bertugas menyortir prepupa maggot.

Pekerja Poktan Swara Hijau Farm sedang memanen maggot.
Maggot adalah larva atau belatung dari jenis black soldier fly (BSF) atau lalat tentara hitam. Maggot memiliki sejumlah manfaat, di antaranya sebagai pengurai sampah organik, pakan ayam atau ikan bernutrisi tinggi, dan bahan baku pupuk kompos dalam rupa kasgot.
Memberdayakan Kelompok Marjinal
Poktan Swara Hijau Farm merupakan unit usaha sekaligus program pemberdayaan sosial ekonomi masyarakat di bawah naungan Yayasan Swara Peduli Indonesia Jakarta. Dalam menjalankan kegiatan usaha, Poktan Swara Hijau Farm melibatkan kelompok marjinal dari warga sekitar seperti pemulung dan pengamen. Saat ini Poktan Swara Hijau Farm memiliki 35 anggota yang berasal dari kelompok marjinal.
“Yang menjadi dasar Poktan Swara Hijau Farm merekrut kelompok marjinal adalah sesuai visinya, yaitu menjadi wadah usaha yang berprinsip pada sosial agropreneur yang mandiri,” kata Endang Mintarja, Ketua Poktan Swara Hijau Farm, saat dihubungi melalui pesan WhatsApp, Senin (28/9/2026).

Komariah sedang menyortir repupa maggot.
Komariah adalah satu di antara 35 anggota itu. Komariah sehari-harinya bekerja sebagai pemulung. Saban hari, perempuan asal Cimahi, Jawa Barat, ini memulai pekerjaannya pada pukul 4 atau 5. Ia kemudian berkeliling mencari botol minuman bekas di sekitar Duren Sawit dan Buaran. Kemudian, menjelang pukul 8, ia pulang ke rumah, lalu mulai beraktivitas di Poktan Swara Hijau Farm pada pukul 8 hingga pukul 10. Malam harinya, ia melanjutkan kembali pekerjaan sebagai pemulung dari pukul 18 hingga pukul 20.
“Alhamdulillah senang bisa kerja di sini. Banyak teman,” kata Komariah.
Penghasilan Komariah dari memulung tidaklah menentu. Apalagi saat ini kondisi fisiknya sudah digerogoti usia. Ia tidak seprima puluhan tahun lalu. Hal ini membuat daya jelajah Komariah semakin sempit. Ia hanya sanggup memulung selama enam jam. Akibatnya, barang bekas yang didapat tidak sebanyak dulu.
Kini, dalam dua tahun terakhir, Komariah setidaknya bisa sedikit bernapas lebih lega. Ia mempunyai penghasilan tambahan tanpa perlu berpanas-panasan atau jalan kaki berkilo-kilometer mencari tong sampah.
“Uangnya bisa buat bantu bayar kontrakan Rp400.000 per bulan,” tutur Komariah sambil tersenyum.

Hasan menimbang maggot yang baru saja dipanen Poktan Swara Hijau Farm.
Sementara bagi Hasanudin, bekerja di Poktan Swara Hijau Farm lebih menenangkan hati. Enam bulan lalu, Hasan, begitu ia biasa disapa, masih mengamen di jalanan, khususnya di wilayah Buaran dan area Banjir Kanal Timur (BKT). Sekarang, ia menghabiskan waktu sepenuhnya bersama Poktan Swara Hijau Farm.
“Lebih enak di sini. Ngamen di jalan lebih banyak masalah,” ungkap Hasan.
Hasan bekerja di Poktan Swara Hijau Farm menggantikan abangnya. Tugasnya mulai dari mengambil sampah organik untuk kemudian diolah menjadi pakan maggot, memberi makan maggot, hingga membantu proses panen maggot. Selain itu, ia juga turut membantu menyortir sampah untuk program Bank Sampah. Hasan kini mempunyai penghasilan tetap sebesar Rp500.000 tiap bulannya.
Sekilas, tugas yang diemban Supriatun, Komariah, dan Hasan begitu jomplang. Hasan mengemban tugas lebih banyak. Sementara Supriatun dan Komariah sebaliknya. Alih-alih dilihat sebagai persoalan, perbedaan peran ketiganya justru menunjukkan potret kerja sama dalam proses produksi. Di sini dapat dilihat bahwa “mesin produksi” Poktan Swara Hijau Farm digerakkan oleh sinergi lintas generasi: Baby Boomer, Milenial, dan Gen Z.
Dari Budi Daya Melon Hingga Budi Daya Maggot
Poktan Swara Hijau Farm dirintis sejak tahun 2018. Misinya yaitu menjadi pusat edukasi dan pemberdayaan di bidang pertanian bagi masyarakat miskin kota. Caranya dengan memaksimalkan lahan sempit untuk kegiatan urban farming.

Markas Poktan Swara Hijau Farm di Kampung Sumur, Klender, Jakarta Timur.
Aksi sosial Poktan Swara Hijau Farm dimulai dari budi daya melon dan pembagian instalasi budi daya ikan dalam ember kepada sejumlah warga Kampung Sumur. Kemudian, kegiatan semakin berkembang dengan menggunakan dua green house yang luas lahannya masing-masing 50 m² dan 132 m².
Kini, kebun melon yang berada di atas lahan seluas 50 m² bisa ditanami hingga 160 batang pohon. Buah melon biasanya dipanen tiap tiga bulan. Jika harga sedang bagus, harga melon mencapai Rp40.000 per kg.

Melon siap panen yang ditanam di kebun hidroponik Poktan Swara Hijau Farm.
(Sumber: Instagram @swara_hijau_farm)
Sementara itu, dari budi daya maggot, Poktan Swara Hijau Farm bisa menghasilkan minimal 50 kg maggot dalam sekali panen. Masa panen berlangsung tiap dua pekan. Maggot lalu dijual dengan harga Rp5.000 per kg.
Budi daya maggot juga berperan penting bagi kelestarian lingkungan, sebab pakan utama maggot berasal dari sampah organik seperti kulit sayuran, sisa makanan, hingga sisa nasi.
Di bidang budi daya tanaman hidroponik, Poktan Swara Hijau Farm mengolah tanaman pakcoy dan siomak. Komoditas ini mampu menghasilkan 20-25 kg tiap kali panen. Tanaman ini bisa dipanen setelah sebulan masa tanam. Saat masa panen tiba, siomak dan pakcoy bisa dipetik 2-3 kali. Harga jual siomak dan pakcoy Rp18.000 per kg. Untuk memasarkan hasil panen, Poktan Swara Hijau Farm menjalin kerja sama dengan supplier untuk kemudian dipasok ke supermarket di Jakarta.

Kandang ayam petelur Poktan Swara Hijau Farm.
Produk bisnis Poktan Swara Hijau Farm lainnya adalah peternakan ayam petelur. Dalam sehari, peternakan ayam petelur skala kecil ini bisa menghasilkan 15 butir telur. Sebagian besar telur dijual dengan harga Rp2.500 per butir. Sebagian kecil ditetaskan untuk keberlanjutan peternakan ayam petelur.
Diversifikasi Produk
Poktan Swara Hijau Farm juga menggarap budi daya ikan nila. Total terdapat delapan kolam portabel berbentuk bundar dengan diameter sekitar 120 cm.
Ikan nila dijual dengan harga Rp40.000 per kg. Menariknya, Poktan Swara Hijau Farm juga menyediakan ikan nila yang sudah dibersihkan. Harganya tentu lebih tinggi, yaitu Rp45.000 per kg. Di sini juga tersedia produk diversifikasi olahan ikan nila yang sudah dimarinasi dan siap goreng. Harganya Rp50.000 per kg.

Hasan sedang memberi makan ikan nila.
Selain bekerja sama dengan supplier, Poktan Swara Hijau Farm juga bersinergi dengan pelaku pertanian di Jakarta dalam memasarkan hasil olahan ikan frozen. Kemudian, mereka juga acap mengikuti bazar yang diselenggarakan instansi pemerintah di tingkat kelurahan, kecamatan, kota administrasi, hingga tingkat provinsi.
Poktan Swara Hijau Farm mampu meraup omzet sebesar 8-10 juta per bulannya. “Rata-rata (anggota memperoleh penghasilan) Rp300.000 per bulan. Ada yang Rp500.000 per bulan,” tutur Endang.
Bagaimana UMKM Bisa Bertahan Lintas Generasi?
Sepak terjang Poktan Swara Hijau Farm menunjukkan bahwa peluang usaha pertanian kota berbasis urban farming cukup menjanjikan. Kendati demikian, kuantitas produksi bukanlah segala-galanya bagi UMKM seperti Poktan Swara Hijau Farm. Ada hal penting lainnya: bagaimana meningkatkan pengetahuan dan penguatan kapasitas SDM-nya serta bagaimana memperluas jejaring agar UMKM bisa terus bertahan lintas generasi. Di sinilah pentingnya sinergi dengan pihak eksternal, tak terkecuali sektor swasta.

Struktur pengurus organisasi Yayasan Swara Peduli Indonesia Jakarta.
Poktan Swara Hijau Farm telah menjalin sinergi dengan sejumlah pihak swasta. Endang menjelaskan pada 2023, misalnya, Poktan Swara Hijau Farm mendapat pendampingan dari Yayasan Astra – Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA). Yayasan Astra – YDBA berkolaborasi dengan PT United Tractors Tbk guna melakukan asesmen. Tujuannya untuk memetakan penguatan kapasitas yang dibutuhkan Poktan Swara Hijau Farm sebagai UMKM berbasis urban farming.
Kemudian, Endang dan pengurus lainnya mendapat kesempatan mengikuti sejumlah pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola usaha. Beberapa di antaranya yaitu pelatihan scale-up hidroponik, pelatihan pembuatan pupuk kompos, pelatihan 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin), pelatihan keuangan, dan pelatihan membuat produk turunan.

Program pembinaan UMKM Yayasan Astra – YDBA
Kini, Endang mengaku, manajemen keuangan Poktan Swara Hijau Farm menjadi lebih rapi. “Sebelum mengikuti pelatihan, pembukuan dicatat secara manual. Tetapi setelah mengikuti pelatihan dapat membuat catatan keuangan menggunakan (Microsoft) Excel,” terang Endang.
Perubahan tersebut barangkali terasa sepele. Namun, bagi UMKM, pembukuan yang tertata secara rapi merupakan komponen penting untuk mengetahui kondisi keuangan secara akurat. Hal ini bertujuan agar keputusan bisnis yang diambil bertumpu pada pertimbangan data keuangan yang presisi.
“Beri Kail Bukan Ikan”
Dalam konsep ekosistem pengembangan UMKM berkelanjutan, Yayasan Astra – YDBA menekankan sebuah filosofi “Beri Kail Bukan Ikan”. Bentuk konkretnya berupa program pelatihan, pendampingan, memfasilitasi pemasaran, hingga memfasilitasi pembiayaan UMKM. Per 2025, jumlah UMKM binaan Yayasan Astra – YDBA sebanyak 1.975 dan tersebar di puluhan provinsi di Indonesia. Angka tersebut menunjukkan ikhtiar yang dilakukan Yayasan Astra – YDBA untuk mendorong akselerasi kemandirian UMKM.
Dari jumlah tersebut, sektor kerajinan dan kuliner menempati urutan tertinggi dengan 949 UMKM (48%). Sementara sektor pertanian menempati urutan kedua dengan 598 UMKM (30%), lalu diikuti sektor manufaktur sebanyak 253 UMKM (13%), dan terakhir sektor bengkel sebanyak 175 UMKM (9%). Secara keseluruhan, terdapat 15.753 tenaga kerja yang terlibat dalam kegiatan UMKM tersebut.

Bagan ekosistem pengembangan UMKM Yayasan Astra – YDBA.
Pada akhirnya, pemberdayaan UMKM tidak hanya berbicara soal upaya menciptakan kemandirian ekonomi, tetapi juga menjadi wadah bagi lahirnya local champion baru atau penggerak komunitas.
Wasriah, pemulung sekaligus anggota Poktan Swara Hijau Farm, misalnya. Ia kini rutin memberikan pelatihan tentang budi daya tanaman hidroponik. Wasriah menjadi mentor dalam program pembinaan yang diselenggarakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Sentra Mulya Jaya di Pasar Rebo, Jakarta Timur. Ia juga pernah mengisi kegiatan pemberdayaan anak-anak prasejahtera dan jalanan yang digelar organisasi pelayanan sosial di Ujung Aspal, Kota Bekasi. Selain itu, Wasriah juga pernah memberikan pelatihan bagi penghuni Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas II A Pondok Bambu, Jakarta Timur.
Merajut Masa Depan
Kehadiran Poktan Swara Hijau Farm memang telah berkontribusi terhadap serapan tenaga kerja, khususnya bagi kelompok marjinal. Gerak mereka terus berlanjut. Salah satu misi Poktan Swara Hijau Farm lainnya yaitu mencetak generasi yang memiliki kepedulian terhadap sektor pertanian. Mereka juga menanamkan mindset kepada anggota, bahwa setiap usaha memerlukan proses; tidak ada yang instan.

Hasan sedang memberi makan maggot.
Bagi Hasan, Poktan Swara Hijau Farm bukanlah tempat kerja semata, namun sekaligus menjadi ruang belajar. Di sini Hasan mempelajari ilmu budi daya maggot. Di tempat ini pula ia merajut mimpi menjadi seorang pengusaha maggot.
“Saya pengen fokusnya ke budi daya telur maggot, karena gak ribet,” tutur Hasan dengan penuh keyakinan.
Sambil menyelam minum air. Pepatah tersebut sepertinya layak disematkan kepada Hasan. Ia datang ke Poktan Swara Hijau Farm dengan latar belakang pengamen. Ia rela bekerja di bidang yang berurusan dengan sampah. Sambil bekerja, ia juga sedang berproses untuk meraih cita-citanya.
