Britania Sari: Pahlawan Pangan dari Parung Panjang

Britania Sari saat proses wawancara

Saya mengenal Britania Sari ketika meliput kasus gizi buruk di Desa Parung Panjang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, sekitar Februari 2025 lalu. Nama Sari, begitu ia disapa, harum di sekitar lingkungan tempat tinggalnya. Sari menginisiasi gerakan bantuan pangan sehat bagi tetangganya yang berasal dari keluarga prasejahtera. Isi bantuan pangan berupa beras, sayuran, telur, ikan, tahu, tempe, buah-buahan seperti rambutan dan jambu biji. Nilai per paket bantuan setara Rp 50 ribu rupiah.

Biasanya, bantuan pangan dibagikan tiap Kamis di halaman rumahnya. Tercatat ada 16 orang penerima manfaat. Mereka ialah ibu hamil dan ibu lansia. Bantuan pangan ini juga sekaligus membantu pedagang kecil lokal yang menjual beragam jenis pangan.

Sari juga mengelola empat kebun komunal bersama warga. Kebun tersebut ditanami sejumlah tanaman seperti kangkung, pakcoy, dan bayam. Hasil panen kebun komunal tersebut juga kerap menyuplai kebutuhan program bantuan pangan sehat

Di belakang rumah Sari, misalnya, terdapat lahan seluas 400 meter persegi. Selain kebun, ada pula kolam ikan, kandang ayam, dan kandang burung puyuh. Empat bulan sekali, ayam dipotong, lalu disertakan dalam bantuan pangan sehat.

Berawal dari Ketupat dan Opor Ayam

Gerakan sosial ini dimulai pada Juni 2023 silam. Pemantiknya adalah saat Sari membagikan ketupat dan opor ayam ke tetangganya jelang hari lebaran. Ia merasa “tertampar” saat mengetahui seorang tetangganya cuma memasak sayur kangkung.

”Jadi saya betul-betul makjleb banget, ya. Sayur kangkung itu kan padahal makanan kita sehari-hari, ya. Tapi untuk orang lain itu adalah makanan istimewa. Nah, sejak saat itu akhirnya kami memutuskan, kayaknya kita perlu buat gerakan di mana kita memanfaatkan lahan-lahan kosong untuk bisa nanam. Lalu juga untuk bisa berternak,” kata Sari.

Nuraninya makin terusik saat di lingkungannya masih ditemui anak balita yang mengalami gizi buruk. Bahkan pada Januari 2025 lalu, Ahmad Maulana, anak dengan gizi buruk meninggal dunia.

”Pas awal sekali fokus kami adalah ingin memberikan support nutrisi kepada ibu hamil. Mulai dari dia hamil hingga anaknya nanti usia 2 tahun. Agar kesehatan ibu terjaga dan juga kesehatan bayi ini terjaga untuk mencegah stunting,” kata Sari.

Program bantuan pangan sehat ala Sari di Parung Panjang juga menyasar kalangan ibu-ibu ketika mereka melakukan penimbangan di Posyandu Kasih Ananda. Kegiatan penimbangan biasanya berlangsung tiap hari Kamis pada pekan kedua tiap bulannya. Melalui anggaran sebesar Rp 12.000, tiap anak akan mendapatkan paket lengkap berisi sayuran, protein hewani, protein nabati, dan buah. Isi paket bantuan berupa sayur bayam atau kangkung, 8 butir telur puyuh, 1 papan tempe, jamur tiram, dan pisang.

Kebun Dapur Keluarga Prasejahtera

Sari juga memiliki proyek sosial lainnya, yaitu Kebun Dapur Keluarga Prasejahtera. Melalui proyek ini, Sari membangun semacam kebun berukuran mungil di pekarangan rumah warga. Kebun ini diharapkan bisa memberikan kesempatan bagi warga prasejahtera untuk bercocok tanam, sehingga lahan tidur disulap jadi produktif. Pekarangan akan ditanami sayuran maupun tanaman obat keluarga atau Toga. Untuk jenis tanaman sayuran ada bayam Brazil, kangkung, bayam, sawi hijau, pakcoy, terong, cabai rawit. Sementara Toga seperti kunyit, jahe, dan sambiloto.

Hamparan kebun yang berada di belakang rumah Britania Sari.

Proyek sosial yang dilakukan Sari awalnya menggunakan modal pribadi. Tapi belakangan, ada sejumlah donatur yang tergerak hatinya, lalu turut menyokong gerakan bantuan pangan sehat maupun pembuatan Kebun Dapur Keluarga Prasejahtera di Parung Panjang.

Britania Sari dan Gerakan Warga Bantu Warga

Jika melihat akun Instagramnya @britaniasari, sudah ada 3 proyek kebun sosial yang berlokasi di Parung Panjang. “Dengan berkebun di pekarangan rumah, maka artinya kita mengubah keadaan konsumsi menjadi produksi, makan dari hasil yang ditanam untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Sayuran yang ditanam sendiri jelas lebih sehat, karena kita akan mendapatkan nilai gizi yang berkualitas dari kesegaran hasil panen,” tulis Sari.

Hewan peliharaan yang berada di kandang di belakang rumah Britania Sari.

“Ibadah sosial” yang dilakukan Britania Sari sudah selayaknya disebarluaskan. Ia ibarat oase di tengah gersangnya tingkah-polah pejabat yang kerap melahirkan kebijakan, tapi tidak berakar pada kepentingan atau kebutuhan mendasar rakyatnya. Untuk urusan pangan sehari-hari, misalnya, masih dengan mudah ditemui rumah tangga yang begitu sulit mengaksesnya.

Saya kira, menyematkan “pahlawan pangan” bagi Sari tidaklah berlebihan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *