Ahmad Tohari: Merawat Ingatan Kekerasan 1965 Melalui Karya Sastra

Jatah keberuntungan saya bisa dibilang berkurang satu pada Ahad, 8 Februari 2026. Di siang yang cerah itu, saya dan keluarga beranjangsana ke rumah Ahmad Tohari di Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah.

Tujuan utama pelesir ke Purwokerto memang ingin berkunjung ke Perpustakaan Ahmad Tohari. Saya sudah siapkan novel Ronggeng Dukuh Paruk, Di Kaki Bukit Cibalak, Bekisar Merah, kumpulan cerpen Senyum Karyamin dan kumpulan cerpen Mata Yang Enak Dipandang. Siapa tahu bisa berjumpa dengan Ahmad Tohari, lalu minta tanda tangannya.

Hampir Gagal Bertemu Ahmad Tohari

Kami menempuh perjalanan dari Purwokerto menggunakan sepeda motor. Sebelum berangkat menuju Perpustakaan Ahmad Tohari, saya mengirim pesan WA ke admin akun Instagram perpus.ahmadtohari dan memperkenalkan diri dari Bekasi.

“Apakah Perpustakaan Ahmad Tohari buka hari ini?” kata saya.

“Buka,” jawab admin.

Kami tiba di Perpustakaan Ahmad Tohari sekitar pukul 10. Saat itu pengelola perpustakaan sedang menggelar acara bedah buku.

“Itu rumah Pak AT,” kata seorang staf pengelola perpustakaan sambil menunjuk rumah sederhana di samping perpustakaan. AT adalah inisial Ahmad Tohari. Saya baru tahu ternyata rumah Ahmad Tohari berdekatan dengan perpustakaannya.  

Lalu dia bertanya, “Masnya sudah janjian buat ketemu Pak AT?”

“Belum, Mas,” jawab saya.

Perpustakaan dan Rumah Sastra Ahmad Tohari di Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Banyumas, sedang menggelar acara bedah buku.

Kemudian anak muda berkacamata itu menjelaskan bahwa kalau ingin bertemu Pak AT harus bikin janji terlebih dahulu. Ia menyarankan untuk menunggu waktu salat Zuhur saja.

“Biasanya Pak AT suka salat di musala ini,” terangnya. Musala mungil yang dimaksud berada di belakang perpustakaan.

Saya bilang bahwa pukul 10.30 harus segera kembali ke Purwokerto, karena pukul 12 mesti check out dari hotel. “Mungkin belum rezeki bertemu Ahmad Tohari,” batin saya.

Lalu kami berdiskusi tentang karya Ahmad Tohari. Saya memperoleh sejumlah informasi menarik, salah satunya bahwa tokoh Bakar yang hadir dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk bukan tokoh fiktif semata; ia pernah hidup di bumi Banyumas.

Singkat cerita, sekitar pukul 10.30 saya pamit undur diri. “Sampai jumpa lagi, Mas.”

Tiba-tiba seorang lelaki bersarung datang menghampiri saya sambil tergopoh-gopoh. “Masnya yang mau ketemu Pak Ahmad Tohari, ya?”

Pikiran saya langsung merespons dengan kilat, “Ah, bukan kali. Mungkin salah orang. Tadi pagi kan cuma nanya perpustakaan buka atau tidak, bukan untuk bertamu ke rumah Ahmad Tohari.”

“Belum janjian, sih, Mas,” jawab saya.

“Lho, bukannya tadi pagi WA saya? Masnya dari Bekasi, kan?” cecarnya.

“Oh iya, saya yang tadi pagi WA,” balas saya.

“Tunggu di depan rumah, ya. Nanti bisa ketemu Pak Ahmad Tohari,” kata lelaki bersarung itu.

Saya merasa seperti mendapat durian runtuh. “Rezeki memang tidak akan salah alamat,” kata saya dalam hati. Saya tetap gaskeun bertemu Ahmad Tohari meski sebetulnya mepet dengan perjalanan pulang ke hotel.

Diskusi Hangat dengan Ahmad Tohari

Ahmad Tohari menyambut dengan hangat di beranda rumahnya. Tak berselang lama, istri Ahmad Tohari muncul dari dalam rumah sambil membawa tiga gelas teh manis panas dan kudapan, lalu ikut meriung.

“Silakan dimakan kuenya,” kata Ahmad Tohari dengan ramah.

Ahmad Tohari duduk di sebelah kanan saya mengenakan peci warna hitam. Kendati sudah berumur 77 tahun, wajahnya tampak segar dan memancarkan keteduhan.

Ahmad Tohari memiliki perawakan kecil. Ia tak pelit senyum. Ketika ngobrol, tempo bicaranya pelan. Ia menyimak dengan saksama ketika saya bertanya atau menanggapi penjelasannya.

Dua bulan sebelumnya, saya mengikuti kelas menulis cerpen Ahmad Tohari. Tentu saja bukan untuk mempelajari teknik penulisan, tapi cuma ingin sekadar berinteraksi secara daring. Kali ini saya bersitatap langsung dengan sastrawan yang lahir dari keluarga besar Nahdlatul Ulama itu.

Cerita di Balik Novel Kubah

Saya penasaran dengan satu hal: novel Kubah. Terbit pada 1980, novel Kubah mengisahkan proses rekonsiliasi eks tapol ’65 di tengah-tengah masyarakat. Tapi, realitas yang terjadi justru sebaliknya. Berurusan dengan anasir-anasir PKI sama saja dengan mengundang bahaya. Apalagi saat itu cengkeraman kekuasaan rezim Suharto begitu kuat.

Ahmad Tohari memiliki pengalaman berinteraksi dengan eks tapol Pulau Buru. Si eks tapol ini pernah curhat soal pengucilan yang dilakukan tetangganya. Peristiwa ini mengilhami Ahmad Tohari menulis novel Kubah.

“Apakah ada kekhawatiran ketika menulis novel Kubah?” tanya saya.

“Saya waktu itu berpikir dua kali. Tapi saya tetap harus menuliskannya,” sahut Ahmad Tohari.

Ahmad Tohari dan Tragedi 1965 di Desa Tinggarjaya

Penculikan dan pembunuhan sejumlah perwira tinggi dan perwira menengah Angkatan Darat pecah pada 1 Oktober 1965 di Jakarta. Brigjen Supardjo, Kolonel Abdul Latief, dan Letnan Kolonel Untung merupakan perwira Angkatan Darat yang terlibat langsung dalam Gerakan 30 September atau G30S–kelompok yang melakukan aksi durjana terhadap atasan mereka sendiri dengan dalih melindungi Presiden Sukarno dari ancaman kudeta Dewan Jenderal. Meski demikian, sejarah menulis bahwa PKI berada di balik peristiwa jahanam itu.

Tragedi G30S memicu pembersihan massal terhadap orang-orang PKI, mereka yang dituduh bagian dari PKI, atau orang yang identik dengan golongan “kiri” di sejumlah daerah di Indonesia. Mereka diburu, ditangkap, disiksa, dibunuh, hingga hilang tanpa jejak. Fenomena kekerasan makin menggila ketika Suharto naik ke tampuk kekuasaan.

Novel dan kumpulan cerpen yang telah ditandatangani oleh penulisnya langsung, Ahmad Tohari.

Ahmad Tohari mengalami geger ’65 ini dari dekat. Warga Desa Tinggarjaya yang dicap sebagai anasir PKI diburu dan ditangkap. Bahkan tak jarang dieksekusi secara brutal dan tak manusiawi.

Ia bercerita tentang penangkapan seorang warga karena aktif di organisasi guru yang dianggap berafiliasi dengan PKI. Selama diinterogasi, lelaki malang ini dipindahkan dari satu sel ke sel lainnya. Selama itu pula seorang anak seusia pelajar SMP selalu mengikutinya.

“Kamu ini siapa? Kok masih kecil ada di sini?” hardik tentara.

“Lah, ini kakak saya. Saya mau ikut kakak saya,” timpal si kecil dengan polos. Akhirnya tentara melepas kakak beradik itu.

Kekerasan yang terjadi di Desa Tinggarjaya mengusik nurani Ahmad Tohari. Ia paham bahwa ada semacam narasi keliru soal kekerasan yang terjadi setelah peristiwa G30S. Kegundahan tersebut memantik dirinya menulis Novel Kubah dan novel Ronggeng Dukuh Paruk yang legendaris.

“Novel itu ditulis untuk mengonter narasi soal geger ’65, sebab sejarah versi penguasa penuh dengan distorsi,” terang Ahmad Tohari.

Sampai Jumpa Lagi di Banyumas

Bertemu dengan sastrawan besar Indonesia, lalu mendiskusikan karyanya menjadi pengalaman menyenangkan dalam hidup ini. Ketika mengingat karya sastra Ahmad Tohari, yang ada di pikiran saya cuma satu: kok bisa dia menulis dengan begitu memukau?

Ahmad Tohari sangat ramah. Ia bersedia menjamu pembaca karyanya dan mendiskusikan karya-karyanya.

Jam di layar ponsel semakin mendekati angka 11. Keripik pisang yang tersaji di piring sesekali saya sambar. Air teh di dalam gelas pun perlahan menyusut. Tepat pukul 10.50, kami pamit undur diri berbarengan dengan kedatangan tamu lainnya. Ya, rumah Ahmad Tohari memang terbuka bagi siapa pun, asal harus berkabar terlebih dahulu.

“Kalau nanti ke sini lagi, saya ajak ke tempat lahirnya Ronggeng Dukuh Paruk,” kata Ahmad Tohari menutup obrolan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *