Berbagi Cerita, Merawat Ingatan

Sisi Lain Sejarah di Balik Peristiwa Rengasdengklok

Rumah Djiauw Kie Siong di Rengasdengklok


Peristiwa penculikan Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok menjelang proklamasi menjadi kepingan penting dalam rangkaian sejarah kemerdekaan bangsa ini. Penculikan Sang Proklamator tersebut dikenal juga sebagai Peristiwa Rengasdengklok.

Berdasarkan kesaksian Bung Hatta dalam buku Untuk Negeriku Sebuah Autobiografi, Sukarni—salah seorang tokoh golongan pemuda—menculik The Founding Fathers pada pagi buta 16 Agustus 1945. Dari Jakarta, rombongan bergerak ke arah timur menggunakan oto sedan. Sebelum memasuki Karawang, oto sedan berhenti, lalu para penumpang dipindahkan ke sebuah mobil pick up. Kemudian, mobil tersebut meneruskan perjalanan menuju Rengasdengklok.

Manuver yang dilakukan golongan pemuda membuat Bung Hatta kecewa. “Di mataku sudah tergambar kehancuran cita-cita kami akan menegakkan Indonesia merdeka. Dan, apakah jadinya dengan Panitia Persiapan Kemerdekaan yang sudah diundang memulai rapatnya hari itu pukul 10.00? Apakah mereka akan berapat dengan tiada pimpinan? Suatu hal mustahil dalam masa genting itu,” tulis Bung Hatta.

Buku Untuk Negeriku Sebuah Autobiografi karya Bung Hatta menceritakan kisah penculikan Sang Proklamator ke Rengasdengklok.

Meski demikian, di balik ketegangan antara golongan pemuda dengan golongan tua, terselip kisah menarik, lucu, dan manusiawi pada momen genting tersebut. Sedikitnya, ada tiga kisah menarik di balik Peristiwa Rengasdengklok yang perlu kamu ketahui.

Bung Hatta Dikencingi Guntur Sukarnoputra

Tahukah kamu, dalam rombongan golongan pemuda yang membawa Bung Karno dan Bung Hatta, turut serta Ibu Fatmawati dan Guntur Sukarnoputra? Selama berada di Rengasdengklok, kegiatan Bung Karno dan Bung Hatta bisa dibilang gabut. Maka, untuk mengisi waktu luang, Bung Hatta misalnya, mengasuh Guntur yang masih berusia sembilan bulan.

Ketika memangku Guntur, anak sulung pasangan Bung Karno dan Ibu Fatmawati tersebut malah mengencingi celana Bung Hatta. Sialnya, Bung Hatta tidak membawa pakaian ganti sebab saat Sukarni cs datang menjemput, Bung Hatta berpikir hanya akan pergi dalam waktu sebentar saja.

“… maka celana yang basah sebagian itu terpaksa aku pakai terus sampai kering dengan sendirinya. Hanya saja dengan celana ini aku tidak dapat mengerjakan sembahyang,” kenang Bung Hatta.

Rumah Djiauw Kie Siong Sudah Berpindah Lokasi

Setibanya di Rengasdengklok, Bung Karno dan rombongan dibawa ke asrama Pembela Tanah Air atau Peta. Lalu, mereka dipindahkan ke rumah camat Rengasdengklok. Sekitar satu jam kemudian, golongan pemuda kembali memindahkannya ke rumah seorang warga keturunan Tionghoa bernama Djiauw Kie Siong hingga malam hari.

Saya berbincang dengan Ibu Leni, pengelola Rumah Djiauw Kie Siong atau Rumah Sejarah Rengasdengklok. Suami Ibu Leni, Yanto Juari, merupakan cucu Djiauw Kie Siong.

Rumah Djiauw Kie Siong dikenal pula sebagai Rumah Sejarah Rengasdengklok. Rumah tersebut masih berdiri dengan kokoh hingga kini.

Rumah Djiauw Kie Siong awalnya terletak di tepi Sungai Citarum. Guna mencegah kerusakan akibat terjangan banjir, pada 1957 rumah Djiauw Kie Siong dipindahkan dengan cara digotong sejauh 150 meter dari tempat aslinya ke Kampung Bojong, Rengasdengklok Utara, Karawang.

Api Jerami yang Dikira Percikan Revolusi

Penculikan Sang Proklamator dilatari sebuah alasan bahwa revolusi akan berkobar di Jakarta. Sekitar 15.000 warga disebut-sebut akan menyerbu sisa kekuatan militer Jepang dan kalangan warga Tionghoa. Namun, hingga pukul 15, Sukarni tidak mengetahui situasi yang terjadi di Jakarta.

“Kalau begitu, revolusimu telah gagal,” kata Bung Hatta kepada Sukarni.

Kemudian, Ahmad Subardjo menyusul ke Rengasdengklok, lalu membawa pulang Bung Karno dan Bung Hatta ke Jakarta pada malam hari. Sukarni turut ikut serta dalam rombongan mobil Ahmad Subardjo.

Di perjalanan, langit di sebelah barat terlihat berwarna merah pertanda ada yang terbakar. Sukarni lalu meminta sopir untuk kembali ke Rengasdengklok lantaran ia menduga revolusi sedang berlangsung. Namun, Sukarno bergeming dan meminta sopir untuk mengecek sumber api tersebut. Saat kembali ke dalam mobil, sopir menjelaskan bahwa kobaran api berasal dari jerami yang dibakar petani di persawahan.

Dua Generasi, Satu Cita-Cita

Kamar Bung Hatta saat singgah di Rengasdengklok.

Di balik peristiwa Rengasdengklok, ada sebuah pesan yang dapat dibaca bahwa golongan pemuda dan golongan tua sebetulnya punya cita-cita yang sama: mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Golongan pemuda menggunakan energi yang meledak-ledak—untuk tak menyebutnya ceroboh—dalam mewujudkan cita-cita mulia tersebut. Sementara golongan tua penuh dengan kalkulasi.

Dan, seperti halnya pepatah, Rengasdengklok ibarat belanga yang mempertemukan asam dari gunung dan garam dari lautan.

Exit mobile version