Berbagi Cerita, Merawat Ingatan

Mengenang Masa “Putih Abu”: Kegoblokan, Ketololan, dan Asmara

Oktober 2025 lalu, jagat media sosial dibuat heboh oleh rangkaian peristiwa yang terjadi di SMAN 1 Cimarga, Lebak, Banten. Pemantiknya yaitu aksi boikot ratusan siswa SMAN 1 Cimarga menyikapi aksi penamparan yang dilakukan kepala sekolah kepada siswa yang merokok di dalam lingkungan sekolah.

Orang tua siswa yang tak terima anaknya ditempeleng, lalu melaporkan kepala sekolah ke kepolisian. Kasus makin meruncing ketika Gubernur Banten menonaktifkan kepala sekolah.

Sikap publik pun terbelah antara pro dan kontra. Sebagian menilai, reaksi kepala sekolah terlalu berlebihan. Dalam menertibkan disiplin di lingkungan sekolah, seyogianya tak usah menggunakan pendekatan fisik yang menjurus pada kekerasan.

Sementara mereka yang pro menilai, sudah sepatutnya siswa tersebut ditempeleng. Dasar pertimbangannya beragam. Sejumlah warganet membandingkan kondisi kiwari dengan situasi lingkungan sekolah pada masa lalu. Dulu, murid yang digampar guru ketika melakukan kesalahan dianggap sesuatu hal wajar. Bahkan, ketika mengadu ke orang tua, bakal berpotensi mendapat hukuman tambahan.

Obrolan Berulang Saat Reuni

Peristiwa di Cimarga melemparkan ingatan saya kembali pada masa “putih abu”. Masa sekolah menengah atas sebetulnya penuh dengan hal-hal menyenangkan–atau, kalau mau jujur, kenakalan remaja. Selama tiga tahun (2008-2011) saya menghabiskan masa belajar di sebuah SMK negeri di Majalengka.

Suasana kelas saat pelajaran Bahasa Inggris.

Jumlah murid di kelas sebanyak 41 orang: dua perempuan dan sisanya laki-laki. Kami berasal dari jurusan Teknik Mesin Perkakas.

Cerita kenangan masa “putih abu” selalu hadir saat reuni libur lebaran—meskipun jumlah kawan yang hadir makin menyusut tiap tahunnya. Yang membuat saya heran adalah meskipun cerita tersebut sama dan berulang, selalu diiringi gelak tawa. Mengocok perut tentunya. Cerita yang terjadi lima belas hingga delapan belas tahun lalu seperti baru saja terjadi kemarin sore.

Permana “Si Bintang Kelas”

Karakter murid di kelas amatlah beragam. Salah satunya adalah seorang murid cerdas spesialis pelajaran eksakta, terutama pelajaran matematika. Panggil saja dia Permana. Dia merupakan “bintang kelas”. Kalau gak salah, nilai matematika di rapor sering mendapatkan nilai minimal 9. Nilai pelajaran lainnya pun tergolong bagus. Namanya begitu harum di kalangan guru. Kami sekelas sangat bangga kepadanya.

Syahdan, ada dua murid lainnya yang ingin mencoba mengimbangi kecerdasan Permana. Saat pelajaran fisika, kedua murid ini sering duduk di barisan paling depan: dekat dengan guru. Apakah tujuan mereka supaya mudah menyerap ilmu? Bukan! Mereka duduk di depan agar tidak ditanya guru. Biasanya guru akan menunjuk murid di deretan bangku paling belakang untuk mengerjakan soal di papan tulis atau sekadar menjawab pertanyaan.

Permana adalah sosok yang baik hati dan rajin. Biasanya ia mengenakan baju seragam agak gombrang. Baju dimasukkan ke dalam celana. Topi berlogo sekolah selalu menutupi kepalanya. Tas warna hitam setia mengait di punggungnya. Dalam beberapa kesempatan, saya “berguru” padanya untuk mendapat pencerahan. Alhamdulillah, saya mulai sedikit paham ketika mendengarkan penjelasan dari Permana. Besoknya? Tentu saja lupa lagi.

Permana juga merupakan “sang messiah” alias juru selamat bagi si malas atau si bodoh ketika menghadapi ulangan atau Ujian Akhir Semester (UAS). Namun ketika pelaksanaan ulangan atau UAS dibagi menjadi dua gelombang, murid dengan urutan presensi 21 hingga 41 tidak akan satu ruangan dengan Permana. Saya termasuk di urutan belakang itu. Ashuuuu.  

Antara Hemat dan Goblok

Di SMK pula saya dapat memahami bagaimana perbedaan antara hemat dan goblok begitu tipis. Saat murid lain mengenakan bed logo sekolah dengan cara dijahit, ada murid yang mengaitkannya dengan sebatang peniti saja. Sebut saja nama kawan ini Si Goblok. Alhasil kalau ada angin menerpa bajunya, dijamin bed akan bergoyang-goyang.

Kaus kaki yang dipakai Si Goblok pun cukup unik. Karena sudah uzur alias terlalu lama digunakan, kaus kakinya menjadi longgar. Akhirnya dia menggunakan karet di bagian betis untuk menjaga kaus kakinya tidak melorot. 

Saat ujian nasional tiba, Si Goblok ini mengisi bulatan di kolom identitas dan kolom jawaban menggunakan pulpen. Bagaimana? Luar biasa goblok, bukan?

Pengawas ujian pun menegurnya, “Aduh, kenapa ngisinya pakai pulpen?”

“Oh, gak boleh pakai pulpen ya, Bu?” jawab Si Goblok singkat. Dia tidak sadar bahwa perbuatan tersebut berpotensi membuatnya mengulang ujian nasional pada tahun depan. Beruntung, pengawas ujian masih memiliki stok lembar jawaban. Si Goblok ini pun mengisi ulang lembar jawaban menggunakan pensil.

Kisah “Si Tolol”

Jadi kisah Si Tolol ini bermula pada hari Jumat sore. Selepas pulang sekolah, kawan-kawan yang pulang ke arah utara biasanya nongkrong dulu di warung Si Teteh. Lokasi warung Si Teteh berada di pinggir jalan, tepat di seberang sekolah. Nah, teman-teman ini nongkrong sambil merokok.

Kemudian, seorang pengendara motor berhenti tepat di depan warung. Dia bertanya, “Kelas sabaraha, Jang?”

Reuni pada pertengahan 2018. Semakin ke sini, kawan yang datang meluangkan waktu untuk nongkrong semakin menyusut.

“12 MPC, pak,” timpal salah satu kawan. Sebut saja kawan ini Si Tolol. Belakangan diketahui pengendara tersebut merupakan guru BK.

Senin pekan depannya, guru BK datang ke kelas menindaklanjuti peristiwa pada Jumat pekan sebelumnya. Edingnya sudah bisa ditebak, kawan-kawan ini mendapat hukuman: dijemur di lapangan upacara. Kebetulan, salah satu “tersangka” lainnya sedang pergi ke toilet ketika guru BK datang ke kelas.

Menyadari komplotannya sudah digelandang ke lapangan upacara, kawan satu ini dengan kesadaran penuh menyusul mereka. Barangkali inilah yang dinamakan solidaritas.

Urusan Asmara

Pengalaman tak kalah penting lainnya yaitu hal yang berkaitan dengan asmara. Kalau mempunyai rasa suka terhadap perempuan yang masih satu sekolah, lebih baik memendamnya saja. Simpan rapat-rapat. Jangan pernah bercerita kepada siapa pun. Karena kalau teman sekelas tahu, kemudian perempuan yang dimaksud berjalan di depan kelas, maka seisi kelas akan gaduh meneriakkan namanya, meskipun pada saat itu dalam situasi belajar.

Momen kelulusan pada pertengahan 2011. Beberapa di antara kawan ini, kami belum pernah sama sekali berjumpa lagi.

Di sekolah kami, ada beberapa ruang kelas yang didominasi oleh kaca berukuran lebar. Kita bisa mengetahui murid yang berlalu-lalang di depan kelas.

“Bi Sofa Bi Sofa Bi.” Ini adalah salah satu contoh saat kawan di kelas ngefans kepada adik kelas yang bernama Sofa. Kalau sudah begini, salah satu guru favorit kami yang mengampu mata pelajaran matematika akan memperlihatkan baris gigi putihnya ketika menyaksikan kehebohan dan kebahagiaan murid laki-lakinya melihat seorang perempuan melintas di depan kelas.

Exit mobile version