Berbagi Cerita, Merawat Ingatan

Ulasan Novel Ronggeng Dukuh Paruk: Kisah Srintil, G30S, dan Stigma PKI

Novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari menceritakan kehidupan seorang perempuan penari ronggeng. Latar tempat cerita ini berasal dari sebuah kampung yang lekat dengan kesederhanaan, tradisi, dan adat-istiadat. Novel ini merekam sejarah kekerasan di Indonesia yang dipicu peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965.

Jika dibedah lebih dalam, novel Ronggeng Dukuh Paruk memuat isu politik, kesenian, agraria, hingga kemiskinan yang saling berkelindan membentuk stigma terhadap orang-orang yang dituding sebagai simpatisan Partai Komunis Indonesia atau PKI. Pada sebuah masa, mendapat cap PKI ibarat mengundang malapetaka ke dalam rumah. Hingga kini, stigma PKI kepada individu atau kelompok tertentu masih terjadi.

Novel Ronggeng Dukuh Paruk yang saya baca merupakan terbitan Gramedia Pustaka Utama dengan sampul berwarna oranye. Artinya, edisi ini merupakan gabungan dari trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dinihari, dan Jantera Bianglala. Trilogi tersebut terbit secara terpisah pada 1982.

Edisi gabungan ini menghadirkan potongan cerita utuh yang sebelumnya tidak dimuat pada terbitan 1982. Ketika rezim Suharto berkuasa, isu PKI tabu dibicarakan secara terbuka. Gara-gara novel Ronggeng Dukuh Paruk pula, Ahmad Tohari pernah berurusan dengan tentara. 

Srintil dan Kehidupan Ronggeng  

Srintil adalah seorang ronggeng dari Dukuh Paruk, sebuah perkampungan di Jawa Tengah. Usianya sekitar 19 tahun pada 1964. Ia menjadi pelepas dahaga warga Dukuh Paruk yang merindukan kemunculan ronggeng. Pasalnya sudah 12 tahun ronggeng menghilang dari hiruk-pikuk duniawi Dukuh Paruk.

Ronggeng adalah ruh bagi kehidupan Dukuh Paruk. Tanpa ronggeng, kehidupan seperti berjalan begitu lambat. Menyaksikan penampilan ronggeng seperti menjadi medium untuk melepaskan energi kemelaratan yang membelenggu penduduk Dukuh Paruk. Srintil bikin kehidupan di Dukuh Paruk kembali bergairah.

Status sebagai ronggeng lekat dengan urusan “lendir”. Saat mentas, para lelaki dengan syahwat membuncah berupaya untuk berjoget ria. Mampu meniduri ronggeng adalah sebuah prestasi tersendiri dan ampuh mendongkrak status sosial.

“Kedudukan” sebagai penari ronggeng membuat Srintil turut merasakan bagaimana roda kehidupan berputar. Ia sempat didera kesusahan karena ditinggal mati kedua orang tuanya akibat keracunan tempe bongkrek. Selanjutnya, kakek dan neneknya mengambil alih peran dalam merawat Srintil kecil.

Babak kehidupan berikutnya, Srintil mengenal Kartareja, tetua kampung Dukuh Paruk. Berkat tangan dinginnya, Srintil diorbitkan menjadi ronggeng dengan reputasi kinclong di Dukuh Paruk dan wilayah sekitarnya.

Berubah Jadi Ronggeng Rakyat

Keganjilan demi keganjilan perlahan dirasakan Sakarya, kakek Srintil, saat rombongan ronggeng Dukuh Paruk mulai mengenal Bakar. Bakar adalah orang partai. Ia pandai berpidato di hadapan rakyat jelata. Gaya pidatonya berapi-api.

Bakar acap kali mengundang Srintil bersama rombongannya untuk tampil dalam kegiatan partainya seperti acara rapat akbar, baik saat siang maupun malam hari. Namun, Bakar melarang Sakarya melaksanakan ritual pembakaran dupa atau kemenyan menjelang penampilan ronggeng. Padahal sebelumnya, ritual tersebut selalu mengiringi pentas ronggeng di mana pun. Bagi Sakarya, ritual merupakan hal sakral sebagai bentuk penghormatan untuk leluhur Dukuh Paruk. Melarangnya adalah pelanggaran adat yang sangat fatal.

Suatu hari pada 1963, Bakar mengundang rombongan Ronggeng Dukuh Paruk. Ia menyadari bahwa pentas ronggeng dapat menarik massa dalam jumlah besar. Saat berpidato, Bakar selalu menyebut rombongan ronggeng Dukuh Paruk sebagai kelompok kesenian rakyat.

Rumah Sakarya pun dipasang papan nama yang mengidentifikasi ronggeng Dukuh Paruk sebagai kelompok kesenian rakyat. Padahal Sakarya tidak pernah menyematkan nama apa pun terhadap ronggeng Dukuh Paruk. Ronggeng Dukuh Paruk, ya, ronggeng Dukuh Paruk.

Pada 1964 dapat dikatakan sebagai masa keemasan ronggeng Dukuh Paruk. Semakin sering mentas dalam kegiatan partai Pak Bakar, Srintil pun mendapat julukan baru sebagai “ronggeng rakyat”. Perlahan tapi pasti, identitas ronggeng Dukuh Paruk semakin terkikis dengan jenama “ronggeng rakyat”.

Bakar memang pandai mengambil hati. Ia pernah memberikan alat pengeras suara bagi kelompok ronggeng Dukuh Paruk. Ia juga memberikan kain kepada Srintil atau pakaian lengkap untuk Sakum, si penabuh gendang. Bakar juga memasang papan nama partai di mulut jalan Dukuh Paruk.

Di Dukuh Paruk, Bakar menancapkan pengaruhnya melalui berbagai macam propaganda. Ia ingin memperjuangkan masyarakat tertindas untuk mendapatkan haknya. Ia ingin mewujudkan keadilan kepada warga dengan jargon “pembagian tanah yang sama rasa dan sama rata”. Penduduk Dukuh Paruk manut saja dengan sepak terjang Bakar. Mereka belum melek terhadap kontestasi politik.

Dampak Peristiwa G30S di Dukuh Paruk

Awal Oktober 1965, tersiar kabar para tentara dibunuh di Jakarta. Pelakunya dikabarkan mirip dengan orang-orang semacam Bakar. Angin huru-hara di Ibu Kota akhirnya berembus ke Dukuh Paruk. Tak ayal, Dukuh Paruk mulai dilanda kerusuhan, perusakan, dan pembakaran terhadap rumah-rumah yang sebelumnya pernah berhubungan dengan Bakar. Partai yang berkaitan dengan aktivitas Bakar dituduh sebagai dalang pembunuhan para tentara di Jakarta. Suasana Dukuh Paruk pun mencekam.

Kemudian, Srintil dan Kartareja memberanikan diri untuk melaporkan situasi di Dukuh Paruk kepada aparat di kota kecamatan. Maksud hati ingin mencari kedamaian, Srintil dan Kartareja malah terjerembab pada kenyataan pahit: keduanya masuk target pencarian tentara. Tampaknya, Kartareja dan Srintil “kena getah” akibat pergaulannya dengan Bakar.

Dua tahun berselang, Srintil dan Kartareja menghirup udara bebas. Pengalaman di penjara tentu saja mendatangkan trauma bagi Srintil. Pandangan orang-orang terhadapnya berubah drastis. Mereka selalu menghindar saat berpapasan dengan Srintil; takut bernasib sial seperti Srintil. Srintil bagaikan hidup dalam sangkar nestapa.

Stigma PKI yang Menghantui Srintil

Angin segar menghampiri Srintil ketika berkenalan dengan lelaki bernama Bajus. Bajus dan kawan-kawan datang dari kota untuk mengerjakan proyek infrastruktur di Dukuh Paruk. Bajus tertarik kepada Srintil. Lalu, ia melepaskan panah asmara hingga menancap di hati Srintil.

Ikrar suci yang dijanjikan Bajus membuat Srintil semakin mantap menatap masa depannya. Kehadiran Bajus bak hujan yang menyirami tanah gersang Dukuh Paruk sehingga imaji masa depan yang tumbuh dalam diri Srintil mekar dan merona.

Ternyata, realitas tak seindah bayangan Srintil. Upaya Bajus mendekati Srintil hanyalah modus belaka. Bajus berniat menjadikan Srintil sebagai “umpan” bagi bosnya, Blengur. Tujuannya untuk mengegolkan proyek pembangunan. Namun, Srintil bergeming.

“Kamu orang Dukuh Paruk mesti ingat. Kamu bekas PKI! Bila tidak mau menurut akan aku kembalikan kamu ke rumah tahanan. Kamu kira aku tidak bisa melakukannya?” hardik Bajus kepada Srintil karena menolak perintahnya. Mendengar ancaman dan kata ‘PKI’ dari mulut Bajus bak mengorek luka lama yang perlahan telah mengering.

Seketika ingatan Srintil melayang pada momen paling kelam dalam hidupnya saat ia mendekam di penjara akibat dituduh sebagai simpatisan PKI. Srintil terhenyak. Ia seperti terkena sambaran petir di siang bolong. Sukmanya bak mendadak terbang ke angkasa, lalu dihujamkan kembali ke permukaan bumi. Trauma berat masa lalu yang terpantik akhirnya bikin kondisi kejiwaan Srintil terganggu.  

Kesenian dan Tragedi 1965 dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk

Tragedi 1 Oktober 1965 merupakan episode sejarah paling kelam bangsa ini pascakemerdekaan. Dalam sejumlah literatur, rentetan kekerasan yang terjadi setelah peristiwa tersebut menyebabkan ratusan ribu, bahkan ada yang menyebutnya jutaan jiwa dibunuh; hilang tanpa jejak; mengalami kekerasan seksual; disiksa secara tidak manusiawi; dan ditahan tanpa proses peradilan. Mereka dituding menjadi bagian atau simpatisan PKI.

Ada sejumlah karya sastra Indonesia yang menjadikan peristiwa kekerasan 1965 sebagai latar cerita, termasuk novel Ronggeng Dukuh Paruk.

Menelaah sebab-musabab meletusnya peristiwa G30S 1965 begitu kompleks. Apalagi jika mengulik informasi mengenai dalang di balik peristiwa tersebut.  Menariknya, Ahmad Tohari memilih sudut pandang berbeda. Sastrawan asal Banyumas itu mengemasnya jauh dari kesan kerumitan. Tidak pula menyinggung tokoh-tokoh elite yang terseret dalam pusaran tragedi tersebut.

Ahmad Tohari menggambarkan dampak peristiwa G30S yang terjadi di Ibu Kota terhadap kehidupan warga Dukuh Paruk yang dibelenggu kemiskinan melalui tokoh-tokoh proletar macam Srintil, Rasus, Kartareja, Sakarya, Sakum, dan Bakar.

Seperti biasa, Ahmad Tohari menghidupkan cerita melalui detail suasana khas ala perkampungan. Serpihan cerita seperti gesekan suara dedaunan, suara burung, katak yang sedang kawin, maupun potret fauna lainnya, membuat pembaca begitu dekat dengan jalan cerita.

Ahmad Tohari jeli betul membangun plot cerita. Saya menyoroti isu kesenian dan agraria yang mengantarkan pada konflik utama dalam cerita ini. Bakar yang diidentifikasi sebagai bagian dari partai (PKI) “menunggangi” kesenian ronggeng sebagai alat agitasi. Kenapa ronggeng? Karena penampilan Srintil dan kawan-kawan merupakan alat yang ampuh untuk menarik massa dalam jumlah banyak. Tentu saja kesempatan tersebut merupakan angin segar bagi partai untuk meraih dukungan dari kaum proletar.

Tokoh-tokoh yang dihadirkan dari kelompok “kelas bawah” semacam representasi masyarakat lainnya yang mengalami nasib serupa pascaperistiwa G30S di seluruh Indonesia: diburu karena dituding sebagai bagian atau simpatisan PKI atau anasir “kiri”. Padahal banyak di antara mereka yang tidak tahu-menahu soal PKI. Mereka cuma mengekspresikan diri melalui wadah kesenian, misalnya.

Isu Agraria dalam Pusaran Tragedi 1965

Sementara perkara agraria merupakan salah satu isu yang kerap diperjuangkan Barisan Tani Indonesia (BTI)–organisasi yang berafiliasi dengan PKI. Bentuknya dalam land reform atau reforma agraria. Intinya, mereka menggaungkan kampanye redistribusi tanah untuk para petani.

Pada praktiknya, perjuangan redistribusi tanah ini kerap kali memicu konflik horizontal dengan para pemilik lahan atau tuan tanah. Publik mengenalnya dengan istilah “aksi sepihak”. Ahmad Tohari menggambarkan persoalan ini dalam kisah pengrusakan sawah yang dilakukan orang-orang pengikut Bakar.

Kekerasan horizontal yang terjadi setelah meletusnya G30S, salah satu pemicunya, ya, balas dendam para tuan tanah terhadap mereka yang menuntut redistribusi tanah. Narasi konflik makin liar manakala tuan tanah berasal dari kalangan agamis.

Saya kira, novel Ronggeng Dukuh Paruk penting untuk melihat bagaimana mengerikannya dampak stigma simpatisan PKI, khususnya kepada individu yang berasal dari lapisan sosial masyarakat paling rendah.

Kisah Srintil di Dunia Nyata

Pada akhir Agustus 2018 silam, di pinggiran Ibu Kota Jakarta, saya bertemu dengan Tari (bukan nama sebenarnya) seorang perempuan yang lahir sebelum Indonesia merdeka. Nenek berkacamata itu merupakan mantan anggota Pemuda Rakyat–organisasi sayap pemuda PKI. Tari aktif di Pemuda Rakyat karena ingin mengekspresikan hobinya di bidang seni, khususnya dunia tarik suara. Ia sama sekali tidak berhubungan atau tertarik dengan kegiatan politik praktis.

Pascaperistiwa G30S, militer melakukan pembersihan terhadap orang-orang PKI hingga ke akar-akarnya. Tari merasa tenang karena ia tidak terlibat dalam peristiwa G30S.

Mimpi buruk itu datang awal 1967. Aparat militer menangkap Tari di Jakarta. Kisah Tari mengingatkan saya pada sosok Srintil, tokoh utama dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk.

Tari bercerita pada saat penangkapan di rumahnya, aparat membawa seorang  lelaki. Dia merupakan anggota Pemuda Rakyat juga. Tari mengenal betul lelaki tersebut. Menurutnya, lelaki itu pernah mengungkapkan perasaan cintanya, namun Tari menolaknya. Ternyata lelaki itu ditangkap lebih dahulu oleh aparat. Sampai di sini paham kan mengapa Tari bisa ditangkap?

Tari ditempatkan dari satu penjara ke penjara lain. Namun, lokasinya masih berada di wilayah Jakarta. Ia paling lama mendekam di penjara Bukit Duri. Total ia menjalani masa tahanan selama 11 tahun. Aparat tidak pernah melakukan proses peradilan kepada dirinya. Aparat hanya menilai bahwa aktivitas Tari di organisasi Pemuda Rakyat merupakan kesalahan besar sehingga ia layak dijebloskan ke penjara.

Tari ialah potret buram penyintas kekerasan ‘65. Nasibnya dapat dikatakan “lebih beruntung” dibandingkan dengan mereka yang dibuang ke Pulau Buru, Maluku; kamp Plantungan, Jawa Tengah; hilang tanpa jejak; meregang nyawa di ujung bedil; atau lehernya ditebas parang.

Keluar dari penjara barangkali merupakan sebuah kebebasan. Namun, tidak dengan Tari. Baginya hal ini merupakan awal dari sebuah penderitaan panjang yang dirasakan sampai detik ini. Stigma simpatisan PKI masih menyisakan trauma. Sampai sekarang Tari menghindar untuk berbaur dengan lingkungan sekitar.

Tari pelan-pelan mencoba melepaskan rasa trauma dengan tergabung dalam kelompok paduan suara. Para personelnya merupakan eks tahanan politik ‘65 dan keturunannya atau disebut generasi kedua. Saat pentas, paduan suara ini sering melantunkan lagu yang dulu pernah dinyanyikan atau diciptakan para penyintas ‘65 saat berada di dalam tahanan.

“Dengan berkumpul bersama-sama itu bisa cerita bebas. Itulah yang hilang (trauma). Bisa lega. Bisa ngomong,” kata Tari.

Mengapa Novel Ronggeng Dukuh Paruk Tetap Relevan?

Pada pekan terakhir Agustus 2026, kelompok massa dari Pati, Jawa Tengah, menggelar demonstrasi di Gedung DPR, Jakarta. Siang harinya, para demonstran ini balik kanan. Namun, di lapangan tetap terjadi kerumunan pendemo entah dari kelompok mana. Sore harinya terjadi kericuhan antara kelompok massa dengan aparat. Kondisi ini berlangsung hingga dini hari.

Semakin malam situasinya makin aneh setelah kelompok ormas datang nimbrung dan bersikap ofensif terhadap kelompok massa lainnya. Belakangan ormas ini mendapat sorotan tajam dari masyarakat sipil. Salah satu pengurus ormas tersebut lalu melemparkan pernyataan kontroversial ke publik, bahwa yang memicu kericuhan adalah “gerombolan PKI”.

Nah, di sinilah novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari menemukan relevansinya. Novel ini seperti kompas; memberi petunjuk untuk memahami kekerasan 1965 secara utuh agar jari ini tidak serampangan menunjuk orang lain sebagai PKI. “Kompas” tersebut semacam bekal bagi kamu agar tidak gampang terprovokasi oleh bacot kebangkitan komunisme atau bahaya laten PKI atau gerombolan PKI yang keluar dari mulut orang-orang medioker. 

Exit mobile version