Berbagi Cerita, Merawat Ingatan

Melambat Sejenak di Baduy Luar Sekaligus Belajar Budaya Baduy

Rumah warga baduy Luar

Baduy Luar yang terletak di Desa Kanekes, Lebak, Banten, bisa menjadi pilihan alternatif untuk melambat sejenak dari urusan duniawi. Kupingmu dijamin dijauhkan dari suara bising lalu-lalang kendaraan atau jedak-jeduk suara rombeng karokean dari tetangga sebelah atau raungan mesin pemotong keramik.

Menginap di rumah warga tanpa aliran listrik bikin waktu seperti berputar lebih pelan. Pagi harinya, udara segar datang menyambut bersamaan dengan suara kokok ayam atau cericitan jangkrik.

Saat berkunjung ke Baduy Luar pada 22-23 Agustus 2026 lalu ternyata berbarengan dengan musim panen durian. Jadi, usai matahari mulai menerangi permukiman, sejumlah warga laki-laki, mulai dari anak-anak hingga orang tua bergegas menuju hutan. Mereka kembali dari hutan sambil memanggul durian.

Warga menjajakan hasil dari hutan seperti buah durian, buah manggis, dan madu kepada para pengunjung yang mendatangi Baduy Luar. Salah seorang penjual durian sempat menawarkan enam buah durian dengan harga Rp 100 ribu saja.

Warga Baduy Luar memanggul durian yang baru saja dipanen dari hutan.

Belajar Budaya Baduy

Ini merupakan ketiga kalinya saya berkunjung ke Baduy Luar. Kesempatan kali ini merupakan bagian dari acara Belajar Budaya Baduy yang diselenggarakan Balai Pelestarian Kebudayaan Banten. Sebelumnya, sayembara yang dilakukan Balai Pelestarian Kebudayaan Banten menjaring 546 pendaftar. Yang terpilih cuma 40 orang saja. Sebagian besar peserta berasal dari wilayah Jabodetabek. Sisanya datang dari Serang, Pandeglang, Bandung, Cirebon dan terjauh dari Yogyakarta.

Panitia menanggung konsumsi dan akomodasi, termasuk uang pengganti transport. Sebagian besar peserta berangkat bareng dari Kantor Balai Pelestarian Kebudayaan Banten di Kota Serang, Banten. Sejumlah peserta yang berasal dari Jabodetabek dijemput di Alun-alun Rangkasbitung.

Peserta Belajar Budaya Baduy menyimak diskusi yang menghadirkan Kepala Desa atau Jaro Kanekes.

Selama dua hari satu malam peserta mengikuti rangkaian kegiatan seperti melihat proses penyadapan nira di hutan, mengamati proses pengolahan air nira, menikmati kesenian tradisional Angklung Buhun, dan belajar membuat gelang serta koja yang bahannya berasal dari kulit pohon teureup.

Saya dan ketiga peserta lainnya “menambah” porsi mata acara pada hari kedua. Usai salat Subuh, kami trekking menuju jembatan bambu di Kampung Gajeboh. Perjalanan ditempuh sekitar satu jam dengan melewati kebun durian. Sesekali diselingi naik dan menuruni bukit.

Di sepanjang jalan, saya meyaksikan geliat kehidupan Baduy pada pagi hari. Saya beberapa kali berpapasan dengan warga yang pergi ke ladang bersama balitanya. Di beberapa rumah, terlihat pula laki-laki maupun perempuan dewasa menggelar barang dagangan di beranda rumah. Ada pula anak-anak yang bermain bola di halaman rumah yang masih beralasakan tanah. Pokoknya begitu syahdu. Kendati kaki pegal-pegal, tapi di sepanjang perjalanan sangat menyenangkan.

Suasana Sungai Ciujung yang berada di Kampung Gajeboh di wilayah Baduy Luar. Penduduk setempat memanfaatkan aliran sungai untuk aktivitas sehari-hari seperti mencuci.

Pulang Membawa Segudang Pengalaman

Sesi diskusi dengan sejumlah pemangku kepentingan, mulai dari Kepala Desa Kanekes, pejabat Kementerian Kebudayaan dan pejabat Disbudpar Lebak perlu mendapat sorotan. Momen diskusi ini menarik karena membahas topik “Budaya Urang Baduy”, “Perlindungan Budaya dan Tradisi di Baduy”, dan “Pembinaan Generasi Muda di Baduy”.

Output dari acara ini adalah para peserta diminta membuat konten sesuai dengan ide yang diajukan saat pendaftaran. Nah, latar belakang peserta ini beragam. Ada mahasiswa, ASN, karyawan swasta, MC, blogger, kreator digital, desainer arsitektural, content writer, ilustrator, dan pegiat teater. Jika kamu penasaran, konten Belajar Budaya Baduy bisa kamu lihat di highlight Instagram Balai Pelestarian Kebudayaan Banten.

Peserta kegiatan Belajar Budaya Baduy berpose di beranda rumah penduduk.

Perjalanan ke Baduy Luar kali ini memang terasa singkat. Tapi saya memperoleh sejumlah pengalaman memukau: bisa mengambil jeda sejenak dari rutinitas sehari-hari yang dituntut serba cepat, melihat cara hidup masyarakat adat Baduy yang berdampingan dengan alam, dan tentunya bertemu orang-orang baru yang memiliki perspektif segar dan unik dalam memproduksi konten media sosial.

Exit mobile version